Seni Melihat #2


Tanggal 19 April yang lalu, saya diundang oleh Galih Sedayu, kawan saya dan pegiat komunitas fotografi di Bandung, untuk mengisi Kelas Taman Fotografi Bandung #4. Untuk acara itu, saya memilih tema Seni Melihat (The Art of Seeing). Tulisan berikut ini adalah materi pengantar workshop singkat yang saya berikan dalam acara itu yang aslinya saya beri judul Seni Melihat. Namun, karena saya pernah menulis artikel dengan judul yang sama di blog saya yang lain, tulisan ini saya beri judul Seni Melihat #2.

Tulisan itu dan tulisan ini mirip temanya; namun demikian, isinya agak berbeda.

Foto bersama dengan peserta Kelas Taman Fotografi #4 di Taman Foto Bandung, 19 April 2014.
Foto bersama dengan peserta Kelas Taman Fotografi #4 di Taman Foto Bandung, 19 April 2014.

Apa itu Seni Melihat?
Semua orang yang memiliki mata yang sehat dapat melihat. Namun bagi seorang fotografer dan orang-orang yang bergelut di dunia seni visual pada umumnya, melihat bukanlah semata-mata aktivitas inderawi, karena bagi mereka, melihat adalah bagian dari proses kreatif. Melihat sebagai bagian dari proses kreatif inilah yang disebut sebagai Seni Melihat (The Art of Seeing).

Melihat sebagai kegiatan inderawi dan melihat sebagai bagian dari proses kreatif (Seni Melihat) adalah dua hal yang berbeda. Kegiatan yang pertama (melihat tok!) umumnya dilakukan oleh orang-orang awam atau orang-orang yang belum terlatih. Mereka umumnya melihat dengan sepintas lalu dan tanpa kesadaran yang kental tentang apa yang tertangkap oleh indera penglihatannya. Mereka cenderung berpra-anggapan (presume) tentang apa yang dilihatnya (oh itu burung, oh itu pohon, oh itu orang).

Kegiatan kedua (Seni Melihat) adalah kegiatan yang dilakukan oleh fotografer atau seniman visual lainnya sebagai bagian dari proses kreatif mereka. Berbeda dengan orang-orang awam, mereka melihat dengan intensitas kesadaran yang tinggi, serta tidak dengan serta merta berpra-anggapan tentang apa yang dilihatnya.

Bagi orang-orang seperti ini, melihat bukanlah suatu one shot event (kejadian sesaat), melainkan sebuah proses yang tak hanya melibatkan indera penglihatannya, namun juga olah rasa dan persepsi yang menghubungkan apa yang tertangkap oleh mata dengan pengetahuan dan pengalaman-pengalaman sebelumnya. Proses pengolahan ini menimbulkan kesadaran-kesadaran dan pertalian-pertalian baru di dalam benaknya, sehingga apa yang tertangkap oleh matanya dapat mengungkapkan hal-hal yang sepintas lalu tak terlihat. Dari sinilah proses kreatif yang menghasilkan karya foto atau karya visual lain bergulir.

Perbedaan cara melihat inilah yang membuat orang awam kadang-kadang terheran-heran dengan ‘keajaiban’ yang ditunjukkan dalam suatu karya foto (saya sudah pernah kesana/lewat di sana setiap hari, tapi kok saya tidak melihat itu ya?).

Dapatkah Seni Melihat diajarkan?
Kalau kita percaya pada apa yang disebut sebagai ‘bakat’, memang tak dapat dipungkiri bahwa ada orang-orang tertentu yang lahir dengan kemampuan bawaan melihat yang lebih intense dibandingkan dengan orang kebanyakan. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang memiliki kecenderungan kecerdasan visual di atas rata-rata. Namun demikian, kecerdasan visual dapat diasah dan diajarkan melalui proses pelatihan yang terstruktur.

Kursus-kursus fotografi yang pernah saya ikuti di luar negeri memberikan tempat yang penting bagi seni melihat ini. Inilah yang pertama diajarkan dan ditekankan pada kursus tingkat dasar. Ini sangat berbeda dengan kursus fotografi yang pernah saya ikuti di Bandung, yang pelajaran-pelajaran tingkat dasarnya justru diisi dengan pengenalan hal-hal teknis tentang kamera, diagfragma, kecepatan, lensa, dan lain-lain.

Untuk mengasah kemampuan Seni Melihat, siswa umumnya diminta mengamati dengan cermat apa yang dilihat disekitarnya. Mereka dibuat sadar akan elemen-elemen komposisi, seperti bentuk (geometri, lingkaran, segi empat, empat persegi panjang, kurva, bentuk-bentuk organik, dll), garis (diagonal, horizontal, vertikal, zigzag, lurus, tebal, tipis), warna (primer, sekunder, hangat, sejuk, komplementer), ruang (ranah di sekitar atau di dalam objek, pengaturan komponen-komponen di permukaan), dan tekstur (kasar, halus, mulus, mengkilat, keras, kalis).

Selain itu, mereka juga diperkenalkan dengan prinsip-prinsip dasar desain, seperti penekanan (apa yang menjadi pusat perhatian dalam suatu komposisi), keseimbangan (bagaimana komponen-komponen foto disusun di sekitar pusat perhatian), harmoni (keberimbangan penggunaan elemen-elemen yang serupa di dalam foto), variasi (penggunaan elemen-elemen yang berbeda untuk menimbulkan daya tarik), gerakan (bagaimana bentuk, garis, dan warna mengarahkan mata dan saling berinteraksi untuk memberikan kesan gerak), proporsi (skala relatif objek dan bentuk dengan objek-objek dan bentuk-bentuk lain di dalam bingkai foto), dan ritme (bagaimana garis-garis imajiner disusun sedemikian rupa sehingga mampu memberikan ketukan yang berirama bagi mata yang melihatnya).

Hal-itu tidak diajarkan semata-mata sebagai teori, namun sebagai rangkaian praktik yang terus-menerus sehingga lama-kelamaan siswa terbiasa mengamati den berinteraksi dengan objek-objek di sekitarnya secara intense serta dapat menginternalisasi Seni Melihat sebagai bagian dari pengalaman sehari-harinya.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s