Gila Medsos


Banyak orang berlomba-lomba mendapatkan ‘friends’ atau ‘followers’ di medsos. Makin banyak teman, makin banyak pengikut, makin keren, katanya. Gelembung diri makin melambung, merasa populer, merasa jadi pemimpin (?).

Memang ada untungnya sih punya banyak teman dan pengikut di medsos. Kalau kamu mau jualan, banyak potensi pembeli; kalau kamu butuh pertolongan, banyak juga yang berpotensi menolong. Punya banyak teman dan pengikut juga bisa jadi hiburan, terutama kalau kamu lagi kesepian, bete, jomblo, atau lagi sakit dan harus dirawat di rumah sakit, atau lagi dipenjara (siapa tahu kamu kebetulan pejabat yang ketahuan korupsi dan ditangkap sama KPK … he .. he …).

Punya banyak teman dan pengikut mungkin bisa juga bikin kamu masuk surga. Tahu kenapa?

Ya, misalnya kamu mati, terus teman-teman dan pengikut-pengikut kamu pada tahu kalau kamu mati, mungkin mereka akan ikut mendoakan. Kata pak kiai juga kan, kalau orang mati didoakan sama 40 (eh atau 100 ya?) orang (yang ikhlas), pasti dosa-dosanya diampuni sama Tuhan. Jadi, ya kamu bisa masuk surga deh.🙂

Oh iya, punya banyak teman dan pengikut di medsos juga bikin kamu lebih mudah kalau mau nyaleg atau nyapres (atau nyakades, nyakaerte dan nyakaerwe juga boleh). Kamu bisa menggalang dukungan dari teman-teman dan pengikut-pengikut kamu. Siapa tahu. Kamu lihat kan, capres-capres sekarang sudah pada sibuk menggalang dukungan di medsos? (Ya, meskipun akun-akun mereka bukan mereka yang bikin dan maintain, kaya kita. Katanya sih mereka ngeluarin ratusan juta, bahkan miliaran buat main di medsos kayak kita — padahal, kita mah gratis, kan?)

Tapi apa betul, punya banyak teman dan pengikut di medsos cuma banyak untungnya doang?

Ya, pasti ada lah ruginya. Semakin banyak teman, semakin banyak pengikut, kamu jadi semakin sibuk apdet dan ‘berbalas pantun’ dengan mereka. Kamu jadi lupa sekolah, lupa bikin pe er, lupa kuliah, lupa ngerjain tugas, lupa pekerjaan, lupa pacar, lupa istri/suami, dan ujung-ujungnya bisa jadi juga lupa diri.

Kebanyakan teman dan pengikut di medsos juga bisa bikin kamu masuk neraka, kalau kamu jadi lupa salat dan lupa ngaji. Apalagi kalau sampai lupa sama Allah.

Dan … (warning: yang ini serius), punya banyak teman dan pengikut di medsos bisa bikin kamu terombang-ambing: kalau tren lagi ke sana, kamu ikut ke sana; kalau tren lagi ke sini, kamu ikut ke sini — yah kayak pohon yang ketiup angin gitu lah.

Emang rugi kalau ikutan tren? Bukannya justru trendi (eh, trendy ya Inggrisnya?)?

Iya sih, bisa, bisa untung. Trendi kan keren. Tapi kalau kalau ditiup kesana kemari kayak pohon, berarti kamu tak punya pendirian dong? Lebih parah lagi, kamu bisa kehilangan jati diri kamu. Semua pikiran dan perasaan kamu cuma refleksi (pantulan) tren sosial. Kalau orang ramai-ramai mengidolakan selebriti, kamu juga ikut mengidolakan dia; kalau orang ramai-ramai mengutuki seseorang/sesuatu, kamu juga ikut mengutukinya. Kamu jadi engga bisa berpikir sendiri, lupa untuk jadi kritis, takut pada perasaan dan sikapmu sendiri…

Kalau kamu berbeda, kamu takut teman-teman dan pengikut-pengikut kamu bakal nganggap kamu neko-neko, nyeleneh, terus ninggalin kamu.

Emang engga semua orang jadi begitu sih. Tapi coba pikir.

3 pemikiran pada “Gila Medsos

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s