Tafsir Bencana


Belum lagi genap dua bulan tahun 2014 berjalan, bencana demi bencana sudah beruntun menampar negeri ini dari segala penjuru: gempa bumi, tanah longsor, banjir bandang, banjir menggenang, letusan gunung berapi, lalu letusan gunung berapi lagi …

Orang-orang mulai bertanya-tanya dan mereka-reka, apa gerangan yang terjadi?

Untuk orang-orang yang religius, ini pertanda buruk: Tuhan murka! Dan kita mesti berkaca diri. Kita pasti telah bersalah, sehingga Tuhan perlu mengirimkan peringatan-peringatan keras yang bertubi-tubi untuk menegur kelalaian kita.

Demikianlah memang cara berpikir religi. Agama kuno maupun agama modern mengatribusikan bencana pada kemurkaan Ilahi. Pada agama-agama primitif, sosok tuhan itu adalah dewa-dewa yang mereka yakini menguasai bagian-bagian dari alam semesta; dewa-dewa yang mengkomunikasikan apa yang mereka maui melalui dukun dan cenayang suku serta tanda-tanda alam. Pada agama-agama modern, sosok tuhan itu adalah Zat Yang Mahakuasa, Pencipta, Penguasa, dan Pengatur semesta, Tuhan Yang telah menurunkan wahyu, mengangkat nabi-nabi, dan menjelaskan siapa Dirinya dan apa yang dikehendaki-Nya.

Dalam masyarakat primitif, ketika bencana terjadi, orang-orang akan segera mendatangi dukun dan cenayang mereka, bertanya apakah gerangan yang dikendaki dewa-dewa dan kenapa mereka marah. Lalu dukun dan cenayang itu akan melakukan ritual untuk berkomunikasi dengan dewa-dewa dan mendapatkan petunjuk tentang apa yang harus dilakukan oleh kaumnya demi memupus kemurkaan mereka. Para dewa dalam agama-agama primitif itu biasanya menuntut pengorbanan atau persembahan dari para penyembahnya: makanan, minuman, bunga-bungaan, dupa, ritual tari dan nyanyi untuk menghibur mereka, binatang kurban, bahkan darah dan nyawa manusia.

Pada agama-agama modern, peran dukun dan cenayang itu digantikan oleh kitab suci, sabda nabi, dan alim-ulama yang membantu umat menafsirkan wahyu Ilahi dan sabda nabi hingga diperoleh kejelasan apa yang kemungkinan telah mereka langgar sehingga Tuhan murka dan mengirim bencana. Tuhan dalam agama-agama modern tentu saja tidak menuntut hal-hal seperti yang diminta oleh para dewa dalam agama-agama primitif. Tuhan Yang Mahakuasa hanya ingin manusia kembali berserah diri kepada-Nya, bertaubat dan memohon ampun atas kesalahan-kesalahan mereka, dan kembali ke jalan yang telah ditunjukkan-Nya dengan melakukan segala kemakrufan dan menghindari segala kemungkaran.

Untuk orang-orang yang religius namun pragmatis, atau orang-orang yang sama sekali tidak religius, bencana bukanlah (semata-mata) wujud amarah ilahiah. Gunung meletus dan gempa bumi adalah proses alamiah, suatu keniscayaan yang terjadi karena struktur bumi dan proses-proses yang terjadi di dalamnya. Banjir bandang dan bajir menggenang juga bukan tanpa sebab yang tak dapat dijelaskan asal-usulnya. Barangkali kita telah menebangi hutan-hutan di hulu sungai dan menista alam, dan alam hanya menggulirkan proses sebab-akibat yang telah menjadi keniscayaan. Barangkali juga kita telah membuang sampah sembarangan, membangun desa dan kota tanpa perhitungan, sehingga jalan-jalan air menjadi tak beraturan, lalu menerjang apa yang tak kita inginkan dia terjang. Barangkali kita telah mengotori udara, hingga pola sirkulasi atmosferik bumi kita terganggu, pola iklim dan cuaca menjadi kacau dan ekstrem tak terkendali.

Tafsir religius dan tafsir pragmatis tentu bukan satu-satunya penjelasan yang bisa kita yakini. Ada sebagian orang yang juga mempercayai hal-hal lain di luar itu: ini tahun pemilu. Bencana-bencana alam itu bisa jadi pertanda dari alam gaib akan datangnya pemimpin yang kita tunggu-tunggu, pemimpin yang akan membawa perubahan-perubahan yang kita idam-idamkan. Barangkali juga bencana-bencana itu menjadi tanda dari semesta akan datangnya lembaran era baru. Perpindahan halaman buku mungkin tak mengacak-acak kata-kata di dalamnya; namun perpindahan masa konon biasanya ditandai oleh gegar alam yang mencoba memberi aba-aba. Paling tidak, demikianlah keyakinan sebagian orang.

2 pemikiran pada “Tafsir Bencana

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s