Kamera dan Cara Melihat


Di antara banyak kutipan tentang fotografi, inilah barangkali yang pertama paling mengena di hati saya:

“The camera is an instrument that teaches people how to see without a camera.” ~ Dorothea Lange

“Kamera adalah alat yang mengajari orang cara melihat tanpa kamera.”

Sudah beberapa kali saya menulis tentang ini: keyakinan bahwa fotografi bukanlah soal kamera atau alat, melainkan tentang cara melihat. Orang bisa menggunakan kamera apa saja dan tetap bisa menghasilkan foto-foto bagus, asal dia tahu bagaimana cara melihat dan terasah cara melihatnya, seperti kamera.

Dengan cara melihat yang terasah, orang bahkan bisa membuat foto “abstrak” (intangible) tanpa kamera. Foto semacam ini tentu saja tidak bisa diperlihatkan kepada orang lain, karena hanya disimpan di memori kepalanya saja. Namun, kualitas dan keindahannya bisa jadi tak kalah dengan foto-foto yang dapat dicetak dan diperlihatkan kepada orang lain.

Inilah apa yang kadang-kadang saya sebut sebagai “conceptual photography; Ya, saya tahu, fotografi konseptual tidak persis seperti itu pengertian jamaknya. Itu hanya istilah saya saja: di dalam benak, kita bisa menciptakan foto dalam bentuk konsep — yang tentu saja intangible — ketika atau setelah kita melihat sesuatu melalui mata kita.

Orang yang tidak terasah cara melihatnya melihat stimulus-stimulus visual di sekitarnya seperti dia melihat dunia sehari-hari dengan kedua matanya: campur aduk (blurred), tanpa struktur, dan nyaris tanpa kesadaran ruang dan keterhubungan antar setiap elemen yang terlihat oleh matanya — semua datar, semua sama saja, semua biasa-biasa saja, tak ada yang menonjol, tak ada yang menjadi jangkar atau memainkan peran utama, dan tak ada yang menjadi periferal atau memainkan peran pendukung.

Umumnya orang baru sadar akan hal-hal tersebut ketika dia berhadap-hadapan dengan sebuah karya foto yang membuatnya terkesima. Pada saat itu dia seperti dibangunkan dari mimpi, atau justru masuk ke alam mimpi: “Waaaah …. indah sekali ya? Padahal saya setiap hari melewati tempat ini … melihat ini …, kok bisa yaa?”

Mereka tidak sadar bahwa melihat dengan mata dan melihat dengan (melalui) kamera adalah dua hal yang berbeda. Karena keterbatasannya, kamera membatasi cara pandang kita. Namun justru karena itu, ia membuat kita menjadi lebih fokus, lebih sadar akan elemen-elemen visual yang ada di sekitar kita dan bagaimana elemen-elemen itu berinteraksi dalam ruang yang lebih padat (compacted space) sehingga kita bisa merasakan iramanya yang menggetarkan kalbu kita.

Begitulah cara kamera mengajarkan kepada kita cara melihat.

Eki Akhwan,
Warsawa, 14 Januari 2014

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s