Keberagamaan Leksik Simbolik


Beberapa hari yang lalu saya menuliskan status ini di Facebook saya:

Saya cenderung curiga pada orang-orang yang menggunakan leksikon dan simbol-simbol agama secara berlebihan. Orang-orang seperti itu biasanya palsu. Maaf.

Sebelum saya melanjutkan tulisan ini, dan menjelaskan maksud saya, ada baiknya digarisbawahi dua kata dalam pernyataan itu, yaitu kata “cenderung” dan kata “biasanya” sebagai hedging qualifier. Saya tidak membabi-buta curiga pada setiap orang yang saya sebutkan di atas, juga tidak menuduh bahwa setiap orang yang demikian selalu palsu.

Status itu saya buat karena saya lelah, bosan (untuk tidak menyebut kata ‘muak’) pada orang-orang yang dengan penuh semangat menggunakan leksikon dan simbol-simbol agama, lalu berperilaku bertentangan dengan intisari ajaran agama yang leksikon dan simbol-simbolnya secara demonstratif mereka pakai.

Peristiwa penzaliman yang dilakukan oleh seorang tokoh yang lekat dengan simbol agama kepada asisten tata suara beberapa waktu yang lalu, peristiwa yang tak kalah heboh tentang seorang pemimpin lembaga keagamaan tingkat nasional yang menerima gratifikasi yang tidak semestinya untuk layanan yang dia berikan di negara tetangga, dan peristiwa sekelompok orang yang mengatasnamakan agama dalam praktik penyembuhan yang ternyata hanyalah kedok penipuan bermotif finansial … Semua sungguh merupakan penghinaan bagi agama yang saya yakini kesakralannya.

Pembajakan agama dan penyaderaan Tuhan tentu bukan hal baru. Sepanjang sejarah, hal itu telah dan akan terus terjadi, di manapun dan dalam agama apapun. Agama dan Tuhan adalah kekuatan mahadahsyat yang tak kedap terhadap kekuatan-kekuatan antiagama dan antituhan. Iblis dan setan pun menggunakan agama dan Tuhan untuk menipu dan mengelabuhi, karena agama dan nama Tuhan adalah kekuatan mutlak yang menggiurkan siapa saja yang ingin meraup kuasa dan menjadi ‘tuhan’ yang menguasai dunia.

Maka tak seharusnya kita mudah terpesona oleh orang-orang yang secara demonstratif menggunakan leksikon-leksikon dan simbol-simbol agama secara berlebihan. Pertunjukan semacam itu adalah pertunjukan lima puluh – lima puluh (50:50). Ada kemungkinan 50 persen bahwa orang-orang semacam itu memang saleh dan bertakwa; 50 persen sisanya adalah kemungkinan lain, yang bisa jadi justru antitesis dari kesalehan dan ketakwaan.

Orang-orang yang berjenggot, bersorban, bejubah, bergelar mulia tidak selamanya lebih saleh dan takwa daripada orang-orang yang tidak demikian. Hanya Tuhan sendiri yang tahu siapa yang saleh, siapa yang takwa. Kita hanya membaca tanda-tanda, dan bisa jadi kita salah dalam membaca tanda-tanda itu. Orang-orang yang menyebut Tuhan dengan Allah, atau bahkan Alloh, tidak serta merta menjadi penanda bahwa mereka lebih takut kepada Tuhan (baca: bertakwa) daripada orang-orang yang menyebut Tuhan dengan nama yang dia sadari dan hayati sepenuhnya makna dan referensinya — Gusti Allah, Pangeran, atau Tuhan saja — lalu dengan sepenuh jiwa dan kesadaran berperilaku yang menunjukkan ketundukkan dan penyerahan diri pada-Nya.

Manusia adalah mahluk sosial yang selalu khawatir tentang martabat dan kedudukannya di antara sesamanya. Di dalam dirinya ada ego, ada keinginan untuk memertahankan dan memenangkan kepentingannya sendiri, ada politik, ada ekonomi. Dan untuk itu semua, mereka akan menggunakan cara apapun, termasuk membajak agama dan menyandera Tuhan, kecuali orang-orang yang telah mencapai tingkat nafsul mutmainnah — orang-orang yang egonya telah terbebaskan oleh keberserahan dirinya pada Tuhan.

Orang-orang yang telah sampai pada tingkatan nafsul mutmainnah tidak lagi dikendalikan oleh ego kasarnya (nafsu lawwamah) dan tak lagi khawatir tentang martabat dan kedudukan sosial yang didapatkan dengan cara-cara yang bertentangan dengan kehendak Tuhan.

Satu komentar atas status saya di atas sungguh sangat mengena karena isinya pesis seperti yang ada dalam pikiran saya:

People like that are usually overcompensating for some deficiencies that they desperately want to cover up. So yeap, I agree. ~ Anindita Rangga Satya

Overcompensating adalah salah satu gejala psikologis yang lazim terjadi pada orang-orang yang mencoba menutup-nutupi kelemahan-kelemahannya dengan mengadopsi leksikon-leksikon dan simbol-simbol (maha)perkasa untuk melindungi diri dari kejatuhan martabat sosial. Dan di antara leksikon-leksikon dan simbol-simbol itu, milik agama dan milik Tuhanlah yang paling mutlak.

Satu pemikiran pada “Keberagamaan Leksik Simbolik

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s