Hasil Debat Kedua Capres 2014


Debat kedua calon presiden yang berlangsung tadi malam (Ahad, 15/6/2014) menurut saya lebih menarik daripada debat pertama yang diadakan tanggal 9 yang lalu.

Setidaknya ada tiga hal yang membuat debat itu lebih menarik:

Pertama, isu yang diangkat adalah soal pembangunan ekonomi dan kesejahteraan sosial — isu yang saya kira lebih menarik bagi kebanyakan orang ketimbang isu politik yang seringkali disikapi apatis oleh orang-orang awam. Masalah pekerjaan, penghasilan, ketersediaan pangan, sandang, papan, dan layanan pendidikan dan kesehatan jauh lebih relevan bagi kebanyakan orang ketimbang isu pembangunan sistem politik, penegakan hukum, reformasi birokrasi, DPR, masalah-masalah kepartaian, HAM, dan sebagainya. Meskipun tak kalah penting dari masalah ekonomi, bagi awam masalah-masalah politik adalah ingar-bingar periferal, karena apa yang ingin mereka dengar adalah jawaban atas pertanyaan “Apa yang akan atau dapat Saudara lakukan sebagai pemimpin untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi kami?”

Kedua, para capres — yang kali ini tampil solo tanpa didampingi calon-calon wakilnya — tampak sudah lebih “teraklimatisasi” pada tuntutan dan suasana debat serta lawan debatnya. Debat pertama membuat mereka sudah punya gambaran yang lebih nyata tentang apa yang akan terjadi di panggung dan apa yang kira-kira akan dilakukan atau dikatakan oleh lawan debatnya. Secara psikologis, mereka tampak lebih siap.

Selain kedua hal itu, bagi kita, penonton, “pertarungan” kedua ini juga semakin memberikan gambaran tentang “pola permainan” dan “gaya bermain” dari masing-masing “petarung”. Kita bisa semakin melihat petarung macam apa calon nomor urut 1 dan calon nomor urut 2. Paling tidak, demikianlah yang saya amati.

Prabowo Subianto, calon nomor urut 1, kita tahu sekarang, memiliki pola pikir yang besar dan tampak lebih ekologis dibandingkan pesaingnya, Joko Widodo (Jokowi), calon nomor urut 2, yang cenderung mendekati masalah dengan cara-cara berpikir yang pragmatis-praktis. Hal itu tampak antara lain dari cara Jokowi mengawali pemaparan visi-misinya dengan menyebut contoh-contoh masalah lokal yang dihadapi oleh individu-individu rakyat yang pernah ditemuinya dan bagaimana dia akan mengatasi masalah-masalah tersebut, sementara Prabowo Subianto memulai pemaparan visi-misinya dengan mengungkapkan peta besar masalah yang dihadapi oleh negara ini, yaitu kebocoran kekayaan negara yang sedemikian masif — kekayaan yang menurutnya seharusnya bisa digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, dan bagaimana dia akan menggunakan dana yang diselamatkan dari kebocoran itu untuk memperbaiki kondisi sosial ekonomi rakyat.

Fakta itu boleh ditafsirkan berbeda-beda oleh masing-masing kubu pendukung. Bagi pendukung Jokowi, hal itu boleh jadi dianggap sebagai kekuatannya: bahwa dia betul-betul mengenal rakyatnya di tingkat akar rumput. Namun bagi pendukung Prabowo, hal itu mungkin dapat ditafsirkan sebagai kelemahan Jokowi yang kurang mengenal peta besar masalah yang dihadapi bangsa ini, dan bahwa Jokowi terlalu memperhatikan pohon-pohon sehingga abai pada hutan tempat pohon-pohon itu tumbuh dan ekosistemnya.

Pola itu terus berlangsung sepanjang perdebatan. Joko Widodo terus-menerus mengacu pada hal-hal pragmatis-praktis yang pernah dilakukannya sebagai Walikota Solo dan Gubernur DKI Jakarta, dan bagaimana hal-hal itu akan diteruskan dan dikembangkannya kalau dia terpilih menjadi presiden (Kartu Jakarta Sehat menjadi Kartu Indonesia Sehat, Kartu Jakarta Pintar menjadi Kartu Indonesia Pintar, sistem lelang elektronik, sistem anggaran elektronik, sistem perizinan elektronik, tol laut untuk mengurangi kesenjangan ekonomi antarwilayah, dan sebagainya). Sementara itu, Prabowo Subianto berbicara tentang angka-angka kebocoran kekayaan negara yang merepresentasikan akar dan peta besar masalah yang dihadapi oleh Indonesia, dan hal-hal besar yang direncanakannya dengan menggunakan dana yang dapat dia selamatkan dari kebocoran-kebocoran itu (mencetak 2 juta kektar sawah baru untuk menambah cadangan pangan dan 2 juta hektar lahan perkebunan untuk bahan etanol/bahan bakar biomasa yang menurutnya bisa menciptakan 24 juta lapangan kerja baru, meningkatkan penghasilan aparatur negara, serta meningkatkan pembangunan infrastruktur).

Selain pola pikir dan substansi gagasan, hal lain yang menarik untuk diperhatikan adalah cara kedua calon itu mengemukakan pikiran-pikirannya. Di awal perdebatan, Joko Widodo perlu melihat catatan yang telah disiapkannya untuk mengemukakan visi-misinya. Sementara Prabowo Subianto tampak lancar mengemukakan visi-misinya tanpa harus melihat catatan apapun. Visi dan misinya bahkan dilengkapi dengan data-data yang dihafalnya di luar kepala. Sekali lagi, fakta ini bisa ditafsirkan berbeda oleh masing-masing kubu pendukung. Namun bagi saya, hal ini menunjukkan kemungkinan bahwa Prabowo sudah cukup lama memikirkan dan mengendapkan visi dan misinya itu di dalam otaknya, sehingga visi dan misi itu betul-betul sudah menyatu dengan dirinya dan menjadi bagian dari keyakinannya.

