Hasil Debat Ketiga Capres 2014


Bagi para pendukungnya, Joko Widodo (Jokowi) adalah pemenang debat tentang Politik Internasional dan Ketahanan Nasional tadi malam. Namun bagi para pendukung Prabowo, justru Prabowo lah yang menang dan dianggap lebih menguasai isu-isu yang dibicarakan. Masing-masing punya alasannya sendiri-sendiri.

Ini catatan pribadi saya tentang debat itu.

Seperti dua debat sebelumnya, gaya kedua capres dalam debat malam tadi tetap sama: Prabowo dengan retorika dan konsep-konsep besar yang romantik dan menarik, dan Jokowi dengan elaborasi konkretnya yang lebih mudah ditangkap dan dimengerti oleh orang-orang awam.

Di awal perdebatan, dari bahasa tubuhnya terlihat Jokowi masih tampak gugup dan bergantung pada catatan yang dibawanya. Namun kegugupan itu menghilang seiring melajunya perdebatan. Sebaliknya, Prabowo, yang tampak percaya diri di awal perdebatan, justru mulai terlihat agak goyah ketika memasuki sesi tanya-jawab antarcalon.

Dilihat dari gagasan-gagasan yang dimunculkan, terdapat konsistensi di pihak Prabowo, bahwa akar segala permasalahan bangsa ini adalah bocornya kekayaan negara kepada pihak-pihak yang tak berhak yang menyebabkan Indonesia menjadi lemah dan kehilangan muruahnya di dunia internasional. Oleh karena itu, menurutnya, segala kebijakan politik internasional harus bertumpu pada perbaikan kondisi di dalam negeri: penguasaan kembali sumber-sumber daya nasional untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, sehingga wibawa bangsa menjadi lebih diperhitungkan di dunia internasional. Pernyataannya bahwa “politik luar negeri mau tidak mau adalah cermin dari kondisi dalam negeri [dan bahwa] politik luar negeri tidak akan berarti kalau kekuatan dalam negeri lemah” dapat dikatakan sebagai inti pemikirannya mengenai ketahanan nasional (ketahanan, dan bukan pertahanan, dalam hal ini dipergunakannya dengan tepat).

Kita tahu, hubungan antara kondisi dalam negeri dan kebijakan luar negeri bukan hal baru dalam buku-buku teks ilmu politik. Oleh karena itu, apa yang dikatakan Prabowo dapat dikatakan bersifat normatif saja, meskipun konteksnya mengena dan retorikanya memesona.

Jokowi pun konsisten dengan gayanya yang telah dikenal selama ini: dia menawarkan secara spesifik hal-hal yang bisa dilakukan untuk meningkatkan ketahanan nasional, meskipun hal-hal yang dikemukakannya itu dalam beberapa hal mencampuradukkan dan mengacaukan pengertian ketahanan dan pertahanan. Sebagai seorang calon presiden, kekacuan konseptual semacam itu semestinya tidak boleh terjadi. Kalau kita cermat, beberapa klaim yang dibuatnya juga hanya daur ulang atas apa yang selama ini telah menjadi kebijakan pemerintah-pemerintah terdahulu.

Idenya tentang pesawat tak berawak (drone) yang berfungsi ganda sebagai pencegah pencurian kekayaan maritim nasional dan pendeteksi awal acaman terhadap integritas wilayah RI, saya kira adalah hal yang paling menarik dari hal-hal yang dikemukakannya. Selain itu, dia juga menyebut pertahanan cyber dan pertahanan hybrid, dua konsep menarik yang sayangnya tak terungkap lebih lanjut secara cukup mendalam dalam perdebatan itu. Hingga akhir perdebatan, saya tidak menemukan kejelasan atas kedua konsep itu dari pernyataan-pernyataan Jokowi.

Hal-hal lain yang terungkap dalam perdebatan tadi malam sebenarnya nyaris tidak ada yang baru. Dukungan eksplisit Jokowi atas kemerdekaan Palestina yang dikemukakannya di awal perdebatan mungkin bisa membuat sebagaian orang awam bersorak. Namun orang yang banyak membaca pasti tahu bahwa posisi itu adalah posisi resmi Indonesia sejak zaman Sukarno. Tidak ada yang baru. Bisa jadi dia hanya mengemukakan hal itu sebagai pencitraan untuk menarik simpati golongan-golongan tertentu yang gigih menginginkan kemerdekaan Palestina namun tidak menyadari atau lupa bahwa itu posisi resmi Indonesia selama ini.

