Pascamodernisme Menurut Frederic Jameson (Bagian Kedua)


Lanjutan dari Bagian Pertama

Menurut Jameson, salah satu ciri fundamental Pascamodernisme adalah penghapusan batas antara budaya tinggi dan apa yang disebut sebagai budaya massa atau budaya komersil, dan munculnya jenis-jenis teks yang berisi bentuk-bentuk, kategori-kategori, dan muatan-muatan industri budaya yang secara mati-matian dicela oleh semua ideolog modern, dari Leavis dan Kritik Baru Amerika hingga Adorno dan Mahzab Frankfurt. Pascamodernisme justru terpesona dengan lanskap rendahan schlock (barang murahan) dan kitsch (barang tiruan), serial televisi dan budaya Reader’s Digest, reklame dan motel, acara-acara larut malam di televisi dan film-film Hollywood kelas-B, dan apa yang disebut sebagai paraliteratur dengan kategori-kategori buku-buku bersampul tipis (paperback) yang dapat ditemui di bandara seperti gothic, roman, biografi populer, misteri pembunuhan, novel fiksi ilmiah atau fantasi: bahan-bahan yang tak lagi cuma “dikutip” sebagaimana yang mungkin akan dilakukan oleh penulis-penulis seperti Joyce atau Mahler, namun betul-betul menjadi bagian utama dari isinya.

Persoalan jeda juga tak dapat semata-mata dianggap sebagai masalah kultural: teori-teori Pascamodernisme — baik yang merayakannya maupun yang ditulis dengan ungkapan-ungkapan yang jijik dan mendakwa — memiliki kemiripan yang sangat dekat dengan generalisasi sosiologis yang lebih ambisius yang mewartakan tentang kedatangan dan awal dari tipe masyarakat yang sama sekali baru yang dikenal sebagai “Masyarakat Pascaindustri” (Postindustrial Society) (Daniel Bell), masyarakat konsumen, masyarakat media, masyarakat informasi, masyarakat elektronik atau teknologi tinggi, dan sebagainya. Teori-teori semacam itu memiliki misi ideologis yang gamblang, yaitu membuktikan bahwa bentuk masyarakat baru tersebut tak lagi mengikuti/patuh pada hukum-hukum kapitalisme klasik yang mengutamakan produksi industri dan menghadirkan pertentangan kelas di mana-mana. Karena hal itulah, tradisi Marxis mati-matian menentangnya, kecuali ekonom Ernest Mandell yang bukunya Kapitalisme Mutakhir (Late Capitalism) bukan cuma berusaha membedah asal-usul historis masyarakat baru ini (yang menurutnya merupakan merupakan tahap atau momen ketiga evolusi kapital), namun juga berusaha membuktikan bahwa masyarakat ini adalah tahap kapitalisme yang lebih murni ketimbang momen-momen yang telah mendahuluinya. Dengan demikian, tegas Jemeson, setiap posisi/pendapat tentang pascamodernisme dalam budaya — baik yang membela maupun yang mencela — adalah juga dan pada saat yang bersamaan, mau tidak mau, secara implisit maupun eksplisit, merupakan pendapat politis tentang sifat kapitalisme multinasional dewasa ini.

(Bersambung)

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s