Tentang Iri dan Syukur


Kadang-kadang saya iri pada orang lain, pada apa yang mereka miliki dan tak saya miliki.

Tapi sekarang saya sadar, Tuhan memang mahaadil. Dia telah menganugerahkan pada saya apa yang tak dimiliki oleh orang lain.

Ini bukan soal siapa yang diberi lebih, dan siapa yang kurang. Ini cuma soal siapa diberi apa dan dalam kadar bagaimana.

Tuhan memberiku apa yang tak diberikan-Nya padamu; Dia memberimu apa yang tak diberikan-Nya padaku. Dia memberiku ini dalam kadar banyak, dan kamu sedikit; Dia memberimu itu dalam kadar banyak, dan aku sedikit.

Untuk apa? Kenapa?

Karena Dia tahu, dunia yang sama rata sama rasa adalah dunia yang jumud. Tak bergerak. Mati.

Dia tidak memberi sama pada semua karena Dia ingin semesta ini bergerak dan hidup. Dia memberi anugerah yang berbeda-beda pada setiap mahluk-Nya, agar yang satu melengkapi yang lain; agar yang diberi lebih, bisa memberi, yang diberi kurang, bisa menerima; agar saling ketergantungan kita satu pada yang lain tak membuat seorang pun sombong dan angkuh; agar saling ketergantungan itu membuat kita saling tolong-menolong dan berkasih-sayang pada sesama; agar semua menjalankan fungsinya masing-masing dan dunia menjadi berputar. Hidup.

Bayangkan bila langit dapat menghasilkan hujan tanpa angin, tanpa matahari, tanpa bumi. Bayangkan bila binatang ternak tak perlu rumput, dan rumput tak perlu air, matahari, tanah, dan kotoran ternak. Bayangkan bila kita memiliki semua dan tak memerlukan seorang dan semahluk lain pun.

Maka, aku memilih bersyukur atas anugerah yang telah diberikan-Nya padaku; dengannya, aku telah diberi-Nya kuasa untuk berbagi, dan menjalankan peranku di semesta ciptaan-Nya. Dan itu menjadi tambahan kebaikan yang dianugerahkan-Nya padaku.

Maka, aku memilih bersyukur atas apa yang tak kumiliki atau dengan kadar seperti yang kuingini; berbahagia bahwa ada orang-orang lain yang memiliki apa yang tak aku miliki atau dengan kadar yang tak aku miliki. Dengan itu, aku menjadi rendah hati dan tak jumawa. Dan itu menjadi kebaikan yang dianugerahkan-Nya padaku.

Tuhan mahaadil karena Dia telah memberi kita anugerah yang berbeda-beda dalam bentuk dan kadarnya. Aku tak iri pada apa yang kau miliki, melainkan pada kebaikan yang kau dapatkan dari apa yang kau dapatkan dari yang kau miliki. Karena itu, aku akan mencoba mendapatkan sebanyak-banyaknya kebaikan dari apa yang aku miliki, dari apa yang telah dianugerahkan-Nya padaku.

Fastabiqul khairat. Mari kita berlomba-lomba dalam kebajikan, agar Dia tersenyum, dan kita selalu bahagia.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s