Prabowo-Hatta atau Jokowi-JK?


Hingga hari keempat sejak dimulainya masa kampanye Pemilu Presiden 2014 (4 Juni – 5 Juli), belum satupun pihak yang menghubungi saya untuk menjadi juru kampanye bagi kubu mereka (Kata anak sekarang: cieee … cieee … emang siapa eloh? Penting?). Karena itu, saya merasa tidak perlu menjadi juru kampanye bagi siapapun.😀

Baik Prabowo-Hatta maupun Jokowi-JK kedua-duanya, menurut saya, baik dan pantas untuk dipilih menjadi pemimpin negara untuk masa lima tahun yang akan datang. Pernyataan ini tentu tidak berarti bahwa saya tidak punya pilihan dan/atau akan golput. Pada waktunya saya akan memberikan suara saya bagi salah satu dari mereka.

Saya memang boleh dibilang pemilih mengambang (swing voter). Pilihan saya akan sangat bergantung pada keyakinan yang dapat saya peroleh setelah mempelajari apa yang mereka tawarkan untuk negara ini serta segala sesuatu yang menurut saya penting dimiliki oleh seorang pemimpin negara yang punya 1001 masalah yang perlu segera dibenahi seperti Indonesia ini.

Soal pilihan pemimpin memang tidak mudah. Ada banyak pertimbangan dan kepentingan. Soalnya bukan cuma mampu atau tidak mampu, pantas atau tidak pantas. Kalau cuma itu pertimbangannya, mungkin kita akan bisa selalu berhasil mendapatkan pemimpin yang ‘terbaik’.

Kita ini mahluk yang kompleks. Hasrat, keinginan, dan cita-cita kita, pilihan, aliansi, dan kesetiaan kita pada sesuatu atau seseorang tak selalu rasional. Tidak ada sesuatu hal pun yang murni objektif mengenai perilaku sosial kita, apalagi kalau sudah berkenaan dengan kekuasaan dan pembagian kekuasaan serta kepentingan dan transaksi kepentingan, yang merupakan inti dari perilaku politik kita sebagai zóon politikón.

Selalu ada pertimbangan-pertimbangan yang bersifat irasional, emosional, naluriah, primordial atau apapun selain rasional dalam pilihan-pilihan kita. Kita boleh jadi tahu bahwa seorang calon pemimpin mempunyai nilai plus dalam banyak hal; kita boleh jadi tahu bahwa dia menawarkan hal-hal yang kalau dipandang secara rasional semata baik adanya. Namun, kalau kita tahu bahwa dia bukan dari golongan kita, kemungkinan besar kita tidak akan memilihnya. Kita akan khawatir, takut, bahwa dia akan menomorduakan atau menyingkirkan kepentingan-kepentingan golongan kita jika dia menjadi pemimpin kita.

Takut dan khawatir adalah emosi primordial kita jika berhadapan dengan ‘musuh’. Maka, sekuat apapun jaminan yang diberikan bahwa pemimpin itu nantinya akan berbuat adil jika terpilih, tidak akan sekuat perasaan takut dan khawatir itu. Kita akan selalu curiga, dan kecurigaan itu membuat kita berpaling dan menjauhi pilihan itu.

Penampilan dan citra adalah contoh lain yang dapat mengilustrasikan betapa pilihan kita tidak didasarkan semata-mata pada apa yang secara rasional baik dan menguntungkan. Kita cenderung tertarik pada citra dan wujud yang meyakinkan dan memberi rasa tentram pada orang-orang yang akan kita pilih sebagai pemimpin. Penampilan dan citra, saya yakin, memiliki andil cukup besar dalam pemenangan pasangan SBY-Budiono pada pemilu presiden tahun 2009. JK, yang kala itu berpasangan dengan Wiranto, tak mampu mengungguli SBY-Budiono karena penampilan dan citranya tak sekuat SBY, meskipun banyak orang tahu JK mempunyai kinerja yang sangat bagus dan program-program yang ditawarkannya waktu itu, menurut saya, secara rasional lebih kuat. Mengenai hal ini, saya ingat betul seorang teman saya yang pada pemilu presiden tahun 2004 dengan gamblang menyatakan akan memilih SBY karena dia lebih ‘mpresideni’ (berpenampilan dan bercitra lebih meyakinkan untuk menjadi presiden).

Dengan wewara seperti ini, saya hanya ingin mengatakan bahwa di tengah segala hiruk-pikuk yang sedang berlangsung menjelang pemilihan presiden ini, kita hendaknya tidak lupa bahwa kita tidak sepenuhnya rasional; bahwa motivasi dan keyakinan di balik pilihan kita sebenarnya sangatlah kompleks dan lebih sering digerakkan oleh ‘prejudice’ (prasangka) emosional dan primordial yang sebelumnya telah tertanam dalam diri kita. Dalam permainan ini, bukti dan rasio seringkali hanya dijadikan sebagai pembenar atas keyakinan yang sebelumnya telah kita miliki, dan penyalah bagi pilihan orang-orang yang berbeda pilihan dengan kita.

Demikian!

Bandung, 8 Juni 2014
Eki Akhwan

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s