Hasil Debat Cawapres 2014 (Bagian Kedua)


Pada bagian pertama tulisan ini saya telah menulis tentang visi dan misi masing-masing calon wakil presiden dan jawaban mereka atas pertanyaan moderator untuk mempertajam visi dan misi itu.

Pada bagian ini, saya akan menulis tentang bagian-bagian selanjutnya dalam perdebatan yang berlangsung Ahad malam yang lalu.

Tanya Jawab antara Moderator dan Para Calon
Pada bagian selanjutnya dari perdebatan itu, moderator menanyakan tentang kesenjangan kualitas SDM antardaerah dan SDM unggul Indonesia yang memilih berkarya di luar negeri.

JK yang mendapat kesempatan pertama untuk menjawab, berpendapat bahwa kesenjangan itu dapat diatasi dengan program pertukaran guru serta menciptakan pemerataan pertumbuhan ekonomi ke daerah agar daerah lebih menarik bagi SDM berkualitas.

Jawaban pertama saya kira bagus sebagai solusi sementara untuk masalah kesenjangan kualitas SDM. Untuk jangka panjang, jawaban kedua saya kira lebih tepat. Namun demikian ada hal yang sirkular dalam masalah itu. Daerah yang memiliki pertumbuhan ekonomi tinggi memang akan lebih menarik untuk SDM berkualias. Namun, di sisi lain, untuk menumbuhkan ekonomi suatu daerah, tidak boleh dilupakan bahwa SDM yang berkualitas merupakan salah satu prasyaratnya. Ada persoalan telur dan ayam dalam isu itu, dan JK tidak mencoba mengelaborasinya meskipun masih memiliki waktu cukup untuk melakukan hal itu.

Sementara itu, untuk masalah SDM berkualitas yang memilih berkarya di luar negeri, JK mengatakan bahwa hal itu baik karena dapat menghasilkan devisa dan memberikan kepada mereka pengalaman yang berharga. Namun untuk jangka panjang, menurutnya, harus diupayakan sistem remunerasi yang layak agar mereka tertarik untuk kembali dan berkarya di tanah air. Gagasan ini, menurut saya, baik, meskipun sudah cukup lama dan sering menjadi wacana.

Untuk pertanyaan yang sama, Hatta menawarkan peningkatan Angka Partisipasi Kasar (APK) perguruan tinggi yang sampai saat ini masih sangat kecil (dia menyebut, dari 125 juta angkatan kerja Indonesia, hanya 8 persen yang merupakan lulusan perguruan tinggi, semetara sebagian besarnya, yaitu 46 persen, hanya lulusan SD). Selain itu, dalam jangka pendek dan menengah, dia memilih untuk merevitalisasi balai-balai pelatihan agar SDM yang sudah ada dapat ditingkatkan kualitasnya, serta membuka sentra-sentra petumbuhan ekonomi baru agar SDM yang telah ditingkatkan kualitasnya mendapatkan peluang kerja dan agar daerah menjadi lebih menarik bagi SDM berkualitas.

Jawaban ini, menurut saya, lebih komprehensif dan menawarkan solusi atas akar permasalahan yang dihadapi.

Jawaban Hatta atas bagian kedua dari pertanyaan di atas bersifat lebih makro dan sistemik daripada jawaban JK, yaitu dengan menyusun strategi pembangunan yang tepat agar SDM ahli memiliki tempat untuk berkarya di tanah air sendiri. Meskipun demikian, harus diakui bahwa strategi pembangunan kita selama ini memang kurang memberi ruang bagi SDM unggul untuk berkarya di dalam negeri. Kita memiliki banyak sekali SDM unggul yang memilih berkarya di luar negeri karena di dalam negeri belum ada tempat atau penghargaan yang layak bagi mereka untuk mengaktualisasikan kemampuan mereka. Harus diakui juga bahwa saat ini cukup banyak dosen, profesor, peneliti, dan ahli rekayasa teknologi kita — yang beberapa di antaranya saya kenal secara pribadi — yang terpaksa memilih berkarya di luar negeri karena di dalam negeri mereka tidak memiliki tempat untuk mengaktualisasikan kemampuan mereka.

