Peluncuran Buku “Bandung – From Spaces to Places”


Tadi malam (Sabtu, 22/2), untuk pertama kalinya sejak pulang dari Polandia, saya ikut kegiatan komunitas lagi. Acara yang saya hadiri adalah peluncuran buku foto “Bandung From Spaces to Places” karya Galih Sedayu, pegiat fotografi dan tokoh Forum Komunitas Kreatif Bandung (BCCF).

Penampilan Pidi Baiq pada acara peluncuran buku "Bandung: From Spaces to Places" (22/2)
Penampilan Pidi Baiq pada acara peluncuran buku “Bandung: From Spaces to Places” (22/2)

Saya sengaja menyempatkan diri untuk hadir pada acara peluncuran bukunya, pertama karena memang diundang (meskipun undangannya tidak disampaikan secara khusus); kedua, karena saya menganggap Galih teman saya – meskipun secara pribadi kami jarang bertemu dan berinteraksi (interaksi kami selama ini hanya terjadi pada acara-acara komunitas kreatif, terutama komunitas fotografi yang menjadi minat saya); ketiga, karena ini acara komunitas fotografi, dan sebagaimana acara-acara serupa yang saya hadiri sebelumnya, acara ini menjanjikan kesempatan untuk bertemu dengan kawan-kawan yang seminat; keempat, saya sendiri sudah lama berencana untuk menerbitkan buku foto saya, dan saya ingin menggunakan kesempatan ini untuk berkonsultasi dan menimba pengalaman dari Galih dalam menerbitkan bukunya.

Buku foto "Bandung: From Spaces to Places" karya Galih Sedayu.
Buku foto “Bandung: From Spaces to Places” karya Galih Sedayu.

Selain alasan-alasan itu, tempat acara ini dilangsungkan juga terbilang unik, yaitu di taman warga Pulosari, yang terletak di bawah jembatan layang Pasupati, di daerah Balubur – Tamansari. Letak taman ini dekat dengan Taman Skateboard dan Taman Jomblo, dua taman baru yang akhir-akhir ini banyak menjadi perbincangan warga Bandung. Saya berencana ke sana setelah acara selesai, untuk memotret dan mengumpulkan bahan bagi blog Bandung Daily Photo saya.

Acara berlangsung meriah. Dan, seperti yang saya harapkan, saya bertemu dengan kawan-kawan fotografer yang telah lama saya kenal, juga yang baru saya kenal malam itu. Namun yang paling berkesan bagi saya adalah tempat dan bagaimana acara itu digelar.

Acara digelar seperti ‘uro-uro’ (kumpul warga, terutama anak-anak dan remaja, untuk bermain dan bercengkerama) di tengah lapangan (taman). Layar LCD ditelakkan di sisi selatan, tepat di tepi sungai Cikapundung, area pentas di sisi barat, sementara di sisi-sisi lain diletakkan meja resepsi dan meja-meja yang berisi penganan dan minuman tradisional (kacang dan ubi rebus, kue balok, bandrek dan bajigur). Sangat bersahaja, dan tidak ada panggung yang memisahkan penonton (yang duduk berlesehan di tengah lapangan) dan atraksi yang digelar untuk memeriahkan acara pada malam itu.

Meja penganan tradisional.
Meja penganan tradisional.

Taman Pulosari sendiri terletak di tengah-tengah permukiman warga yang cukup padat, di kawasan yang kini berada di bawah jembatan layang Pasupati. Namun justru karena itulah, kehadiran taman yang hijau dan tertata apik ini terasa sangat istimewa, seperti oasis di tengah kepadatan dan hiruk-pikuk perkotaan.

Taman Pulosari dibangun oleh pemerintah kota pada tahun 2011, namun pengelolaan dan pemeliharaannya diserahkan sepenuhnya kepada warga. Menurut beberapa pemuda anggota Karang Taruna yang saya temui dan ajak ngobrol malam itu, mereka membersihkan taman dan kawasan sekitarnya seminggu sekali dan mendapatkan ‘bayaran’ dari warga yang memasukkan sumbangan suka-rela ke kencleng yang mereka bawa. Warga juga bisa memberikan sumbangan dalam bentuk sampah plastik, yang kemudian dapat dijual. Dana yang terkumpul digunakan oleh Karang Taruna untuk membiayai kegiatan-kegiatan mereka. Salah satunya adalah arung jeram, olah raga yang, menurut pengakuan mereka, dilakukan secara teratur di sungai Cikapundung yang mengalir di dekat kampung mereka.

Selain format dan lokasi acara yang menarik, peluncuran buku “Bandung – From Spaces to Places” juga diisi dengan acara musik yang menampilkan seorang pengamen jalanan (warga setempat?) yang kemampuan bernyanyinya sangat istimewa, sebuah grup musik indi, dan Pidi Baiq — seniman kocak serbabisa yang celotehan, lirik lagu, dan tulisan-tulisannya bisa membuat orang tertawa terpingkal-pingkal sekaligus berpikir dan merenung …

Sudah cukup sering saya mendengar nama Pidi Baiq dari beberapa mahasiswa saya. Beberapa kali bahkan sempat saya mengunjungi blognya (yang sayangnya jarang di-update), namun baru malam itulah saya menyaksikan sendiri keunikannya sebagai seniman dan dibuat terpingkal-pingkal oleh celotehan dan lirik lagu-lagu yang dibawakannya.

4 pemikiran pada “Peluncuran Buku “Bandung – From Spaces to Places”

      1. saya pernah tuh nanya ke dia, ‘kamu ga ada kerjaan ya, jawab semua tanya twit?”
        eh dia jawab: ‘ga ada mas, kasih aku kerjaan dong”

        haha.., kreatif juga ini manusia.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s