Kenapa Hal Yang Sama Ditafsirkan Berbeda?


“People can foresee the future only when it coincides with their own wishes, and the most grossly obvious facts can be ignored when they are unwelcome.” ~ George Orwell

(Orang dapat melihat masa depan hanya jika masa depan itu sesuai dengan harapan-harapannya, dan fakta-fakta yang sangat kasatmata pun dapat diabaikan jika fakta-fakta itu tidak disukai.)

Dalam waktu kurang dari 24 jam, kita akan memilih pemimpin baru kita.

Sebulan masa kampanye yang baru saja berlalu sungguh terasa panas. Terlalu panas bahkan untuk sebagian orang, sehingga mereka merasa perlu beristirahat dan menutup mata dan telinga sementara dari keriuhan yang terjadi di media sosial.

Ada juga orang-orang yang, karena terlalu yakin dan bersemangat membela calon presiden pilihannya, tidak bisa menerima ketika sahabatnya berbeda keyakinan dengan dirinya, lalu memutus pertemanan.

Di antara serangan, caci-maki, hujatan dan fitnah yang beterbangan dari pendukung kedua kubu, sulit rasanya untuk tidak secara emosional terpancing, terutama kalau kita merasa bahwa serangan, caci-maki, hujatan, dan fitnah itu dilayangkan kepada pihak yang kita dukung. Ingin rasanya kita menyerang balik, mencaci-maki balik, menghujat balik, dan ikut merekayasa fitnah untuk menjatuhkan pihak lawan.

Itu wajar. Saya pun, terus terang, merasakan dorongan yang sama. Namun saya sedapat mungkin menahan diri. Saya tidak ingin panasnya hati membuat kepala saya juga panas. Meskipun ada dorongan keberpihakan, saya mencoba tetap jernih dan berpihak kepada “kebenaran” (maaf, saya tidak bisa menggunakan kata ini tanpa tanda kutip). Kalau suatu pihak dicaci, saya sekurang-kurangnya akan bertanya pada diri sendiri, benarkah seperti itu? Saya mencoba mencari informasi, mendengar dan membaca dari kedua belah pihak atau mencari sumber yang independen untuk mengklarifikasinya.

Namun demikian, harus diakui, bias seringkali tidak bisa terhindarkan. Konon, dan ilmu pengetahuan telah membuktikan, bahwa secara biologis kita memang pada dasarnya bukan mahluk yang rasional. Motivasi primer kita berasal dari wilayah otak kita yang disebut sistem limbik. Rasio adalah kemampuan yang berkembang kemudian seiring dengan berkembangnya neokorteks (neocortex) kita. Wallahu’alam.

Setiap kali hawa panas mulai bergerak naik dari hati ke kepala, saya selalu ingat bahwa kalau saya sampai lepas kendali dan menggunakan bahasa yang kasar (mencaci-maki, menghujat, memfitnah), maka saya bukan hanya akan berdosa, tapi juga akan menuai hal yang sama dari sasaran tembak kata-kata saya. Prinsip ini, saya yakin, berlaku dimanapun: The violent language (i.e. slander, defamation, hatred) that you use against others will only ensure that others will increasingly speak to you in the language that you speak to them.

Kalau kita jernih melihat, mengamati, sesungguhnya fakta-fakta dan fenomena-fenomena yang kita perdebatkan, kita pertentangkan, adalah hal-hal yang sama; hanya perspektif, keberpihakan, penekanan, dan biaslah yang membuat kita berbeda pendapat dan menganggap pihak kita benar, dan pihak lain salah. Seperti kalimat George Orwell yang saya kutip di atas, kita cenderung mengabaikan, menyembunyikan, dan pura-pura tidak melihat fakta-fakta yang tidak kita sukai atau tidak bersesuaian dengan harapan-harapan kita sendiri.

Perbedaan adalah masalah tafsir, masalah penafsiran. Kita harus ingat bahwa fenomena, kejadian, objek, dan kepribadian kita melebur ke dalam bias-bias kita dalam menafsirkan sesuatu. Dan karena setiap individu adalah kepribadian yang unik yang dibentuk oleh gen, lingkungan, pengasuhan, pengalaman, dan pengetahuan yang berbeda-beda, maka kita tidak bisa mengharapkan bahwa kita akan menjadi homogen dalam berpendapat dan menafsir. Homogenitas hanya terjadi pada robot yang dicetak di pabrik.

Karena perbedaan adalah keniscayaan (dalam bahasa agama: sunatullah), maka tak sepantasnyalah kita memaksakan tafsir dan kehendak kita. Toleransi adalah tuntutan. Silih asah, asih, dan asuh adalah kemuliaan dan tanda tingginya peradaban suatu masyarakat.

Mudah-mudahan apapun hasil pemungutan suara yang akan berlangsung beberapa jam lagi, dan siapapun yang terpilih menjadi pemimpin baru negara kita, kita akan bisa menerimanya dengan legowo, dan kita akan berkerja sebaik-baik kemampuan yang telah diberikan kepada kita demi kemaslahatan bersama.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s