Pemojokan dan Pembelaan (Diskursus Tentang Tulisan Allan Nairn)


Jangan coba-coba memojokkan seseorang secara berlebihan. Apalagi dengan cara yang tidak benar dan di depan altar publik. Publik memiliki berjuta pasang mata, berjuta pasang telinga, dan — lebih daripada itu — berjuta kepala, otak, dan hati. Dan mereka akan melihat, mendengar, menilai, dan bertindak!

Orang yang dipojokkan akan secara emosional mendapatkan simpati, dan, kalau perlu, akan secara bersama-sama dibela. Orang yang memojokkan akan dipertanyakan dan ‘dikuliti’ (scrutinized): pernyataannya, latar belakangnya, kompetensi dan reputasinya.

Ingat, SBY melesat popularitasnya dan dipilih oleh publik untuk menjadi presiden negara ini karena dia dipersepsi publik sebagai korban penzaliman, pemojokan.

Ingat juga, waktu Joko Widodo (Jokowi) difitnah sebagai keturuan Cina dan non-muslim. Publik yang masih waras, dan bukan hanya para pendukungnya saja, langsung melakukan pembelaan. Orang-orang yang memproduksi dan menyebarkan fitnah itu dibuat tak berkutik di depan altar publik.

Ingat juga, waktu Wimar Witoelar mensejajarkan MUI, Muhammadiyah, dan Aa Gym dengan tokoh-tokoh teroris dan melabeli mereka sebagai bagian dari ‘gallery of rogues’ (kelompok para bajingan). Orang-orang yang masih waras, terutama umat Islam yang merasa sangat tersinggung dengan fitnah itu, langsung bangkit malakukan pembelaan.

Ingat, ingat, dan ingat yang lain-lain yang serupa itu.

Dan sekarang, Allan Nairn, seorang perwarta asing, tiba-tiba dengan penuh semangat mengumbar hasil wawancara “off the record” yang dilakukan bertahun-tahun sebelumnya di blog pribadinya.

Hal itu telah membangkitkan pikiran saya untuk mempertanyakan dan mengupas hal-hal yang berada di balik tulisan Nairn itu.

Terlepas dari kebenaran isinya (yang saya kira bisa secara investigatif didapatkan dari sumber-sumber lain), Nairn jelas telah melakukan pelanggaran kode etik pers tentang pengungkapan catatan wawancara yang sumber beritanya secara spesifik telah memintanya untuk tidak mengungkapkan hasil wawancara itu (off the record). Media tempatnya menerbitkan tulisan itu, yang merupakan blog pribadinya, juga tidak mencerminkan keabsahan tulisan itu sebagai karya jurnalistik (yang harus melewati tata cara yang ketat dan memenuhi syarat-syarat yang ditentukan).

Namun yang lebih fundamental dari itu adalah, sebagai warga negara asing, dia telah dengan secara blak-blakan melibatkan diri dalam pertarungan politik praktis di negara orang. Campur tangan atas kedaulatan anak negeri untuk menjalankan urusan dan menentukan nasib sendiri jelas tidak bisa saya hargai. Dan saya yakin saya tidak sendiri dalam sikap ini. Dino Patti Djalal, mantan dubes RI di Amerika Serikat dan peserta konvensi capres Partai Demokrat, juga mengungkapkan hal yang sama (pernyataannya, yang sayangnya belum saya dapatkan tautan langsungnya, saya kutip di bawah tulisan ini).

Selain itu, campur tangan seorang warga negara asing dalam politik praktis tingkat tinggi di negara kita, menimbulkan banyak pertanyaan pada diri saya:

Apa kepentingan dia sebagai pribadi dan warga negara asing dalam pemilihan presiden Indonesia? Apa motif dia? Adakah kemungkinan pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan posisi dan reputasinya untuk menyetir publik Indonesia agar memilih salah satu dari dua kandidat yang bertarung demi menjamin kepentingan mereka di dan atas Indonesia? Kepentingan siapakah itu? Kenapa pihak-pihak asing tertentu begitu getol dan terang-terangan mendukung salah satu pihak dalam urusan kedaulatan rakyat Republik Indonesia dalam memilih pemimpinnya?

