Goreng-Gorengan, ‘Cengek’, Dan Endorfin


Di Bandung (dan mungkin juga tempat-tempat lain), salah satu makanan pembuka puasa yang tampaknya paling populer adalah goreng-gorengan. Konon ini tidak sehat. Namun, apa boleh buat, sehat dan tradisi memang seringkali tidak berjalan beriringan. Karena permintaan tinggi, penjual pun banyak; dan tradisi pun tetap bergulir.

Goreng-gorengan, terutama yang bercita rasa asin-gurih seperti tempe goreng, gehu, dan bala-bala, tentu enak dimakan dengan cengek (cabai rawit). Tanpa cengek, rasa goreng-gorengan menjadi tak lengkap.

Bagi para penggemarnya, paduan rasa asin-gurih-pedas memang bisa sangat mencandui. Selalu ada keinginan untuk menambah, menambah, dan menambah lagi.

Beberapa hari yang lalu, saya menuliskan status ini di tembok Facebook saya:

Yang bikin enak itu gorengannya atau cengeknya ya?
Ini gorengannya habis, cengeknya masih ada, tambah gorengan; gorengan masih segigit lagi, tambah cengeknya … Yaelaah … Ga ada habis-habisnya!

Tak dinyana, tak diduga, status itu mendapatkan cukup banyak respon — jempol dan tanggapan.

Semua tampaknya setuju bahwa cita rasa goreng-gorengan dan cengek memang aduhai dan bikin ketagihan.

Perihal mana yang lebih ‘dominan’ enaknya — goreng-gorengan atau cengek-nya — ternyata sebagian besar mengatakan cengek-nya atau kedua-duanya. Tidak ada yang mengatakan goreng-gorengannya saja.

Kesimpulannya?

Tampaknya goreng-gorengan dan cengek adalah paduan tak terpisahkan. Tanpa cengek, goreng-gorengan jadi ‘tak bermakna’. Lagipula, rasa pedas cengek adalah salah satu cita rasa utama dalam banyak masakan kita. Kita termasuk bangsa yang menggemari makanan bercita rasa pedas. Tak cuma cengek segar, kita juga mencampurkan berbagai macam jenis cabai-cabaian dalam masakan kita. Di atas itu, kita seringkali masih menambahkan berbagai macam sambal sebagai pelengkap dan menyedap pada makanan kita. Bahkan tak jarang sambal dijadikan lauk-pauk utama (biasanya bersama lalap-lalapan/ulam), jika dalam keadaan-keadaan tertentu kita tak mempunyai apapun lagi di dapur kita.

Rasa pedas sebenarnya rasa yang tidak nyaman (di lidah, maupun after-effect-nya di perut). Namun rasa ini juga bisa membuat sensasi yang menagih. Konon ini karena rasa pedas memicu pelepasan hormon endorfin (endorphins), yang efeknya konon mirip dengan morfin yang menenangkan.

Kehadiran endorfin memberi kita rasa puas dan nyaman (seperti yang dirasakan saat kita kenyang, mengalami orgasme dalam persenggamaan, dan lain-lain). Riset mengindikasikan bahwa kekurangan endorfin dapat mengakibatkan kelainan perilaku yang disebut obsessive-compulsive disorder. Gangguan produksi endorfin juga dapat mengalami ketidakstabilan emosi, seperti mudah marah, murung, dan sebagainya.

Mungkinkah kegemaran kita pada masakan-masakan pedas — yang memicu produksi endorfin — membuat kita menjadi bangsa yang lebih kalem, tidak mudah naik darah?

Mungkinkah, suatu saat nanti, jika terjadi kemarahan massal yang meluas, kita gunakan cabai atau sambal agar orang-orang yang marah menjadi tenang dan kemarahan tak berujung pada tindakan anarkis?😀

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s