Keramahtamahan, Jamuan Makan, dan Sejarah


Soal keramahtamahan, saya yakin semua bangsa ramah. Caranya mungkin berbeda-beda, namun sebagai mahluk sosial, manusia pada dasarnya selalu ingin berbagi dan terhubung dengan manusia-manusia lain. Selama kita baik dan menghargai orang lain, orang lain pun akan baik dan menghargai kita.

Sudah hampir empat bulan saya tinggal di Polandia, dan meskipun saya belum bisa mengimersikan diri sepenuhnya ke dalam masyarakat negara ini karena hambatan bahasa, saya sudah bisa merasakan ekpresi kehangatan, persahabatan, dan keramahtamahan masyarakatnya.

Selama tinggal di sini, paling tidak sudah tiga kali saya diajak oleh siswa-siswa saya untuk mengenal kekhasan budaya mereka. Pertama, dulu pada waktu mereka merayakan Wszystkich Swietych (hari raya bagi orang-orang yang telah wafat atau All Saints Day), dan dua minggu terakhir ini pada waktu mereka merayakan Natal.

Tentu mereka tahu saya bukan umat Kristiani, dan oleh karena itu saya diundang bukan untuk merayakan ritual keagamaannya, melainkan untuk merasakan aspek budaya masyarakatnya saja.

Tanggal 26 Desember saya diundang untuk makan siang di rumah keluarga seorang siswa saya di pinggir kota Warsawa. Jamuan Natal dengan makanan-makanan khas Polandia yang terbuat dari ikan dan sayur-sayuran (orang Polandia secara tradisi tidak makan daging di hari pertama Natal). Dan tanggal 8 Januari kemarin, siswa-siswa dari dua kelompok yang berbeda sengaja mengorganisir jamuan makan untuk saya di sebuah kedai kopi di Wilsona Park. Sama dengan jamuan yang pertama, jamuan ini juga diisi dengan makanan-makanan khas Natal. Kali ini jenis dan jumlahnya lebih banyak, karena beberapa siswa sengaja memasak dan membawa makanan untuk acara ini.

Acara makan-makan dengan siswa di sebuah kedai kopi di Plac Wilsona, Warsawa, 8 Januari 2014.
Acara makan-makan dengan siswa di sebuah kedai kopi di Plac Wilsona, Warsawa, 8 Januari 2014.

Di kedua acara jamuan itu, ada yang saya amati, yaitu kesukaan orang-orang Polandia untuk mengobrol tentang sejarah (dan politik) setelah makan. Awalnya hal yang diberitahukan oleh siswa yang mengundang saya untuk makan siang dengan keluarganya ini saya anggap sebagai anekdot saja. Namun setelah dua kali mengalaminya, saya kurang lebih bisa mengamini pernyataannya.

Setelah makan dengan keluarganya tempo hari, kami mengobrol panjang lebar tentang sejarah kota Warsawa. Bapak dan ibunya bahkan sempat mengeluarkan beberapa buku koleksi mereka untuk menunjukkan beberapa dokumentasi sejarah yang sedang kami obrolkan. Pada acara jamuan makan dengan siswa-siswa saya kemarin lusa, hal itu terjadi lagi. Kali ini yang kami obrolkan lebih luas lagi, yaitu tentang sejarah dan sifat masyarakat Polandia. Cukup panjang juga kami mengobrol, sampai kedai hampir tutup.

Dalam obrolan-obrolan seperti ini, setiap orang bisa mengemukakan apapun yang mereka ketahui dan pendapatnya sendiri-sendiri. Dalam satu keluarga pun, pendapat yang berbeda-beda tak menjadi persoalan. Berdebat juga biasa. Suasana tetap (atau justru menjadi lebih) akrab.

Hal itu tentu menarik untuk saya, karena kebetulan saya juga sejarah dan suka membaca. Acara makan-makan bukan cuma soal mengisi perut, beramah-tamah, atau berbual-bual, tapi juga soal berbagi wawasan yang mencerdaskan dan mencerahkan.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s