Popularitas dan Demokrasi


Kita tahu, apa yang populer belum tentu benar atau baik. Namun dalam demokrasi, hal itu tidak berlaku. Kebenaran dalam demokrasi adalah kebenaran pragmatis. Ia tidak berasal dari hal-hal yang transenden (dari Tuhan) atau bersangkut-paut dengan moralitas. Paling tidak, tidak secara langsung.

Demokrasi berasumsi bahwa apa yang diyakini orang banyak sebagai benar adalah benar. Sebuah gagasan menjadi benar ketika ia telah dilagakan dan diuji secara terbuka dan bebas di arena publik, lalu disetujui nilai kebenarannya oleh sebagian besar anggota publik.

Di dalam asumsi itu tersembunyi asumsi-asumsi lain, yaitu bahwa setiap anggota publik dianggap dewasa, cerdas, mampu berpikir logis serta cukup berpengetahuan (atau setidak-tidaknya memiliki akses terbuka terhadap semua informasi yang dibutuhkannya) untuk menimbang atau membuat keputusan tentang baik buruk isu-isu yang disodorkan kepada mereka; dan bahwa setiap elemen publik, mayoritas maupun minoritas, memiliki kekuatan yang setara dalam menyuarakan aspirasinya. Mayoritas tidak akan menindas minoritas dengan semena-mena karena negara hadir dan memberi perlindungan hukum bagi minoritas.

Kebenaran semacam itu tentu saja dinamis, tidak abadi. Situasi, kondisi, pengetahuan, dan konstelasi publik bisa membuat penilaian atas suatu gagasan berayun dari satu sisi ke sisi yang lain. Apa yang suatu saat dianggap benar, bisa jadi dianggap salah pada waktu yang lain — dan sebaliknya.

Dalam hal asumsi kedua, kita tahu bahwa tidak semua orang (mampu) bersikap dewasa, cerdas, dan dapat berpikir logis serta memiliki cukup pengetahuan dan informasi. Kalaupun ada orang-orang yang seperti itu, kita tahu, manusia tidak pernah lepas dari kepentingan diri dan kelompoknya. Seperti mahluk-mahluk lain, manusia pada dasarnya bersifat self-serving (mementingkan diri sendiri). Naluri utamanya adalah untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya sendiri. Sifat altruistik adalah sifat yang dipelajari. Dan itupun dengan dorongan bawah sadar bahwa kehadiran orang lain penting bagi kelangsungan hidupnya. Maka hubungan sosial yang dibangun manusia pun pada dasarnya adalah untuk kepentingannya sendiri.

Dalam situasi-situasi tertentu — ketika takut atau terdesak, misalnya — sifat dasar itulah yang akan muncul. Perbuatan-perbuatan mereka tak lagi dikendalikan oleh apa yang disebut Freud sebagai Super Ego atau dijembatani oleh Ego, namun murni didorong oleh Id-nya, instingnya.

Sifat-sifat dasar manusia itu bisa menjadi ancaman besar bagi demokrasi, terutama dalam masyarakat di mana kedewasaan, kecerdasan, dan kemampuan berpikir logis dan bersikap disinterested (bukan uninterested, tapi disinterested) belum menjadi bagian dari perilaku budaya yang mapan. Kampanye, propaganda, dan hasutan yang mengaduk-aduk emosi massa (yang dilakukan oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan tertentu maupun oleh sesama anggota publik) bisa membuat massa menjadi kalap, beringas, dan percaya pada hal-hal yang irrasional. Mereka akan saling berseteru dan tak dapat menoleransi perbedaan pandangan. Dalam situasi seperti itu, yang menang bukanlah isu yang paling baik dan menguntungkan publik, namun justru kepentingan-kepentingan tertentu yang sejatinya justru ingin mengambil keuntungan dari perseteruan yang terjadi.

Sekaitan dengan itu, demokrasi — terutama dalam suatu masyarakat atau negara yang sistem perlindungan dan penegakkan hukumnya masih lemah — juga mengandung risiko terjadinya penindasan mayoritas atas minoritas; kelompok-kelompok yang memiliki kuasa (power) lebih atau menguasai lebih banyak sumber daya (terutama sumber daya ekonomi) menindas, meminggirkan, atau membungkam suara dan aspirasi kelompok-kelompok yang lebih lemah dan/atau hanya menjadikan mereka sebagai penyokong atau sumber legitimasi kekuasaan bagi mereka.

Mudah-mudahan kita selalu waspada pada risiko-risiko seperti ini di tengah-tengah kegairahan dan ekstasi yang sedang kita rasakan dalam memilih pemimpin baru. Segala bentuk perseteruan dan intoleransi terhadap perbedaan pandangan yang tak terkendali akan membuka peluang bagi pihak-pihak yang ingin mengail di air keruh dan mencuri kesempatan kita untuk benar-benar menemukan pemimpin yang terbaik bagi kepentingan kita sendiri.

Satu pemikiran pada “Popularitas dan Demokrasi

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s