Dosa, Realitas, dan Revolusi


Sebelum cuaca menjadi terlalu dingin seperti sekarang, saya suka berjalan-jalan ke taman. Taman adalah salah satu hiburan saya di sini selain buku, internet, dan memotret. Saya tidak terlalu suka pergi ke mal atau menonton televisi. Di tanahair saya kadang-kadang suka ke kafé. Di sini saya hampir tidak pernah ke kafé karena alasan penghematan dan lain-lain.🙂

Beberapa waktu lalu, saat saya berjalan-jalan ke Taman Łazienski, saya menemukan bangku-bangku dengan tulisan-tulisan menarik. Ini salah satunya:

Sin is a Means of Social Control

Dosa adalah alat kontrol sosial.
Gagasan revolusi adalah fantasi orang-orang yang belum dewasa.
Simbol lebih bermakna daripada hal-hal yang disimbolkannya.
Kadang-kadang ilmu pengetahuan lebih cepat maju dari yang semestinya.
Mementingkan diri sendiri adalah motivasi paling azasi.
Tidak ada sesuatupun kecuali apa yang dapat kau inderai.

Bangku ini tidak berada di dalam taman, melainkan di halaman sebuah bekas kastil yang sekarang menjadi gedung Pusat Seni Kontemporer (Bahasa Polandianya: Centrum Sztuki Współczwsnej Zamek Ujadowski). Zamek Ujadowski adalah nama kastil itu. Zamek berarti kastil. Letaknya di atas, di dekat pintu masuk Taman Łazienki, yang dulu merupakan kompleks istana pemandian raja-raja dan kaum bangsawan. Łazienki sendiri berarti pemandian.

Di antara gagasan-gagasan dalam kalimat-kalimat itu, beberapa di antaranya saya kenal cukup baik dari buku-buku yang pernah saya baca dan mata kuliah American Intellectual History yang saya ambil waktu kuliah di Amerika dulu, seperti pernyataan ketiga dan kelima.

Bahwa manusia pada dasarnya adalah self-serving, bisa dimengerti. Seperti mahluk-mahluk yang lain, hal yang paling azasi dalam kehidupannya adalah bertahan hidup (survival). Dalam kondisi-kondisi yang longgar, hal itu mungkin tidak terlalu terasa, karena manusia adalah juga mahluk sosial yang membutuhkan kehadiran dan kerja sama dengan sesamanya. Namun dalam kondisi yang sempit dan terpepet, motivasi azasinya akan menjadi nyata (silakan renungkan sendiri).

Bahwa simbol lebih bermakna daripada hal-hal yang disimbolkannya juga bukan pengetahuan yang istimewa, terutama bagi orang-orang yang memelajari linguistika, semiotika, dan kajian budaya pada umumnya. Pemahaman kita atas alam dan segala fenomena di dunia ini bersifat simbolik — kita tidak pernah mengenal realitas yang sesungguhnya, karena semua realitas yang kita persepsi telah terfilter melalui bahasa. Dan bahasa adalah simbol.

Dosa sebagai alat kontrol sosial pernah terlintas dalam pikiran saya, meskipun tentu saja ini bukan hal baru bagi orang-orang yang suka merenung. Tuhan menciptakan kategori dosa dan hukuman berat bagi para pendosa, agar manusia tidak semena-mena, berbuat sesuka hati dan zalim pada diri dan sesamanya. Membunuh adalah dosa besar, mencuri adalah dosa, tak berlaku adil adalah dosa … Semua itu adalah cara Tuhan mengontrol kita agar dalam kehidupan sosial kita, tak seorang pun terzalimi oleh perbuatan kita. Orang yang mengaku beriman tak seharusnya melakukan korupsi, mencuri, membunuh, merusak, dan berlaku tak adil. Tuhanlah Pengawasnya, Tuhanlah Hakimnya.

Bagi orang-orang yang skeptik atau atheis, barangkali tafsir pernyataan itu berbeda. Karena bagi mereka Tuhan adalah omong kosong yang perlu dicurigai, mereka menganggap dosa sebagai alat kontrol sosial yang diciptakan oleh orang-orang yang mengaku sebagai utusan Tuhan dan/atau orang suci. Namun bagi saya yang sepenuhnya percaya pada Tuhan, tafsirnya adalah seperti yang di atas itu.

Pernyataan terakhir, bahwa tidak ada sesuatupun kecuali apa yang dapat kau inderai, kita tahu, adalah intisari kredo orang-orang yang menganut paham empirisme dan positivisme — orang-orang yang berkeyakinan bahwa semua pengetahuan bersumber dari pengalaman inderawi, yang kemudian diolah oleh pikiran menjadi ilmu pengetahuan.

Diskusi mengenai empirisme, positivisme, dan lain-lain pemikiran filsafiah tentu akan panjang, dan mungkin bukan di sini tempatnya. Lain kali mungkin saya bisa menulisnya di tempat dan waktu yang lebih pas.

Dua pernyataan lain di bangku itu agak baru untuk saya: gagasan bahwa revolusi adalah fantasi orang-orang yang belum dewasa sempat terbersit beberapa kali dalam benak saya, terutama saat melihat demonstrasi-demonstrasi anarkis yang dilakukan oleh anak-anak muda, yang di antara slogan-slogannya, kata “revolusi” seringkali menjadi teriakan yang paling menggema.

Nyaris(?) semua revolusi dimulai dan dilakukan oleh anak-anak muda, karena hanya merekalah yang dihinggapi oleh fantasi seperti itu: perubahan yang total, megah, gagah, heroik dengan mengobrak-abrik segala yang tatanan yang telah terbangun, tatanan yang menurut mereka mengekang dan membungkam. Orang-orang yang telah berangkat dewasa rata-rata telah menjadi penakut, telah tertundukkan dan terjinakkan oleh sistem, atau (dalam bahasa yang lebih amelioratif dan apologetik) telah lebih realistis dan pragmatis dalam berpikir dan bersikap.

Pernyataan bahwa ilmu pengetahuan kadang-kadang lebih cepat maju daripada yang semestinya belum dapat saya pahami sepenuhnya, atau belum cukup beresonansi dalam pikiran saya. Mungkin karena pengetahuan saya dalam hal itu belum cukup luas dan mengendap. Refleksi tidak dimungkinkan ketika itu belum terjadi.

Warsawa, 24 Januari 2014,
Eki Akhwan

3 pemikiran pada “Dosa, Realitas, dan Revolusi

  1. mungkin maksud yang terakhir itu pengetahuan lebih cepat maju daripada semestinya adalah pengetahuan baru kadang-kadang muncul tanpa diimbangi kesiapan masyarakat luas untuk menerimanya. contohnya saja penggunaan kontrasepsi. di awal kemunculannya, banyak tokoh islam yang mengharamkan dan banyak juga yang beranggapan menggunakan kontrasepsi sama dengan membunuh janin. seiring dengan perkembangan pengetahuan masyarakat, sekarang penggunaan kontrasepsi sudah diterima. mungkin seperti itu. CMIIW. -ugit-

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s