Menulis untuk Media Massa Cetak atau untuk Blog?


Bagi seorang penulis, melihat tulisannya muncul dan diterbitkan di media massa cetak adalah kebanggaan tersendiri. Di dalamnya ada prestise, karena tidak sembarang orang mendapat kesempatan untuk menerbitkan tulisannya di media massa cetak.

Dulu, sebelum era internet, penerbitan di media massa cetak (dan buku) memang menjadi satu-satunya cara agar tulisan seseorang dikenal khalayak. Tidak ada cara lain. Sekarang, berkat internet dan blog, siapapun bisa menerbitkan tulisannya agar dibaca oleh orang banyak. Namun, menerbitkan tulisan di media massa cetak (dan dalam bentuk buku) tetaplah dianggap lebih prestisius dibandingkan dengan menerbitkannya sendiri melalui blog. Apa pasalnya?

Sebab pertama tentu karena untuk bisa terbit di media massa cetak, seorang penulis harus bersaing dengan penulis-penulis lain. Ada proses seleksi. Dan proses itu dilakukan oleh otoritas (redaksi) yang memiliki kompetensi di bidang tulis-menulis dan bidang-bidang keahlian yang sesuai dengan isi tulisan. Oleh karena itu, tulisan yang lolos proses seleksi ini dapat dianggap telah memenuhi standar tertentu dan bernilai baik.

Tulisan dalam blog, terutama blog pribadi, sebaliknya, tak harus melalui proses seleksi apapun. Si penulis, yang merangkap sebagai pemilik blog, bisa menulis tentang apapun dengan cara dan gaya bagaimanapun. Tidak ada standar apapun yang perlu diikuti. Baik buruk kualitas tulisan tak menjadi masalah. Satu-satunya saringan bagi tulisan seorang narablog adalah pembacanya. Jika banyak pembaca suka pada tulisannya, maka tulisan itu bisa jadi dianggap baik. Namun kita tahu tidak semua pembaca memiliki selera dan minat yang sama, apalagi kompetensi yang sesuai dengan isi tulisan di dalam blog itu. Apa yang dianggap baik dan menarik oleh segolongan pembaca, belum tentu dianggap baik dan menarik oleh golongan pembaca yang lain.

Pembaca blog sangat tersegmentasi, mungkin lebih tersegmentasi daripada pembaca media massa cetak yang segmentasi pasarnya cenderung berlingkaran lebih besar (meskipun harus diakui juga ada beberapa media massa cetak yang menyasar segmen pasar yang sangat, sangat spesifik).

Sebab kedua kenapa tulisan yang dipublikasikan di media massa cetak lebih prestisius dibandingkan dengan tulisan yang diterbitkan di dalam blog adalah lembaga penerbitnya sendiri. Lembaga penerbit media massa cetak adalah institusi besar yang berbadan hukum dan beroperasi berdasarkan peraturan perundang-undangan negara yang melindungi kepentingan publik. Blog yang dikelola oleh perseorangan tak memiliki hal itu. Oleh karena itu, blog tidak memiliki wibawa yang sama dengan wibawa yang dimiliki oleh media massa cetak.

Namun apakah ini berarti bahwa tulisan di dalam blog selalu bernilai lebih rendah dibandingkan dengan tulisan yang diterbitkan di media massa cetak?

Tidak selalu.

Beberapa narablog memiliki kompetensi dan keunikan yang sangat spesifik. Bahkan saking spesifik dan uniknya, dia tidak mungkin membuat tulisan yang dapat diterima oleh media massa cetak — yang karena alasan misi, lingkaran pembaca, dan aturan-aturan lain tidak mungkin menerbitkan tulisan seperti yang dibuat oleh narablog itu. Dalam kasus seperti ini, tulisan di dalam blog bisa jadi justru lebih berkualitas daripada tulisan yang dimuat di dalam media massa cetak.

Selain hal itu, demi kebijakan redaksional, kepentingan misi dan bisnis, serta kepentingan menjaga muruah kelembagaan, media massa cetak seringkali dibutakan oleh hal-hal yang bersifat formal, misalnya dengan lebih mementingkan tulisan-tulisan yang dibuat oleh orang-orang yang memiliki mandat (credential), baik karena jabatan, prestasi, pengalaman, maupun karena gelar-gelar akademiknya. Penulis-penulis yang tidak termasuk ke dalam golongan itu biasanya hanya dipandang dengan sebelah mata, dan oleh karena itu memiliki kesempatan yang lebih sempit untuk dapat diterbitkan di media massa cetak.

Jadi, pesan apa yang ingin saya sampaikan lewat tulisan ini?

Tetaplah menulis! Tidak penting di mana tulisanmu akan diterbitkan. Jika tulisanmu dimuat di media massa cetak, tentu itu prestasi yang bisa dibanggakan. Jikapun tidak, menerbitkan tulisan-tulisanmu di dalam blog tidak akan dengan sendirinya membuatmu menjadi penulis dengan kualitas yang lebih rendah dibandingkan dengan penulis-penulis di media massa cetak. Yang penting adalah: menulis, meningkatkan mutu tulisan, dan mengenali serta menjadi diri sendiri. Tulisan yang menarik adalah tulisan yang unik dan mencerminakan kepribadian dan kompetensimu sendiri.

Begitu saya kira.

4 pemikiran pada “Menulis untuk Media Massa Cetak atau untuk Blog?

  1. Aku pengen nulis di dua tempat itu, Pak. Tapi dengan nulis unek2 di blog juga udah seneng. Yang penting, menulis adalah salah satu pelampiasan saya atas kejadian yang terjadi di kehidupan saya.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s