Masalah TKI — tentang perlunya penyiapan pra-keberangkatan, tentang pelarangan dan penghentian pengiriman TKI ke negara-negara yang tak memiliki perlindungan hukum bagi pekerja migran — pun demikian. Ide yang dikemukakan oleh Jokowi itu tidak sama sekali baru, karena hal-hal itu sudah dirintis dan mulai diimplementasikan pada zaman pemerintahan SBY. Pengembangan industri alutsista sebagai bagian dari industri strategis di dalam negeri pun demikian. Program itu telah dimulai (atau lebih tepatnya dihidupkan kembali) sejak periode pertama pemerintahan SBY untuk mengatasi compang-campingnya kondisi alutsista TNI akibat ketergantungan pada persenjataan impor dan kekurangan anggaran.

Satu hal yang cukup mengejutkan bagi saya adalah ketidaktahuan Jokowi bahwa sebagaian wilayah maritim kita di Laut Cina Selatan di dekat Kepulauan Natuna adalah termasuk wilayah yang diklaim oleh Cina. Tampak sekali bahwa dia tidak mengerti masalah ini, sehingga jawaban yang diberikannya atas pertanyaan Prabowo mengenai masalah ini terdengar terlalu umum bahkan seolah ingin berlepas tangan dengan mengatakan tidak ingin campur tangan dan terlibat dalam pusaran konflik di Laut Cina Selatan jika tidak mampu memberikan solusi yang jelas. Pernyataannya bahwa konflik Laut Cina Selatan adalah “urusan negara lain dan negara lain” menunjukkan kedangkalan pengetahuan geopolitisnya dan ketidaktahuannya tentang nilai strategis wilayah itu bagi Indonesia.

Peta terbaru yang dikeluarkan RRC (garis putus-putus merah) menunjukkan bahwa wilayah ZEE Indonesia di dekat kepulauan Natuna masuk ke dalam klaim wilayahnya.
Peta terbaru yang dikeluarkan RRC (garis putus-putus merah) menunjukkan bahwa wilayah ZEE Indonesia di dekat kepulauan Natuna masuk ke dalam klaim wilayahnya.

Bagi saya, debat tadi malam agak membosankan karena isu-isu yang muncul tidak baru dan hanya merupakan daur ulang dari apa yang telah ada. Selain itu, kedua calon juga memiliki beberapa kesamaan pandangan tentang sejumlah hal yang spesifik (misalnya masalah hubungan dengan Australia dan TKI) sehingga tidak ada hal yang secara substansial dapat diperdebatkan. Sementara itu poin-poin yang mestinya dapat dikejar untuk mempertajam perbedaan wawasan kedua capres justru dibiarkan berlalu begitu saja. Prabowo, misalnya, tidak berusaha mengejar kekeliruan Jokowi tentang konsep ketahanan dan pertahanan, atau mempertajam responnya ketika Jokowi menunjukkan ketidaktahuannya tentang situasi geopolitik di Laut Cina Selatan.

Demikian catatan saya.

______________________

Romantik (romantic) ~ berkaitan dengan romanticism: gaya dalam seni dan kesusasteraan akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19 yang menekankan imajinasi dan emosi; segala sesuatu yang tidak praktis atau realistis.

Satu pemikiran pada “Hasil Debat Ketiga Capres 2014

  1. 1. Kelihatannya Prabowo bukan type orang yang suka menyerang. Dari debat pertama, ada beberapa amunisi yang bisa dipergunakan untuk menyerang Jokowi, tapi Prabowo cukup humble tidak (mau) menyerang. Dari cara bertanya, kami bisa melihat bahwa Jokowi nadanya men-tes, sedangkan Prabowo nadanya benar-benar sekedar bertanya
    2. Mengenai geopolitik, kita bisa melihat sampai dimana “scope” para calon mengenai wilayah Indonesia
    3. Isu mengenai peralatan pertahanan, kalau mau sebenarnya Prabowo bisa “pamer” pengetahuan tentang itu, tapi tidak dia lakukan
    4. Jokowi terlihat memang harus masih banyak belajar tentang leadership tingkat presiden, bukan kepala daerah
    5. Kedua-duanya orang baik yang tidak berkeberatan jadi bulan2an mass media hehehe

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s