Catatan Hitam “Academy Awards”


Oleh Eki Akhwan

Apakah ini pertanda bahwa anugerah “Academy Awards” bersifat rasis?

Academy Award of Merit (Piala Oscar). (Sumber gambar: Wikipedia)
Academy Award of Merit (Piala Oscar).
(Sumber gambar: Wikipedia)

Para penggila film, terutama film Barat, pasti mengenal baik “Academy Awards” dan Piala Oscar-nya. Hampir dapat dipastikan pula mereka sudah mengetahui daftar nominasi film-film unggulan yang akan berlomba mendapatkan Oscar tahun ini — yang pengumumannya sudah dilakukan pada tanggal 16 Januari lalu. Hari H upacara pengumuman pemenang dan penganugerahan pialanya pun, mungkin sudah mereka catat dan tandai dengan spidol merah di kalender — Ahad, 2 Maret, pukul 4 sore waktu Hollywood, atau pukul 7 pagi WIB.

Bagi non-penggila sekalipun, yang menonton film hanya sebagai hiburan pengisi waktu luang, kata “Academy Awards” dan Piala Oscar nyaris tak asing lagi, karena pemberitaan mengenainya ada di mana-mana. Hanya saja mungkin mereka tidak tahu banyak tentang seluk-beluk acara itu.

“Academy Awards” atau lebih dikenal sebagai Oscars adalah anugerah tertinggi di bidang industri perfileman yang diberikan oleh AMPAS (Academy of Motion Picture Arts and Sciences).

[*Wah, lembaganya keren tapi kok namanya ampas, ya? Hihihi …*]🙂

Anugerah ini mulai diberikan sejak tahun 1929. Oscars tahun 2014 ini adalah Oscars ke-86.

Sepanjang sejarahnya, ribuan Piala Oscar telah diberikan kepada insan-insan industri perfileman. Konon jumlahnya sudah berkisar di angka 3000-an hingga tahun ini. Piala sebanyak itu diberikan sebagai tanda penghargaan bagi sekitar 2000-an prestasi di dunia perfileman, termasuk di dalamnya prestasi yang diraih oleh 291 pelakon (performers/actors or actresses).

Namun di balik gempita dan gemerlapnya acara ini, ada satu catatan hitam yang tak banyak diketahui publik, yaitu kecenderungan AMPAS untuk memberikan penghargaan kepada insan-insan perfileman berkulit putih alias ras kaukasoid (Caucasian).

Apakah ini pertanda bahwa anugerah “Academy Awards” bersifat rasis?

Saya tidak akan menjawab secara langsung pertanyaan ini. Namun berdasarkan bukti-bukti yang saya kumpulkan dari berbagai sumber, inilah fakta yang saya dapatkan:

Dari 291 pelakon yang pernah mendapatkan Piala Oscar, hanya 14 orang berkulit hitam saja yang pernah mendapatkannya — kurang dari 5 persen. 14 orang itu mendapatkan penghargaan masing-masing untuk kategori aktor terbaik (4 orang), aktis terbaik (1 orang), aktor pembantu terbaik (4 orang), dan aktris pembantu terbaik (5 orang).

Pada kategori-kategori lain, penghargaan bagi orang-orang kulit berwarna bahkan nyaris tak ada. Hingga hari ini belum pernah ada orang berkulit hitam yang memenangkan Piala Oscar untuk kategori produser, penyutradaraan, sinematografi dan editing. Satu-satunya penghargaan yang pernah diraih oleh orang berkulit hitam di luar bidang kepelakonan adalah di bidang penulisan skenario (Geoffrey S. Fletcher untuk Filem “Precious”, pada tahun 2009).

Orang bisa saja berargumen bahwa itu sebuah kebetulan saja. Namun sebuah penelitian yang dilakukan oleh The Los Angeles Times pada tahun 2012 mengungkapkan bahwa di antara 5.783 orang anggota AMPAS yang berhak memilih (suara merekalah yang menentukan siapa memenangkan apa), 94 persen (atau lebih dari 5.100 orang) di antaranya adalah orang berkulit putih.

Apakah fakta itu memengaruhi preferensi mereka?

Bisa jadi. Meskipun secara hukum perbudakan telah dihapuskan dari bumi Amerika sejak pertengahan abad ke-19 (melalui Proklamasi Emansipasi oleh Presiden Abraham Lincoln pada tahun 1863 dan pengesahan Amandemen Ketigabelas Konstitusi Amerika pada tahun 1865), sisa-sisa rasialisme masih terus beriak dalam kehidupan masyarakat Amerika. Diskriminasi rasial masih secara eksplisit terjadi hingga tahun 1960-an. Bahkan di awal abad ke-21 pun, ketika Amerika Serikat untuk pertama kalinya dipimpin oleh presiden berkulit hitam, segregasi rasial de facto masih terjadi dalam berbagai bentuknya.

Dalam kaitan ini menarik untuk dilihat apa yang terjadi di dunia perfileman Amerika setahun belakangan ini. Tahun 2013 adalah tahun “hitam”: tercatat tiga filem bertemakan orang Amerika Afrika yang mendapat review positif dan meraup penonton terbanyak (box office), yaitu “Lee Daniels’ The Butler”, “Fruitvale Station”, dan “Twelve Years a Slave”. Meskipun demikian, hanya satu saja di antara film-film itu yang akhirnya mendapatkan nominasi untuk Piala Oscar tahun ini, yaitu “Twelve Years a Slave”.

Kita tunggu saja apakah “Twelve Years a Slave” yang disutradarai oleh Steve McQueen (orang berkulit hitam), naskah skenarionya ditulis oleh orang berkulit hitam (John Ridley), dan tentu saja dibintangutamai oleh aktor berkulit hitam (Chiwetel Ejiofor) ini akan mampu menyabet Oscar di salah satu kategori itu di tahun ini.

4 pemikiran pada “Catatan Hitam “Academy Awards”

  1. sama halnya dengan dunia persepakbolaan pak. Ballon D’or atau anugerah untuk pemain terbaik di dunia hampir selalu diraih oleh pemain kulit putih. Dalam kurun waktu dua puluh tahun terakhir, hanya satu saja pemain kulit hitam yang dianugerahi Ballon D’or, pun para nominasinya didominasi oleh para pemain berkulit putih.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s