Gravitasi Cinta


Wahai Cinta:

Aku seperti bulan yang kau lihat itu, dingin tanpa kehidupan, tanpa cahaya. Hanya cahayamulah yang membuatku terang: kaulah matahariku yang setia meminjamkan cahayamu padaku saat gelap mendekap malam.

Ya, aku tahu, kadang aku bersembunyi malu, hingga cahayamu tak mencapaiku. Tapi hatimu adalah orbitku. Ialah bumiku yang menahanku dari gerak tak tentu arah, hilang mengawang di samudera kegelapan.

Aku memandangmu dengan takjub, penuh cinta, walau aku tak sanggup menggapaimu, merengkuhmu, memelukmu. Gravitasi cintalah yang menghubungkan kita, hati kita, gerak kita, tarian kita pada semesta raya: tarian matahari, bulan, dan bumi — tarian hati dan jiwa dari raga yang terpisah jarak.

Tetaplah setia padaku, seperti ku setia padamu.

Lihatlah gejolak di lautan hatimu, saat aku ada, saat aku tiada.

Aku tak sedang jatuh cinta padamu. Aku hanya cinta, tanpa jatuh, karena jarak inilah ikatan kita, gravitasi yang menahan kita dari merepih hilang tak berbilang.

Warsawa, 22 Januari 2014,
Eki Akhwan

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s