Simbol, Kampanye dan Bunglon


“Keran keterbukaan dan kebebasan tanpa saringan yang baik tak hanya memasukkan bandeng ke dalam tambak, namun juga piranha, hiu, dan buaya.”

Empat hari yang lalu, saya menuliskan status di akun Facebook dan Twitter saya yang bunyinya kurang lebih seperti ini:

Entah kenapa, saya suka tetiba pengen muntah kalau lihat baliho/poster politisi yang tersenyum-senyum di pinggir jalan, apalagi kalau dia menggunakan simbol-simbol agama seperti sorban, jubah, jenggot, dll.

Yang saya lihat bukan gambar orang-orang tulus, dengan kata-kata dan senyum yang tulus, tapi para penjual diri. Kenapa ya?

Kata “muntah” terasa agak keras barangkali, namun saya kira orang tahu bahwa itu adalah metafora bagi perasaan jijik yang akut atas praktik yang saya gambarkan.

Ternyata status itu diamini dan direspon oleh cukup banyak teman. Belasan komentar dan lebih dari empat puluh ‘like’ (jika tanda jempol itu bisa dianggap sebagai tanda setuju) menunjukkan bahwa saya tidak sendiri dalam hal ini.

Enam belas tahun yang lalu ketika rezin otoriter tumbang dan Reformasi mulai bergulir, pemilihan umum yang langsung menimbulkan eforia dan harapan bahwa kebebasan dan keterbukaan akan memungkinkan kita untuk memilih pemimpin-pemimpin yang terbaik. Kompetisi terbuka, kebebasan bersuara, dan transparansi proses diyakini bisa menjadi obat dari penyakit-penyakit yang ditimbulkan oleh Orde Baru yang merekayasa kompetisi, membungkam kebebasan bersuara, dan menggulirkan proses di balik kelambu.

Ternyata kita salah perhitungan. Atau, memang demikianlah sifat eforia — membutakan mata melihat secara jernih segala kemungkinan yang seharusnya dapat diperkirakan dan diperhitungkan.

Keran keterbukaan dan kebebasan tanpa saringan yang baik tak hanya memasukkan bandeng ke dalam tambak, namun juga piranha, hiu, dan buaya.

Kini kita tahu, dan mungkin sedang belajar, bahwa kebebasan dan keterbukaan menuntut kita menjadi cerdas. Tanpa itu, kita tak punya saringan dan jaminan bahwa piranha, hiu, dan buaya tak akan ikut masuk ke dalam tambak kita. Sayangnya, kita sudah membayar terlalu banyak untuk kealpaan kita: di kolam kita sekarang telanjur telah masuk predator-predator yang tak kita inginkan, bukan cuma ikan-ikan yang akan mendatangkan keuntungan untuk kita.

Dapat dibayangkan betapa sulitnya membersihkan tambak yang sudah telanjur tercemari oleh mahluk-mahluk predatoris, meskipun bukan berarti tidak mungkin. Dengan kerja keras dan cerdas, pelan-pelan mungkin kita akan bisa membersihkan tambak kita.

Kembali ke soal kampanye, baliho dan poster itu:

Rasa jijik itu kita pelajari dari pengalaman seumur jangung. Sekarang kita sadar (meskipun sebelumnya kita mungkin sudah mafhum) bahwa senyum tidaklah selalu bermakna kebaikan dan ketulusan, dan jubah, sorban, dan jenggot bukanlah penanda pasti kesalehan dan keterpercayaan, amanah. Kedua-duanya hanyalah penjelmaan fisik, simbol. Dan sebagaimana simbol-simbol lain, mereka hanyalah mitos yang menyembunyikan kompleksitas. Simbol bersifat mengelabuhi. Simbol adalah kekosongan yang netral. Kitalah yang memaknainya melalui proses manasuka yang dilembagakan lewat konsensus.

Karena sifatnya yang kosong dan netral itulah, ia bisa dipakai oleh siapa saja. Jubah dan sorban bisa menjadi pakaian para alim ulama yang saleh dan amanah, namun juga bisa dipakai oleh para predator yang menginginkan keuntungan bagi diri mereka sendiri. Simbol memungkinkan kita menjadi bunglon yang mewarnai diri sesuai dengan lingkungan kita.

Baliho dan poster yang menampilkan keperlentean, senyum, dan simbol-simbol kesalehan, kita seharusnya tahu, bukanlah hal yang sesungguhnya. Mereka bersifat representatif, simbolik, dan oleh karena itu ada kemungkinan bunglon-bunglon bersembunyi di baliknya.

Eki Akhwan,
Warsawa, 17 Januari 2014

3 pemikiran pada “Simbol, Kampanye dan Bunglon

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s