Pascamodernisme Menurut Frederic Jameson (Bagian Pertama)


Catatan:

Pascamodernime adalah pengalihbahasaan istilah ‘postmodernism’ yang secara resmi telah diakui oleh KBBI, meskipun sebagian sarjana di bidang filsafat, kajian budaya, dan kajian sastra masih ada yang menggunakan istilah ‘postmodernisme’ dan ‘posmodernisme’. Saya berpihak pada istilah pascamodernisme agar tata peristilahan ilmiah di dalam Bahasa Indonesia ajeg dengan kaidah yang telah ditetapkan.

Tulisan ini saya alihbahasakan dan ikhtisarkan dari Bab I tulisan asli Frederic Jameson berjudul “Postmodernism or The Cultural Logic of Late Capitalism” (Verso, 1991).

________________

Kemunculan istilah pascamodernisme, menurut Jameson, bertumpu pada hipotesis-hipotesis tentang jeda atau patahan (break or coupure) radikal yang umumnya bisa ditelusuri kemunculannya pada akhir tahun 1950-an atau awal tahun 1960-an.

Jeda atau patahan yang dimaksud oleh Jameson adalah fenomena-fenomena yang berkaitan dengan memudar atau punahnya gagasan-gagasan yang dihasilkan oleh gerakan modern atau penolakan/penyangkalan atas warisan ideologis atau estetiknya. Sebagai contoh, Jameson menyebut layu atau matinya ekpresionisme abstak dalam seni lukis, eksistensialisme dalam filsafat, bentuk-bentuk representasi wasana (final) dalam novel, film-film dari para auteur hebat, dan puisi-puisi dari aliran atau mahzab modernis (sebagaimana yang dilembagakan dan dikanonisasikan dalam karya-karya Wallace Stevens). Sebagai gantinya, munculah gagasan-gagasan yang semrawut (chaotic), heterogen, sekaligus empiris, seperti pop art-nya Andy Warhol, realisme foto (photorealism), dan “ekspresionisme baru”. Dalam dunia musik, muncul the moment-nya John Cage, sintesa gaya klasik dan “populer” seperti yang dapat dijumpai dalam karya-karya komposer seperti Phil Glass dan Terry Riley, punk dan new wave rock. Di dunia film, muncul Godard dan pasca-Godard, film-film dan video eksperimental, serta film-film komersil jenis baru. Di bidang sastra, tokoh-tokoh seperti Burroughs (William S. Burroughs), Pynchon (Thomas Pynchon), atau Ishmael Reed muncul bersamaan dengan kemunculan roman baru (nouveau roman) Perancis dan jenis-jenis baru kritik sastra yang didasarkan pada estetik tekstualitas baru atau écriture yang menggegerkan.

Daftar di atas dapat diperpanjang tanpa batas. Namun apakah hal itu mengisyaratkan adanya perubahan atau jeda dan bukan hanya perubahan-perubahan gaya dan mode berkala yang didiktekan oleh keharusan inovasi gaya dalam modernis-tinggi lama (older high-modernist)?

(Bersambung)

Satu pemikiran pada “Pascamodernisme Menurut Frederic Jameson (Bagian Pertama)

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s