Insiden di mana Prabowo terpaksa menanyakan kepanjangan dari singkatan TPID yang digunakan Joko Widodo dalam salah satu pertanyaannya, mungkin bisa dijadikan bukti oleh kubu Jokowi untuk menuding bahwa Prabowo tidak menguasai hal-hal teknis secara rinci. Namun bahwa Prabowo dengan terus terang menyatakan ketidaktahuannya dan meminta Joko Widodo untuk menjelaskannya, menurut saya, justru menunjukkan bahwa Prabowo adalah pribadi yang tak malu bertanya dan mau belajar dari siapapun (termasuk dalam hal ini lawan tandingnya) agar dia dapat memberi jawaban dan mengambil tindakan yang tepat. Sifat ini saya kira sangat penting bagi seorang pemimpin. Dia tak perlu sok tahu kalau memang belum tahu, apalagi kalau informasi yang diperlukannya itu penting sebagai bahan pertimbangan dalam membuat keputusan.

Selain itu, ketakragu-raguan Prabowo untuk menyetujui pendapat Jokowi tentang penguatan ekonomi kreatif, yang dianggapnya bagus (bahkan dengan mengabaikan pesan yang sebelumnya telah diberikan oleh para penasehat debatnya, dan dengan datang langsung mendekati Joko untuk menyalami dan bercipika-cipiki dengannya), bagi saya menunjukkan sisi kepribadian Prabowo yang ksatria: bahwa jika memang lawan memiliki keunggulan atas dirinya, dia memang sepantasnya mengakui dan menghormatinya; bahwa seorang pemimpin tak seharusnya menutup diri untuk mendengar “kebenaran” dari manapun asalnya, dan harus dapat membuat keputusan yang diyakininya benar tanpa mempedulikan pesan sponsor dari pihak manapun. Independensi (kemandirian) semacam ini sangat penting bagi pemimpin yang diharapkan memimpin bangsa yang besar dan kaya yang telah lama menjadi “bancakan” bagi kepentingan-kepentingan asing.

Dari debat malam tadi, ada dua hal yang menggerakkan saya sebagai seorang swing voter untuk berayun (swing) ke arah kubu Prabowo: Pertama, kecenderungan Prabowo yang mampu melihat peta besar (hutan dan ekosistemnya) ketimbang semata-mata pohon-pohon yang menjadi penghuni hutan itu. Kedua, sifat ksatria dan leadership-nya. Bagi saya, kedua sifat itu lebih cocok dan diperlukan untuk memimpin bangsa besar dengan masalah-masalah yang besar seperti Indonesia saat ini. Pola pikir, kepribadian, dan gaya kepemimpinan Jokowi, yang sebenarnya juga tak kalah bagus, menurut saya lebih tepat untuk menangani masalah-masalah yang bersifat manajerial atau teknis dengan cakupan yang lebih terbatas, seperti perusahaan, kota, atau kementrian. Kita perlu pemimpin yang visioner dan bisa melihat peta besar masalah dan mengambil tindakan-tindakan besar untuk mengatasinya, dan bukan cuma manajer atau administratur yang hanya mampu melakukan perbaikan-perbaikan mikro.

Demikian keyakinan dan pendapat saya hingga saat ini. Saya setuju dengan Iswadi Syahputra, pengamat komunikasi dari UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, yang, seperti dikutip oleh Kantor Berita Antara, mengatakan bahwa debat capres tadi malam “sudah sangat jelas menunjukkan kelas dan kualitas capres. Prabowo menguasai hal-hal yang strategis buat negara sedangkan Jokowi mengusai hal teknis daerah.”

________________________

Catatan:

    Program Kartu Indonesia Sehat yang ditawarkan Jokowi sebenarnya sudah tidak diperlukan lagi, karena sejak disahkannya Undang-Undang Nomor 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional dan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial dan perundang-undangan lain yang terkait serta Peraturan Pemerintah dan Keputusan Presiden yang mengatur pelaksanaannya, program itu sebenarnya telah bergulir dan mulai dilaksanakan tahun ini. Jadi, apa yang ditawarkan Jokowi hanya bungkus kosong yang tak berisi, meskipun dia dengan bersemangat berkali-kali menunjukkan kartu itu di panggung debat. Pemilih yang abai, miskin informasi, dan dikuasai oleh prejudice-nya barangkali bisa diperdaya oleh gestur-gestur itu. Tapi pemilih cerdas yang terbuka dan kaya informasi tentu tak akan termakan dengan gestur-gestur itu.

    Program Bantuan Dana Desa (PBDD) 1 miliar per tahun yang dijanjikan oleh Prabowo dan dipersoalkan oleh Jokowi justru dapat dijawab dengan baik oleh Prabowo. Memang PBDD sudah menjadi program pemerintah sejak disahkannya UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa. Namun Prabowo menyatakan bahwa deklarasi tentang PBDD itu sudah dilakukannya sejak 26 Oktober 2013, jauh sebelum Undang-Undang tentang Desa disahkan oleh DPR, dan — menurut pengakuannya paling tidak — deklarasi itulah yang justru telah mendorong DPR mempercepat pengesahan UU Desa yang telah terkatung-katung selama 7 tahun.

4 pemikiran pada “Hasil Debat Kedua Capres 2014

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s