Demokrasi dan Kebebasan Bersuara


Kebebasan bersuara (freedom of speech, freedom of expression) adalah salah satu keniscayaan yang harus ada dalam demokrasi. Asumsinya dasarnya adalah, sekelompok orang akan dapat mengatur diri mereka sendiri jika mereka memiliki akses yang tak terbatas terhadap informasi yang memungkinkan mereka membuat pilihan-pilihan yang cerdas dan bijak (informed choices).

Ada asumsi-asumsi ikutan yang seringkali tak terbaca dalam asumsi itu, yaitu:

bahwa semua orang cukup cerdas untuk membaca informasi, dan bahwa mereka bisa membedakan mana informasi yang benar, mana informasi yang setengah benar, dan mana informasi yang sama sekali tidak benar;

bahwa informasi yang benar akan selalu tampak putih, dan informasi yang tak benar akan selalu tampak hitam;

bahwa informasi adalah objek yang mandiri dan bebas dari kepentingan subjek yang membawanya.

Padahal kita tahu,

informasi bukanlah objek mandiri. Ia selalu terkait dengan siapa pembawanya dan kepentingan apa yang melekat padanya. Esensi yang sama dapat muncul dalam bentuk informasi yang berbeda, tergantung siapa yang membawanya.

informasi bisa dipelintir, diolah, dan diwarnai — yang putih bisa dijadikan abu-abu, bahkan hitam; yang hitam dapat diubah menjadi abu-abu, bahkan diputihkan. Benar salah tidak selalu menjadi perkara yang mudah.

bahwa tidak semua orang cukup cerdas, dan bahkan jika semua orang cukup cerdas, tidak satupun orang yang bisa bebas dari kepentingan dirinya sendiri.

Maka, semestinya kita cukup cerdas untuk mengetahui bahwa yang berlaga sebenarnya bukanlah informasi, melainkan kepentingan.

Kepentingan siapa yang akan menang bukan perkara benar salah, tapi perkara kekuatan. Mereka yang digdaya, merekalah yang menang. Dan dalam perkara ini, publik, rakyat, atau apapun namanya, tidaklah selalu menjadi kekuatan yang paling digdaya, meskipun jumlah mereka besar. Kedigdayaan tidak terletak pada jumlah, namun pada apa yang dikuasai. Sekelompok kecil orang bisa jadi sangat berkuasa karena mereka menguasai sumber daya yang membuat mereka digdaya. Dan kedigdayaan bisa menjadi alat pemerdaya. Informasi hanya salah satu alatnya.

Berpikirlah cerdas.

Satu pemikiran pada “Demokrasi dan Kebebasan Bersuara

  1. setuju banget sama ini.
    koran lokal di Karawang sering kali mempelintir fakta, melihat berita dari satu sisi. Ga cross cek kebenarannya. Media bisa jadi sebuah alat untuk membuat nama baik atau sebaliknya. Kebebasan yg keblabasan.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s