Kembali ke Tanahair


Layar monitor di atas deretan kursi penumpang: pukul 14:37 waktu setempat, waktu salat ashar, lalu diagram pesawat dan anak panah yang menunjukkan arah kiblat. Inilah salah satu hal yang saya sukai dalam penerbangan Emirates. Mereka selalu mengingatkan penumpang tentang waktu salat. Dari ketinggian 11.000 kaki dan dengan kecepatan sekitar 900 kilometer per jam, pesawat yang akan membawa saya ke Dubai ini sudah mengudara sekitar setengah jam dan tengah bergerak ke timur-tenggara menuju perbatasan Ukraina.

Saya berangkat dari Warsawa Sabtu tanggal 31 Januari pukul 13:40, menurut jadwal. Namun saya kira pesawat tidak lepas landas tepat waktu, meskipun proses boarding berlangsung lancar sesuai jadwal. Cuaca bersalju dan suhu yang berada di angka belasan di bawah nol membuat proses tinggal landas tidak bisa semulus di bandara-bandara yang memiliki cuaca ideal untuk naik turun pesawat. Beberapa saat sebelum pesawat bergerak ke landasan pacu, pilot memberitahukan bahwa pesawat perlu disemprot dengan cairan peluluh bunga es untuk memastikan bahwa sayap dan komponen-komponen pesawat yang penting bebas dari kebekuan yang bisa membahayakan keselamatan penerbangan.

Pagi itu, saya dan Bu Beniati, mitra mengajar saya di Polandia, dijemput dari apartemen kami dan diantar ke bandara oleh Pak Wawan, staf KBRI Warsawa yang berjuluk MA (Master of Airports) karena pengalaman beliau yang sangat banyak dalam menjemput dan mengantar tamu-tamu kedutaan dari dan ke bandara. Di ruang check in, Ibu Roos Diana Iskandar, konselor sosial budaya KBRI, sudah menunggu dan, begitu selesai check in, sambil menunggu waktu boarding, beliau mentraktir kami minum kopi di lantai dua ruang check in.

Sekira 15 menit sebelum boarding dibuka, kami berpamitan dan mengucapkan terima kasih atas segala bantuan yang telah diberikan oleh seluruh staf KBRI Warsawa selama kami melaksanakan tugas di Polandia. Dari sana kami masuk ke ruang tunggu penumpang melalui pos pemeriksaan keamanan.

Saya sudah banyak keluar masuk bandara di hampir seluruh penjuru dunia. Pos pemeriksaan keamanan, terus terang, adalah tempat yang paling tidak menyenangkan di bandara manapun, terutama di bandara-bandara besar di negara-negara yang sejak peristiwa 9/11 dan dimulainya perang melawan terorisme merasa perlu memberlakukan pemeriksaan keamanan yang ekstraketat terhadap penumpang, terutama yang — karena jenis kelamin, usia, dan asal negaranya — dianggap berpotensi menimbulkan ancaman keamanan. Bandara Frederick Chopin pun tak terkecuali.

Sama seperti yang sebelumnya pernah saya alami di New York, Chicago, San Francisco, dan Tokyo, di sinipun saya termasuk yang terkena perlakuan khusus. Saya diharuskan melepas sepatu. Tas ransel saya pun, setelah melewati mesin pemindai, dibawa oleh petugas dan diperiksa secara khusus. Padahal di dalam tas itu saya tidak membawa apa-apa, kecuali beberapa buku, sabak (tablet), beberapa oleh-oleh kecil, dan Alquran. Mungkin karena Alquran ini mereka merasa perlu memeriksa ransel saya secara khusus? Saya tidak tahu.

Perjalanan dari Warsawa menuju Dubai memakan waktu sekitar enam jam. Rute yang dilalui tak jauh berbeda dengan saat kami berangkat empat bulan sebelumnya: Eropa tengah, Laut Hitam, Irak (saya lihat di layar monitor, kami melintas nyaris di atas kota Bagdad dan Kirkuk), dan Teluk Persia.

Tidak ada yang istimewa selama penerbangan. Pesawat Airbus 330 yang dipakai oleh Emirates untuk melayani rute ini termasuk yang terbaik di kelasnya. Layanan di dalam pesawat juga termasuk yang terbaik di antara semua maskapai penerbangan besar yang pernah saya gunakan (Singapore Airlines, JAL, Cathay Pacific, Garuda Indonesia, American Airlines, dll.): menu dan kualitas makanan dan minuman, keramahan dan kesigapan pramugari dan pramugara, kanal-kanal hiburan yang ada di setiap kursi penumpang, semuanya sangat baik. Film-film yang disajikan bahkan bisa dikatakan istimewa, karena di antara pilihannya ada film-film terbaru yang sedang tayang di bioskop dan dinominasikan dalam Academy Awards tahun ini.

Namun hari itu pesawat penuh sesak. Semua kursi tampak terisi. Posisi tempat duduk saya yang betul-betul berada di tengah-tengah (di deretan tengah dan diapit oleh penumpang-penumpang lain di kiri dan kanan) membuat saya merasa terhimpit dan claustrophobic. Tiga lapis pakaian hangat yang terpaksa saya pakai – karena saat berangkat udara di luar sangat dingin – membuat saya tambah tersiksa. Tidak ada tempat yang leluasa untuk menyimpan jaket dan sweater-sweater itu saat saya lepas. Alhasil, saya merasa penerbangan yang ‘cuma’ enam jam itu terlalu lama dan menyiksa.

