Skeptis, Kritis, Analitis, Manis


Saya kadang-kadang sedih melihat orang-orang menerima begitu saja pernyataan, berita, atau apapun yang diceritakan kepada mereka. Apalagi kalau hal-hal yang mereka terima itu dijadikan dasar bagi pengambilan keputusan atau sikap. Hoax, berita bohong, yang diterima sebagai kebenaran, lalu disebarluaskan, dan diterima secara membabibuta oleh orang banyak, sangat berbahaya.

Kemarin saya mendapati setidaknya dua posting teman di FB dan Twitter yang membagikan dua tautan yang, setelah saya periksa, mengandung kebohongan dan/atau menyembunyikan sebagian kebenaran (partial truth).

Bagi orang-orang yang agak jeli dan mau sedikit berpikir, ciri-ciri teks semacam itu sebenarnya bisa dengan mudah diketahui: logikanya putus-putus dan dipelintir alias tidak koheren, bukti-bukti yang diberikan tidak bisa ditelusuri asal-usulnya atau berasal dari sumber-sumber yang meragukan, dan klaim yang dilakukan terlalu besar — tanpa pengecualian dan kehati-hatian. Selain itu, berita bohong atau propaganda biasanya cenderung menggunakan kata-kata yang merangsang afeksi dan emosi, hingga nyaris membutakan kognisi dan melumpuhkan logika; dan, dalam hal perseteruan antarkubu, fakta-fakta yang digunakan untuk mendukung sebuah posisi seringkali terlihat timpang, berat sebelah.

Kira-kira begitu. Ringkasnya begitu.

Mendekati musim pemilu di tahun 2014 ini, praktik-praktik komunikasi yang menyesatkan akan semakin sering muncul. Praktik-praktik semacam itu umum dan sengaja digunakan oleh para kandidat yang memperebutkan kursi politik — kadangkala atas saran para ahli ilmu komunikasi — untuk mengameliorasi citra si calon di mata publik dan menggiring massa ke sebuah pilihan atau sikap yang menguntungkan si calon.

Agar kita tidak merasa tertipu nanti ketika nasi sudah jadi bubur — kita memilih orang yang berkesan baik, hebat, namun dikemudian hari ternyata buruk dan mengecewakan — ada baiknya kita mengembangkan sikap skeptis: mulailah dengan sikap tidak percaya pada apapun yang disodorkan kepada Anda (skeptis), lalu teliti dan dalami (kritis, analitis), dan ketika Anda sudah yakin, ambilah sikap dan pilihan yang ‘manis’.

Apa yang ‘manis’ (dalam tanda kutip) bagi Anda, tentu tidak selalu dianggap atau dirasakan manis oleh orang lain. Pertimbangan orang dalam memilih dan bersikap tentu berbeda-beda — tergantung tingkat pengetahuan dan apa kepentingannya. Keberagaman adalah keniscayaan, fitrah ilahiah, yang sudah ada sejak anak-anak Nabi Adam. Kita, sebagai keturunannya, hanya meneruskan. Habil dan Qabil, yang lahir dari rahim yang sama dan dari benih yang sama, memiliki sikap yang berbeda tentang hal yang sama. Orang yang memusuhi dan menentang perbedaan dan keragaman pada dasarnya lupa pada asal-usulnya sendiri dan mengingkari fitrah yang telah ditetapkan Tuhan atas manusia.

Baik, cuma itu saja yang ingin saya sampaikan hari ini:

Mulailah dengan rasa tidak percaya (skeptis), lalu teliti dan dalami (kritis, analitis), maka ketika kau percaya, kepercayaan itu akan terasa manis. Kau tak akan diombang-ambingkan lagi oleh ombak, dan angin yang membuat ombak.

2 pemikiran pada “Skeptis, Kritis, Analitis, Manis

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s