Kontrak Sosial


Negara pada dasarnya adalah sebuah kesepakatan atau kontrak sosial di antara sekelompok orang yang mendiami suatu wilayah (rakyat).

Dalam kontrak itu, rakyat rela menyerahkan sebagian hak dan kebebasan yang dimilikinya kepada negara/pemerintah yang mereka bentuk demi melindungi hak-hak lain yang mereka miliki. Maka, jika negara tak mampu memenuhi kewajiban-kewajibannya, rakyat boleh jadi perlu merundingkan kembali kontrak yang telah mereka sepakati dan/atau merundingkan kontrak atau kesepakatan-kesepakatan baru, agar tujuan mereka bernegara tercapai.

Negara tidak dengan sendirinya suci dan harus dibela dengan segenap jiwa dan raga dan segala pengorbanan. Negara (hanya) suci dan perlu kita bela dengan segenal jiwa dan raga karena ia adalah kita, perwujudan dari kehendak dan kesepakatan kita, dan wujud dari pengorbanan-pengorbanan yang telah telah kita berikan demi tujuan bersama yang telah kita sepakati.

Kontrak kita sebagai sebuah negara ada dalam konstitusi kita. Konstitusi itu berisi hal-hal yang telah kita sepakati: tentang tujuan kita bernegara, tetang lembaga-lembaga yang kita bentuk untuk melindungi kepentingan-kepentingan kita dan mengatur dan menciptakan sistem tata kelola yang berkeadilan demi mencapai tujuan yang telah kita sepakati; lembaga-lembaga yang menjamin terpenuhinya hak-hak rakyat dan terlaksananya keadilan jika terjadi sengketa di antara seorang individu dengan individu lain, satu golongan dengan golongan lain.

Cinta kita pada negara adalah cinta kita pada diri sendiri, pada kerabat dan tetangga, pada sesama, dan pada tanah air tempat kita berpijak dan mencari penghidupan. Ketundukan kita pada negara adalah penghormatan kita pada kesepakatan-kesepakatan yang telah kita buat sendiri. Pengorbanan kita untuk negara adalah pengorbanan kita untuk diri dan kepentingan kita sendiri serta kesepakatan-kesepakatan yang telah kita teken sendiri. Kita bisa melakukan itu semua selama kita yakin bahwa negara terus berupaya mewujudkan cita-cita kita. Kita bisa berhenti melakukan itu semua jika negara khianat pada cita-cita kita, telah dibajak oleh orang-orang dan kepentingan-kepentingan yang berlawanan dengan cita-cita kita, dan menciderai amanah yang telah kita berikan kepadanya.

Negara adalah kita. Negara ada karena kita. Kita yang membangunnya, kita yang menjaganya dan merawatnya, kita pula yang akan membelanya. Namun jika negara tak lagi menjadi kita — karena telah dibajak, atau karena ia secara organis tak lagi mencerminkan atau mampu bergerak menuju cita-cita yang kita sepakati — maka kita bisa menyusunnya kembali.

Negara itu seperti rumah. Seperti sarang lebah. Kitalah penghuninya, pembangunnya, penjaganya.

2 pemikiran pada “Kontrak Sosial

  1. Membaca tulisan ini mengingatkan saya tentang satu post yang sempat muncul di linimasa Tumblr saya, sebuah foto dengan tulisan “dépaysement” dalam ukuran huruf besar, dengan caption dibawahnya “One’s feeling of not belonging in his/her own country”
    🙂

    Saya pernah mengalami hal serupa, merasa asing di negara sendiri (mungkin karena saya merasa bahwa di negara ini banyak hal-hal yang membuat saya kehilangan sosok Indonesia yang saya harapkan). Sejak kecil saya didoktrin dengan statement-statement seperti “Orang Indonesia itu ramah-ramah” dan semacamnya. Beranjak dewasa, saya mulai menyadari bahwa apa yang tertanam sejak kecil di pikiran saya tidak sepenuhnya benar.

    Saya mulai bertanya, benarkah negara ini adalah negara yang ramah? Benarkah kita negara kaya? Usia semakin bertambah dan saya melihat lebih banyak lagi hal-hal yang membawa saya lebih jauh dari gambaran Indonesia yang saya kenal–gambaran yang ditanamkan sejak kecil oleh guru-guru di sekolah dasar tentang Indonesia yang kaya dan ramah.

  2. Membaca tulisan ini mengingatkan saya tentang satu post yang sempat muncul di linimasa Tumblr saya, sebuah foto dengan tulisan “dépaysement” dalam ukuran huruf besar, dengan caption dibawahnya “One’s feeling of not belonging in his/her own country”
    🙂

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s