Gerakan Istikharah Nasional Untuk Pemilu Presiden 2014


Izinkan saya berbicara kepada saudara-saudara muslim saya yang mencintai tanah airnya:

Pemilu presiden 2014 mungkin pemilu terberat yang pernah kita hadapi sejak kita mulai memilih presiden secara langsung pada tahun 2004. Segala macam isu dan fitnah yang berusaha menjatuhkan masing-masing calon berhamburan dari masing-masing kubu pendukung. Padahal sebagai orang Islam kita tahu, berbohong dan menyebarkan kebohongan itu dosa, memfitnah, membunuh karakter seseorang, dan mengkafirkan orang yang nyata-nyata telah bersyahadat itu lebih besar lagi dosanya.

Saya tidak tahu bagaimana bangsa ini akan mendapatkan ramhat dan barakah dari Allah kalau cara kita memilih pemimpin pun kita lakukan dengan cara-cara yang keji. Saya khawatir, alih-alih mendapatkan kebaikan dari proses ini, kita justru mendapatkan azab karena perbuatan-perbuatan kita.

Kita tahu, memilih pemimpin adalah urusan yang sangat penting. Bahkan dalam Islam, wajib hukumnya. Kita juga tahu, dalam banyak urusan kita selalu memiliki perbedaan-perbedaan pandangan, termasuk dalam urusan proses memilih pemimpin yang saat ini sedang kita jalani. Perbedaan pandangan adalah keniscayaan, karena tidak seorangpun memiliki ilmu dan informasi yang bulat tentang segala sesuatu. Dan kita menafsirkan segala sesuatu berdasarkan ilmu dan informasi yang kita miliki.

Meskipun perbedaan pandangan itu merupakan sebuah keniscayaan, situasi saat ini saya kira telah menjurus pada kebencian dan perpecahan. Kita telah terjerumus dalam ghibah dan fitnah yang saling menyakiti dan mengakibatkan perpecahan. Dalam situasi seperti ini, bukan tidak mungkin pihak-pihak yang justru menginginkan kerusakan ukhuwah dan kehancuran umat dan bangsalah yang akan mengambil keuntungan.

Kita telah lupa pada prinsip dasar tentang pengelolaan perbedaan pendapat yang diberikan oleh Allah kepada kita, yaitu:

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Alquran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. An Nisa 59).

Perbedaan pendapat di antara kita hari ini saya kira telah mencapai titik yang memprihatinkan. Maka sudah saatnya saya kira kita mengembalikannya kepada ketentuan Allah dan sunnah Rasul-Nya. Salah satu hal yang kita memiliki petunjuk tentangnya adalah berdoa kepada Tuhan agar Tuhan memberi petunjuk tentang pilihan yang akan kita buat dalam perkara ini. Dan mengenai hal itu, Rasul SAW telah memberikan contoh sebagaimana yang tercatat dalam hadist ini:

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari para sahabatnya untuk shalat istikharah dalam setiap urusan, sebagaimana beliau mengajari surat dari Alquran. Beliau bersabda, “Jika kalian ingin melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua rakaat selain shalat fardhu, kemudian hendaklah ia berdoa:

“Allahumma inni astakhiruka bi ‘ilmika, wa astaqdiruka bi qudratika, wa as-aluka min fadhlika, fa innaka taqdiru wa laa aqdiru, wa ta’lamu wa laa a’lamu, wa anta ‘allaamul ghuyub. Allahumma fa-in kunta ta’lamu hadzal amro (sebut nama urusan tersebut) khoiron lii fii ‘aajili amrii wa aajilih (aw fii diinii wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii) faqdur lii, wa yassirhu lii, tsumma baarik lii fiihi. Allahumma in kunta ta’lamu annahu syarrun lii fii diini wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii (fii ‘aajili amri wa aajilih) fash-rifnii ‘anhu, waqdur liil khoiro haitsu kaana tsumma rodh-dhinii bih.”

Ya Allah, sesungguhnya aku beristikharah pada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan dan aku tidaklah mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak tahu. Engkaulah yang mengetahui perkara yang gaib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini baik bagiku dalam urusanku di dunia dan di akhirat, (atau baik bagi agama, kehidupan, dan akhir urusanku), maka takdirkanlah hal tersebut untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama, kehidupan, dan akhir urusanku (atau baik bagiku dalam urusanku di dunia dan akhirat), maka palingkanlah ia dariku, dan palingkanlah aku darinya, dan takdirkanlah yang terbaik untukku apapun keadaannya dan jadikanlah aku ridha dengannya. Kemudian dia menyebut keinginanya” (HR. Ahmad, Al-Bukhari, Ibn Hibban, Al-Baihaqi dan yang lainnya).

Daripada berterusan dalam ghibah, fitnah, dan permusuhan, mari kita lakukan ini sebagai salah satu upaya untuk kebaikan dan keselamatan kita semua sebagai bangsa. Syukur-syukur ini bisa menjadi gerakan nasional di bulan Ramadan yang suci ini.

Eki Akhwan,
28 Juni 2014

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s