Gegar Budaya dan Gegar Budaya Balik


Orang yang berpindah dari satu lingkungan sosial budaya ke lingkungan lain yang sangat berbeda biasanya mengalami gegar, goncangan, atau disorientasi. Istilah yang dipakai untuk menamai fenomena itu: gegar budaya (culture shock).

Penyebab, fase, dan gejala gegar budaya sudah banyak diteliti dan diketahui. Perbedaan lingkungan sosial dan pola perilaku (budaya?) di tempat baru diketahui menjadi salah satu penyebab utamanya. Gejalanya bermacam-macam, dan umumnya dapat digolongkan menjadi empat fase, yaitu:

Fase bulan madu, fase awal yang umumnya dialami ketika seseorang baru memasuki lingkungan barunya. Fase ini bersifat romantik (namanya juga bulan madu). Si terpindah melihat segala hal baru yang dialaminya dengan kacamata cinta dan kekaguman — lingkungan baru, kebiasaan baru, makanan baru … semua terasa indah, mengagumkan …

Namun ketika masa bulan madu ini berakhir — namanya juga ‘bulan’ madu, bukan tahun madu, dekade madu, apalagi abad madu🙂 — semua mulai berubah. Si terpindah mulai merasa gelisah (anxious). Kegirangan (excitement) mulai digantikan oleh perasaan tidak nyaman, terasing, bahkan frustrasi, karena perbedaan-perbedaan yang dijumpainya mulai dirasakan aneh dan bertentangan dengan nilai-nilai dan kebiasaan-kebiasaan yang telah tertanam di dalam dirinya. Ia mulai merasakan kesepian — karena jejaring sosial dan pertemanannya belum terbentuk — dan rindu pada tempat asalnya (homesick). Fase ini dikenal sebagai fase negosiasi.

Pada tahap berikutnya, si terpindah mulai bisa menerima dan terbiasa dengan segala hal baru di lingkungan barunya; ia mulai bisa mengatasi masalah-masalah dasar yang dihadapinya untuk ‘menyatu’ dengan lingkungan barunya, dan mulai memiliki jejaring sosial dan pertemanan yang membuatnya tak lagi merasa kesepian dan terasing. Tahap ini disebut fase penyesuaian diri.

Konon tidak semua orang bisa melalui fase di atas dengan baik. Namun bagi yang berhasil, dia akan melaju ke tahap berikutnya, yaitu tahap atau fase penguasaan. Pada fase ini, si terpindah mulai merasa nyaman dan fungsional di lingkungan barunya.

Perlu dicatat, orang yang berhasil memasuki fase penguasaan tidak serta merta kehilangan budaya lamanya dan berubah total menjadi orang dengan budaya baru; hanya kerangka pikir dan pola perilakunya saja yang meluas dan bertambah: dia bisa memilih mana yang mana untuk bisa berfungsi dengan baik di mana.

Gegar budaya balik (reverse or re-entry culture shock) adalah kebalikan proses gegar budaya. Gegar budaya balik biasanya dialami oleh orang yang telah lama berada di lingkungan sosial budaya baru, lalu kembali ke lingkungan sosial budaya asalnya.

Semakin lama seseorang berada di luar lingkungan asalnya, dan semakin berhasil dia menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya, biasanya semakin parah pula gejala yang dialaminya ketika dia kembali ke lingkungan asalnya.

Dulu, sepulang dari studi saya di Amerika, saya mengalami gegar budaya balik yang cukup lama. Bertahun-tahun saya tidak bisa lepas dari membandingkan segala pola perilaku masyarakat Amerika dengan masyarakat di tanahair sendiri. Saya sering kesal, berkeluh-kesah dan mengutuki segala ketidakteraturan, ketidaknyamanan, dan ketidaksopanan yang saya temui dalam kehidupan sehari-hari masyarakat saya sendiri. Hal itu terutama saya rasakan dalam hal berlalulintas, kebiasaan antre, penghormatan terhadap hak dan kenyamanan orang lain, kebersihan, dan ketersediaan serta kualitas layanan publik. Sekarang saya sudah lebih bisa memaklumi segala ‘kekurangan’ masyarakat kita itu: kadang-kadang saya masih kesal jika melihat sesuatu yang belum sesuai dengan standar ‘maju’, namun saya tidak lagi banyak berkeluh-kesah atau mengutukinya. Saya lebih sadar bahwa dalam masyarakat kita berlaku standar nilai dan pola perilaku yang berbeda dengan apa yang berlaku di Amerika. Kita masyarakat yang sedang belajar dan berproses untuk menjadi lebih ‘maju’ dalam artian seperti contoh-contoh yang saya sebutkan di atas.

Pengalaman saya di Amerika membuat saya tidak terlalu gegar ketika harus bertugas di Polandia empat bulan terakhir ini. Tidak terlalu bukan berarti sama sekali tidak mengalami. Selama di Polandia, saya tetap mengalami gejala-gejala gegar budaya, namun sangat ringan dan dapat dikatakan hampir tak terasa, karena secara kognitif saya sadar dan siap. Kesadaran dan kesiapan ini membuat saya bisa mengamati diri saya sendiri, dan ketika gejala-gejalanya muncul saya bisa menamainya, mengelompokkannya, dan mengendalikannya.

Gegar budaya balik saya kira juga saya alami. Hampir seahad sejak saya pulang, saya masih suka kesal dengan segala kelambatan yang saya alami di sini: lalulintas yang semrawut, ketiadaan transportasi massal yang andal dan nyaman, layanan internet yang terasa lambat dan kurang andal … Namun itu semua tertutupi oleh kehangatan kaum kerabat dan sahabat, makanan-makanan lezat, dan cuaca yang lebih pas dengan saya sebagai anak tropika.

4 pemikiran pada “Gegar Budaya dan Gegar Budaya Balik

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s