Dangdut


Saya dibesarkan dengan musik dangdut. Tidak di rumah. Rumah kami termasuk sepi dari musik. Waktu saya masih kecil, saya ingat hanya ada satu radio transistor, lalu tape recorder, lalu televisi hitam putih, yang — kalau tidak salah — dibeli oleh ibu ketika saya kelas enam SD.

Ayah saya tidak suka musik. Ibu saya tampaknya juga tidak begitu peduli pada musik, meskipun beliau konon suka menyanyi waktu masih gadis. Seingat saya, di rumah sangat jarang terdengar musik sampai kami — saya dan adik-adik — mulai beranjak remaja dan punya radio atau radio-tape sendiri.

Tapi musik dangdut ada di mana-mana. Boleh dikatakan, kampung kami adalah kampung dangdut, desa kami desa dangdut, dan kota kami juga kota dangdut. Ia terdengar di lontrong (gang) tempat tinggal kami, di pranggok tempat pekerja-pekerja kami membuat batik atau menenun, dan hajatan-hajatan pernikahan atau sunatan.

Konser-konser dangdut dari penyanyi-penyanyi lokal, regional, dan nasional selalu menjadi peristiwa besar yang ramai dikunjungi orang. Lebih ramai dari pertunjukan wayang, yang tampaknya tak sepopuler dangdut di daerah kami. Ketika biduan sekelas Rhoma Irama (Oma Irama, waktu itu), Elvie Sukaesih, atau orkes-orkes papan atas menggelar konser, seluruh kota tumpah ruah di tempat pertunjukan. Orang-orang dari kampung-kampung dan desa-desa di sekitar kota hingga yang dari sisi gunung yang jauh di pelosok meruap ke lapangan atau stadion tempat pertunjukan diadakan.

Meskipun populer, dangdut tentu saja tak disukai semua orang. Ada segmen-segmen tertentu dalam masyarakat kami yang merasa dangdut tak sepadan dengan kelas sosial mereka. Orang-orang (yang merasa) berpendidikan, kelas menengah dan orang-orang yang secara tradisi menjadi semacam ‘menak’ dalam masyarakat kami (yang sebenarnya cukup egaliter) ada yang menganggap dangdut sebagai identitas orang-orang pinggiran, buruh, dan orang-orang yang kurang berpendidikan.

Keluarga besar kami mungkin termasuk dalam segmen itu. Kami merasa berpendidikan, mementingkan pendidikan, dan punya kebanggaan tersendiri tentang tradisi berpendidikan dalam keluarga kami. Mungkin karena itulah, dangdut menjadi semacam enigma: ia mengepung kami dari mana-mana; namun, selapis tipis gengsi membuat kami memalingkan muka ke arah lain.

Muka kami boleh jadi berpaling dari dangdut, tapi telinga kami tidak mungkin. Kami dikepung oleh dangdut. Ia menyusup ke dalam ruang-ruang bawah sadar kami seperti udara masuk ke dalam paru-paru kami.

Maka, meskipun berpuluh-puluh tahun saya berkembara selera ke musik-musik yang dianggap ‘berkelas’, sensibilitas pada ritme dan nada-nada dangdut tak mungkin terhapus begitu saja. Ia seperti air hujan yang menyusup ke dalam tanah, terserap oleh akar-akar pohon-pohon kesadaran kami. Pada saatnya, air itu akan muncul seperti mata air jernih segar yang merembes keluar, mata air yang dengannya kami (saya) dapat memuaskan dahaga estetik musikal kami.

Jenis-jenis musik lain bisa jadi pernah merasuk ke dalam jiwa saya. Namun rasanya tak satupun yang bisa menetap dan tak menimbulkan rasa bosan seperti musik dangdut. Ketika saya bosan dengan musik-musik lain, musik dangdut tetap dan selalu terasa menyegarkan.

2 pemikiran pada “Dangdut

  1. berbeda dengan, Bapak. mungkin saya ini termasuk masyarakat kelas rendahan yang suka dangdut. Dulu ketika masih kecil, betapa saya terkagum-kagum dengan aksi panggungnya Vetty Vera dan Itje Trisnawati. walaupun pada waktu itu yang saya bahas dengan kakak saya adalah masalah lampu panggungnya bukan lagu atau musik dangdutnya.🙂. Saya juga yang berkesempatan melanjutkan sekolah di kota, mulailah masuk jadi orang yang “berkelas” mulai enggan mendengarkan musik dangdut, karena sudah terkena pengaruh musik-musik teman-teman saya dulu, semacam Lim Bizkit, Linkin Park, the Beatles dan semacamnya. Tapi pada akhirnya saya tetap merindukan lagu-lagu dangdut. terutama lagu-lagu zaman dahulu saya masih kecil. Rhoma Irama, Evie Tamala, Elvi Sukaesih, Mega Mustika danmasih banyak penyanyi dangdut lainnya, masih menghiasi deretan lagu yang ada di laptop saya. Salam Dangdut, Pak,🙂

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s