Persepsi atas Hasil Debat Pertama Capres 2014


Debat pertama capres yang digelar Senin kemarin (9/6/20014) semakin menguatkan pandangan dan pendapat yang saya tulis tanggal 8 yang lalu: bahwa bagi banyak orang, pilihan seorang calon pemimpin tidaklah tidaklah semata-mata didasarkan pada pertimbangan rasio, dan bahwa prejudice seringkali lebih berkuasa ketimbang alasan-alasan lain.

Segera setelah debat selesai, saya mengamati status dan lini masa media sosial saya ramai dengan berbagai komentar. Para pendukung Jokowi-JK merasa debat itu jelas dimenangkan oleh jagoan mereka. Namun, para pendukung Prabowo-Hatta pun tak mau kalah. Bagi mereka, jagoan merekalah yang tetap lebih unggul.

Fenomena yang sama, fakta yang sama, bisa dipersepsi dan dibaca berbeda oleh orang-orang yang berbeda. Ini menunjukkan bahwa sistem persepsi kita bukanlah ruang terbuka dan kosong, yang tanpa pintu dan tanpa isi. Pintu dan isi yang telah ada dalam ruang itulah yang berinteraksi dengan apa yang ada di luarnya dan/atau mencoba masuk ke dalam ruang persepsi kita. Maka, apa yang kita tangkap — dan akhirnya masuk ke dalam sistem kita — bukanlah memata-mata fenomena atau fakta itu sendiri, bukan objeknya saja, melainkan hasil interaksi dari apa yang sudah ada sebelumnya, apa yang datang/masuk, dan filter-filter yang telah kita pasang di gerbang ruang persepsi kita.

Objektivitas hanyalah ilusi, karena fenomena dan fakta tidak pernah berdiri di ruang kosong. Ia ada karena dipersepsi oleh subjek (kita). Oleh karena itu, objek yang telah menjadi bahan pembicaraan subjek selalu bersifat subjektif, atau paling tidak mengandung subjektivitas.

Berkaitan dengan debat pertama capres dua hari yang lalu, menarik disimak beberapa contoh reaksi dari para pendukung masing-masing kubu:

Pendukung Jokowi-JK menganggap jagoannya menang telak karena mereka mampu mengungkapkan visi dan misi mereka dengan gamblang, konkret, dan disertai rujukan-rujukan pada pengalaman yang telah mereka lakukan, antara lain soal turun ke lapangan untuk mendengarkan aspirasi publik (blusukan), sistem pembangunan pemerintahan berbasis teknologi informasi (TI), pola rekrutmen yang adil dengan seleksi dan promosi yang terbuka, dan lain-lain.

Untuk hal yang sama, para pendukung Prabowo-Hatta menganggap apa yang dikemukakan oleh Jokowi-JK adalah pekerjaan manajer. Menurut mereka, seorang calon pemimpin negara seharusnya mengungkapkan hal-hal yang bersifat konseptual dan grand-design seperti yang dikemukakan oleh Prabowo-Hatta karena tugas-tugas manajerial dapat dilakukan oleh pejabat-pejabat teknis sekelas dirjen atau yang di bawahnya, gubernur, bupati atau walikota.

Beberapa pendukung Prabowo-Hatta di media sosial juga tampak tidak peduli dengan hasil debat. Mereka tetap menganggap bahwa pasangan nomor 1 lebih baik karena mereka didukung oleh lebih banyak ulama dan agamawan. Mereka tetap khawatir bahwa pasangan Jokowi-JK terlalu sekuler dan tidak mewakili aspirasi mereka. Mereka tidak terlalu peduli dengan hal-hal teknis yang dikemukakan oleh pasangan calon nomor 2.

Kenyataan ini menunjukkan bahwa debat dan pemaparan visi dan misi calon presiden tampaknya tidak akan banyak berpengaruh pada para pemilih yang sudah berketapan hati dan memiliki prejudice mereka sendiri. Debat dan pemaparan visi dan misi hanya akan berpengaruh pada para pemilih mengambang (swing voters) yang tidak memiliki preferensi ideologis dan/atau prejudice yang telah tertanam sebelumnya.

Mengenai hal ini, saya ingat betul pada pemilihan presiden Amerika Serikat pada tahun 2004 yang secara langsung saya ikuti dan amati. Dari beberapa kali debat yang digelar waktu itu, jelas tampak bahwa John Kerry (calon dan penantang dari Partai Demokrat) mengungguli pesaingnya George W. Bush (petahana dari Partai Republik). John Kerry sangat menguasi bahan perebatan dan memiliki pengalaman yang lebih luas dan mendalam perihal topik-topik yang diperdebatkan. Namun seperti kita ketahui, Kerry akhirnya kalah dari Bush. Kekalahan itu, sejauh pengamatan saya, bersumber pada dua hal:

Pertama, persepsi publik yang berhasil dibentuk oleh iklan-iklan yang ditanyangkan oleh kubu George W. Bush mengenai John Kerry, di mana Kerry digambarkan sebagai tokoh yang plin-plan dan dianggap tak akan kompeten sebagai Panglima Tertinggi (Commander in Chief), jabatan yang secara otomatis dipegang oleh Presiden, dalam masa Perang Melawan Terorisme yang merupakan salah satu isu utama dalam pemilihan presiden waktu itu. Penggambaran Kerry dilakukan dengan melepaskan kata-kata dan tindakan-tindakan Kerry sebagai anggota Kongres dari konteksnya.

Kedua, tentu saja, adalah kesetiaan ideologis yang dimiliki oleh para pendukung Partai Republik yang menganggap ideologi Partai Demokrat — yang cenderung ke kiri, pro pada ‘big government’, dan liberal — dapat mengancam kesejahteraan mereka dan melahirkan kebijakan-kebijakan yang bertentangan dengan nilai-nilai konservatis fundamental Kristen yang mereka yakini, seperti legalisasi aborsi dan pernikahan sesama jenis.

Hal serupa bisa saja terjadi di sini. Isu ideologis dan kesetiaan pada golongan tetap akan menjadi daya dorong yang kuat dalam memilih pemimpin. Ideologi dan kesetiaan pada golongan bukanlah sesuatu yang objektif dan rasional, dan seringkali tak dapat ditembus oleh hal-hal seperti visi dan misi yang bersifat pragmatis dan praktis.

Demikian.

Eki Akhwan,
11 Juni 2014

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s