Kantong Plastik


Baru-baru ini saya membaca berita di BBC tentang rencana pemerintah Inggris untuk mulai memberlakukan pengenaan biaya atas penggunaan kantong plastik sebesar 5 pence (sekitar Rp1000) per lembar pada tahun 2015.

Rencana itu menuai banyak kontroversi karena skemanya dianggap rumit. Pengenaan biaya hanya akan diberlakukan pada supermarket dan toko-toko besar, sementara para pedagang kecil, penggunaan kantong plastik biodegradable (yang bisa dicerna oleh alam), dan kantong kertas akan dikecualikan dari aturan itu. Para penentang rencana itu menginginkan agar pemerintah Inggris tidak pandang bulu dan menerapkan aturan itu pada semuanya seperti yang dilakukan oleh Wales dan Republik Irlandia.

Inggris konon memproduksi delapan milyar tas plastik per tahun. Dampak lingkungan dari penggunaan kantong plastik itu sungguh luar biasa. Plastik, yang merupakan bahan anorganik yang tak bisa dicerna oleh alam, mencemari tanah dan air; mengotori sungai, laut, dan membunuh biota-biota darat, laut, dan udara.

Membaca berita itu membuat saya langsung teringat kembali pada salah satu kegelisahan besar saya tentang penggunaan kantong plastik di tanahair kita. Kita tak perlu berjalan jauh untuk dapat melihat dampak buruk dari penggunaan kantong plastik di negara kita — mulai dari selokan di depan rumah, hingga ke sungai dan laut, kita bisa melihatnya: tumpukan sampah plastik dan kemasan anorganik dalam segala bentuknya ada di sana. Foto yang saya ambil dari Situ Ciburuy, Padalarang, beberapa waktu yang lalu ini mungkin bisa menjadi ilustrasi yang menyedihkan itu.

Tumpukan sampah kantong dan kemasan di Situ Ciburuy, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. Foto: ©Eki Akhwan
Tumpukan sampah kantong dan kemasan di Situ Ciburuy, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. Foto: ©Eki Akhwan

wpid-1359383507-picsay.jpg

Contoh dari Situ Ciburuy itu tentu saja hanya sebagian kecil dari puncak gunung es masalah sampah plastik yang terjadi di negeri ini. Saya sudah melihat yang bahkan jauh lebih mengerikan daripada itu. Di sepanjang aliran sungai Citarum, dari hulu hingga ke hilir, kita bisa melihatnya. Di Dayeuh Kolot (Kabupaten Bandung), Cihampelas dan Saguling (Kabupaten Bandung Barat), hingga ke muaranya di Teluk Jakarta, sampah-sampah plastik itu menjadi saksi atas kebiadaban kita pada alam yang telah memberi kita kehidupan.

Tidak hanya itu. Di tempat-tempat wisata yang kita banggakan, seperti Gunung Tangkuban Perahu, Maribaya, Kawah Putih, Pantai Pangandaran, Kepulauan Seribu dan lain-lain bercak-bercak plastik tampak di mana-mana. Bahkan di puncak-puncak gunung yang sulit dijangkau oleh orang-orang biasa pun, sampah plastik sangat banyak ditemui.

Warga Bandung, yang beberapa waktu yang lalu sempat disebut babi oleh seorang blogger asing yang berdomisili di kota ini, tentu tak asing dengan pemandangan yang terjadi saat hujan deras. Selokan-selokan meluap dan memenuhi jalanan dengan kantong-kantong dan botol-botol plastik. Sungguh pemandangan yang mengerikan.

Meskipun bibit-bibit bencana besar itu sudah kita lihat dimana-mana, perilaku kita terhadap plastik, kantong plastik dan kemasan plastik tampaknya tetap santai. Nyaris tidak ada kesadaran masyarakat tentang dampak dahsyat yang mengancam dari penggunaan plastik secara berlebihan ini. Kita dengan ringannya meminta dan menggunakan kantong plastik untuk hal-hal yang sebenarnya bisa kita hindari: sebagai bungkus makananan dan minuman (dari nasi, gorengan hingga bakso, dari teh hingga es campur), belanjaan di pasar, di supermarket, ….

Dengan lugu (dan bodoh?)nya kita masih menganggap bahwa plastik sama dengan daun atau sampah-sampah organik lain yang dapat dicerna dan diserap oleh alam dalam hitungan hari. Kita memakainya dan membuangnya di mana saja tanpa rasa bersalah. Padahal plastik memerlukan waktu ribuan tahun untuk dapat dicerna dan diserap oleh alam.

Pemerintah pun tampaknya belum punya kebijakan yang jelas tentang penggunaan kantong dan kemasan plastik ini. Kantong plastik masih diperdagangkan dengan bebas, produk-produk yang menggunakan kemasan plastik semakin hari semakin banyak, sementara pengelolaan sampah dan limbah masih sangat buruk.

Sebenarnya ada banyak cara yang dapat kita lakukan untuk ikut mengurangi limbah plastik ini mulai dari diri sendiri. Bawalah tas yang dapat dipakai berulang-ulang ketika berbelanja. Hidarilah kemasan plastik sedapat mungkin. Ketika membeli makanan dan minuman, bawalah wadah dari rumah. Jangan membeli minuman berkemasan jika memang tidak terpaksa. Bawalah botol minuman dari rumah.

Saya sudah mencoba mempraktikkan hal-hal itu, meskipun sering dipandang aneh dan ditertawakan oleh orang. Penjual makanan seringkali merasa aneh bahwa saya membawa wadah sendiri ketika membeli makanan. Mereka bahkan seringkali memaksa memberi saya kantong plastik, yang tentu saja saya tolak. Di supermarket-supermarket tertentu, kasir bahkan memaksa memberi kantong-kantong plastik yang berbeda-beda untuk jenis-jenis barang berbeda yang saya beli, bahkan ketika saya mengatakan saya tidak memerlukannya karena saya bisa memasukkannya ke dalam ransel saya.

Di negara-negara maju, regulasi tentang penggunaan kantong plastik sudah sangat ketat, terutama dalam waktu sepuluh tahun terakhir. Banyak negara mulai menerapkan aturan yang melarang pemberian kantong plastik secara gratis. Pengenaan biaya itu dilakukan untuk mendorong agar orang tidak serta merta menganggap kantong plastik sebagai sesuatu yang murah, ringan, dan penggunaannya tanpa akibat.

8 pemikiran pada “Kantong Plastik

  1. beberapa komunitas setahu saya sudah mulai menggalakkan penggunaan plastik ramah lingkungan (seperti tas dari bahan recycle dll). Mudah-mudahan bisa mengurangi masalah sampah ini.

  2. fotonya terlihat gila!
    itu sampah diinjak buat tempat mancing gitu? apa ga bau?
    lalu bisa-bisanya situ jadi tempat sampah massal gitu. kalau banjir ya jangan salahkan Pemerintah.
    penggunaan plastik memang dilema.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s