Pesawat mendarat di Dubai International Airport (DXB) sekitar pukul 22:00 waktu setempat (pukul 20:00 waktu Warsawa). Entah kenapa, malam itu kami tidak merapat di terminal dua (terminal utama yang diperuntukkan khusus untuk semua penerbangan Emirates), melainkan di terminal kargo. Alhasil, saat turun dari pesawat kami masih harus naik bus ke terminal penumpang yang letaknya cukup jauh. Saya kira ada lebih dari dua puluh menit saya ada di dalam bus yang membawa saya ke terminal utama.

Di terminal penumpang, sekali lagi kami harus antre melewati pemeriksaan keamanan. Another nightmare. Saya tidak tahu kenapa penumpang yang baru turun dari pesawat harus melalui lagi pemeriksaan keamanan, padahal mereka tahu, sebelum berangkat kami sudah diperiksa dengan cukup teliti di bandara keberangkatan. Tapi memang begitulah prosedur keamanan baku di setiap bandara.

Taman tropik di tengah terminal 2 Bandara Internasional Dubai.  Foto © Eki Akhwan
Taman tropik di tengah terminal 2 Bandara Internasional Dubai.
Foto © Eki Akhwan

Bandara Internasional Dubai (DXB) adalah hub-nya Emirates dan, setahu saya, adalah salah satu bandara terbesar dan tersibuk di dunia. Fasilitas di bandara ini sangat baik dan suasananya pun cukup nyaman, meskipun saya sendiri berpendapat bandara ini tidak terlalu istimewa dibandingkan dengan beberapa bandara besar lain yang pernah saya singgahi. Taman tropik yang dilengkapi dengan kolam air berundak yang berada di tengah-tengah terminal memang terasa menyejukkan. Namun taman-taman serupa bisa juga dijumpai di beberapa bandara lain, seperti di Changi, Singapura, dengan taman vertikalnya dan KLIA, Kuala Lumpur, dengan taman hutan tropiknya. Gerai-gerai bebas beanya (duty free), yang konon termasuk salah satu yang paling eksklusif di dunia, menurut saya juga tak terlalu istimewa. Semua bandara besar punya fasilitas itu, dan orang-orang yang terbiasa bepergian dengan menggunakan pesawat udara pasti tahu bahwa barang-barang yang ditawarkan di gerai-gerai bebas bea itu tidak selalu lebih murah harganya jika dibandingkan dengan harga barang-barang serupa di toko-toko di luar kawasan bebas bea. Beberapa barang seperti rokok dan minuman keras bisa jadi lebih murah di sini, karena barang-barang itu dikenai bea yang sangat tinggi di luar area bebas bea. Namun sewa tempat di kawasan eksklusif ini juga diketahui sangat mahal, dan untuk menutupi biaya operasional itu, para pemilik gerai umumnya menaikkan harga jual barang. Alhasil, harga barang-barang di kawasan duty free umumnya tidak lebih lebih murah daripada harga barang-barang serupa di luar.

Kami harus layover lebih dari enam jam di bandara ini. Cukup lama. Pesawat yang akan membawa kami ke Jakarta dijadwalkan berangkat pukul 04:40. Kesempatan ini saya gunakan untuk salat maghrib dan isya, jalan-jalan ke beberapa gerai – meskipun saya tidak berniat membeli apapun karena persediaan uang saya yang terbatas – tidur, dan – sekitar satu jam sebelum keberangkatan – membeli kudapan di McDonald.

Saya bisa ‘tidur’ cukup nyaman di bandara ini karena di ruang tunggunya ada beberapa deret kursi yang didesain khusus dengan tempat selonjor kaki agar para penunggu bisa tidur tanpa menekuk kaki.

Penerbangan dari Dubai ke Jakarta kira-kira satu jam lebih lama dibandingkan dengan penerbangan Warsawa – Dubai. Namun karena pesawat tidak penuh dan saya mendapat tempat duduk di dekat gang (isle), saya bisa beristirahat dengan lebih baik. Baju-baju hangat yang sebelumnya sangat mengganggu kenyamanan juga sudah berhasil saya sumpalkan ke tas ransel, sehingga saya bisa lebih lega bernapas.

Kami tiba di Jakarta pukul 4 sore WIB, tanggal 1 Februari 2014. Perbedaan waktu Dubai dan Jakarta adalah empat jam.

5 pemikiran pada “Kembali ke Tanahair

  1. Selamat malam
    Tanggal 26 maret 2015 saya melakukan perjalanan dari Dubai ke Jakarta sekitar jam 19 waktu Dubai menggunakan Emirates. Selama di perjalanan saya mendapatkan pengalaman yg luar biasa mengesankan dimana ada salah satu pramugaranya yang amat sangat ramah (hampir semua pramugari dan pramugara memang selalu ramah tapi yang ini sangat terlihat tulusnya) saat itu disamping saya duduk seorang ibu yang sedang tidak terlalu sehat dan pramugara ini amat sangat membantu dalam segala hal yg diperlukan tanpa sedikitpun terlihat raut muka keterpaksaan. Sungguh saya sangat kagum dg cara kerjanya karena pada saat bersamaan saya melihat pramugara lain bertugas dg keramahan dan senyum yg terkadang tidak terlihat tulus. Saya dan ibu yang dulu pernah sangat ditolong oleh pramugara itu amat sangat ingin berterimakasih kepadanya tetapi tidak tahu bagaimana caranya bisa menemukan dia. Mungkin ada yg bosa membantu kemana kami harus mencari informasi mengenai hal ini. Terimakasih

    1. Bung RIsman,
      Mohon maaf baru dibalas. Cukup lama saya tidak menengok blok saya ini.

      Cerita bung Risman sungguh sangat mengharukan. Mudah-mudahan Anda sudah bisa menemukan alamat yang Anda cari. Kalau belum, mungkin Anda bisa menulis di koran atau menulis langsung ke alamat kantor perwakilan Emirates di Jakarta. Alamatnya bisa dicari di internet.

      Salam

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s