Kita tahu, ada negara asing tertentu yang ingin memastikan hegemoni mereka atas negara-negara lain demi kepentingannya, antara lain dengan menggunakan kemasan isu-isu universal seperti demokrasi dan HAM.

Saya mengatakan ini bukan sebagai isapan jempol atau teori konspirasi yang tak berdasar. Dulu saya juga tidak percaya bahwa hal-hal seperti itu bisa terjadi. Namun, paling tidak dalam dua mata kuliah yang saya ikuti ketika saya studi S2 di Amerika Serikat (American Studies Theory and Method dan Propaganda, Media, and American Politics), saya dibuat sadar bahwa hal itu betul-betul terjadi.

Kita tidak boleh lupa pada sejarah kita sendiri, bagaimana Sukarno dicoba digulingkan berkali-kali dengan berbagai cara (PRRI, lalu G30S PKI) karena dalam konstelasi politik global waktu itu dia dianggap condong ke Timur dan membahayakan kepentingan Barat, dan bagaimana Suharto dinaikkan ke tampuk kekuasaan serta bagaimana kita telah membayarnya sebagai bangsa hingga saat ini.

Mudah-mudahan tulisan ini mencerahkan.

Eki Akhwan, 3 Juli 2014

________________________________

Kutipan Pernyataan Dino Patti Djalal

1. posisi saya tetap NETRAL dan tidak berpolitik praktis mendukung salah satu Capres. Ini tidak berarti saya golput > saya telah menentukan pilihan namun its not for public knowledge.

2. komentar saya mengenai manuver orang luar sama sekali bukan untuk mendukung salah satu Capres, namun untuk menegaskan posisi prinsip saya bahwa urusan memilih pemimpin bangsa adalah urusan ekslusif rakyat Indonesia dan orang luar harus bisa menghormati prinsip yang sakral ini. Saya yakin ini sejalan dengan konsep Jokowi mengenai “kedaulatan politik” yang harus kita jaga, dan sejalan juga dengan himbauan Prabowo untuk menjaga “martabat dan harga diri bangsa”.

3. Sebenarnya komentar saya tsb dilatarbelakangi oleh keprihatinan saya terhad ulah seorang petualang kiri Amerika bernama Alan Nairn, yang sudah 30 tahun melakukan aksi anti-Indonesia secara obsesif. Ia selalu mendukung gerakan separatis (di Timtim, Aceh dan Papua — bisa dicheck) dan selalu membuat berita yang sensasionalis dan bahkan fiktif. Yang membuat saya geram Alan Nairn kini berusaha – dan berhasil – masuk ke dalam proses pilpres kita dan mencoba menghasut serta mengadu domba salah satu kubu Capres dengan keluarga Gus Dur, dan dampak hasutannya bisa membakar massa akar rumput kita. Situasi inilah yang saya ingin ingatkan kepada bangsa kita karena nampaknya dalam gontok2an politik di dalam negeri saudara2 kita banyak yang sudah kehilangan sense of what is right and wrong, dan sangat mudah diadu domba orang luar demi kepentingan politik sesaat. Hari ini sasarannya adalah Capres A, namun besok bisa Capres B, dan pemimpin2 lainnya. Akibatnya, Gelanggang politik Indonesia terbuka luas bagi petualang2 asing untuk berkiprah, dan kita akan menjadi banana republic yang integritasnya disepelekan dunia.

4. Sejak awal terjun ke dunia politik, saya berkomitmen menegakkan politik kebenaran – politik do the right thing. Saya bisa jamin segala langkah dan ucapan saya sebelumnya, sekarang dan ke depan akan selalu mengedepankan pertimbangan “what is right” ketimbang “what is convenient” atau “what is popular”. Mungkin rekan2 ingat dulu ketika mulai ikut Konvensi Partai Demokrat, ketika bamyak politisi Demokrat yang mengejek Jokowi, saya sendiri dengan lantang melawan arus dan menyatakan Jokowi mewakili trend politik yang sehat dan positif. I have never had a problem saying what is right – kalau karena itu saya harus kalah, so be it.

Mari kita jaga integritas pemilu kita. selamat memilih tanggal 9 juli nanti.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s