Selain hal itu, Hatta juga menawarkan model yang telah dilakukan di India, yaitu membiarkan sebagian SDM unggul berkarya di luar negeri namun pada saat yang sama mengembangkan pasar di dalam negeri untuk produk-produk yang mereka hasilkan (ahli-ahli TI India, misalnya, banyak yang mengembangkan riset dan produk mereka di Amerika Serikat karena AS memikili fasilitas yang mendukung untuk itu, namun memproduksi dan memasarkan produksinya di India sendiri sehingga manfaat ekonomi riset dan pengembangan yang mereka lakukan menguntungkan India).

Lagi-lagi kita bisa melihat di sini bahwa Hatta memiliki visi yang lebih aktual, sistemik dan berdaya jangkau jauh ke depan mengenai masalah yang diperdebatkan.

Sampai di sini saya memutuskan untuk tidak melaporkan isi perdebatan itu secara detail, karena seiring berlalunya waktu, transkrip isi perdebatan itu, juga videonya, sudah bisa dicari dan dibaca di situs lain. Intinya adalah, Hatta Rajasa, menurut saya, adalah seorang teknokrat sejati yang tidak cuma punya pengalaman yang luas dan rekam jejak profesional yang baik, namun juga secara konseptual sangat menguasai bidang-bidang tugasnya. Sepanjang perdebatan, kita juga bisa melihat bahwa dia adalah pribadi yang santun seperti terlihat dari cara dia bertanya kepada lawan debatnya, meskipun isi pertanyaan itu cukup tajam, seperti pada saat dia mempertanyakan ketidaksetujuan JK terhadap sertifikasi guru, ujian nasional, dan pendidikan gratis pada waktu dia menjadi wakil presiden di era pertama SBY.

Debat itu, menurut saya, berhasil mengubah persepsi terhadap Hatta yang selama ini dianggap sebagai birokrat minim prestasi. Yang saya lihat adalah, dia selama ini barangkali justru salah satu arsitek program-program SBY yang berhasil. Tentu, sebagaimana yang sering didengung-dengungkan oleh kubu Jokowi-JK selama ini, orang bisa mempertanyakan ke mana saja dia selama ini dan apa yang telah diperbuatnya untuk kemajuan bangsa.

Saya kira apa yang telah diperbuatnya banyak. Namun karena dia tidak menduduki posisi puncak dan hanya merupakan bagian dari sistem yang lebih besar, pemikiran-pemikiran dan prestasi-prestasinya tak begitu terlihat atau dianggap sebagai prestasi individu. Selain itu, di ujung masa pemerintahan seorang presiden dan di masa transisi, orang cenderung menilai kekurangan-kekurangan capaian pemerintah yang akan segera digantikan oleh penerusnya karena kekurangan-kekurangan itu bisa menjadi bahan kampanye yang menguntungkan para calon yang sedang berkompetisi untuk menggantikannya. Padahal, kalau kita mau jujur, cukup banyak capaian-capaian positif yang saya kira telah diraih oleh pemerintah SBY. Tanpa capaian-capaian itu, pemerintah yang akan datang akan punya pekerjaan rumah yang jauh lebih banyak.

Pujian saya terhadap Hatta Rajasa itu tidak mengurangi rasa hormat saya pada JK yang gagasan-gagasan dan tindakan-tindakannya telah memberikan banyak sumbangan bagi keberhasilan pemerintah SBY periode pertama dan telah membuat saya dengan yakin memberikan suara saya padanya pada pemilu presiden 2009.

Saya kira JK tetap akan menjadi aset yang berharga untuk bangsa ini, dan kalau pasangan Jokowi-JK menang dalam pemilu presiden 9 Juli nanti, saya yakin dia akan memiliki sinergi yang baik dengan Jokowi untuk membawa perubahan-perubahan yang diharapkan oleh para pemilihnya. Demikian juga dengan Hatta. Pengalaman dan gagasan-gagasannya akan sangat berharga untuk membumikan dan mengimplementasikan gagasan-gagasan besar Prabowo jika merekalah yang terpilih pada tanggal 9 Juli nanti.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s