Mudik


Pertama,
saya mengucapkan Selamat Idul Fitri 1435 H pada teman-teman dan pembaca blog ini. Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang kembali kepada fitrah kita yang bersih dan memperoleh kemenangan (inilah kira-kira arti ‘minal aidin wal faizin’) setelah sebulan menjalankan ibadah-ibadah puasa Ramadan. Mohon maaf lahir dan batin.

Tahun ini, sama seperti kabanyakan tahun-tahun sebelumnya, sama seperti kebanyakan kaum urban migran, saya mudik (pulang kampung). Sama seperti kebanyakan tahun-tahun sebelumnya juga, tahun ini saya mengalami hal-hal yang sama, atau, paling tidak, mirip:

Kekhawatiran tentang alat transportasi, suasana jalanan yang padat dan ‘sumringah’, dan lain-lain, dan lain-lain.

Pilihan alat transportasi dan suasana lalu-lintas memang menjadi salah satu kepeningan sendiri. Setiap tahun.

Saya sudah mencoba hampir semua alat transportasi dalam soal mudik ini: pesawat terbang, kereta api, bus, sepeda motor, dan mobil pribadi. Hanya kapal laut saja yang belum pernah, karena waktu bekerja di luar Pulau Jawa, waktu cuti saya tidak cukup panjang untuk bisa mudik dengan kapal laut.

Apapun alat transportasinya, kegalauan selalu saja menghantui: soal ketersediaan tempat duduk, pemesanan tiket, antri dan berdesak-desakan di bandara, stasiun kereta, terminal bus, atau pelabuhan laut, kenyamanan, keamanan, kepadatan lalu-lintas, dan lain-lain.

Pernah suatu ketika saya terpaksa (dipaksa) naik pesawat Hercules TNI AU dari Balikpapan ke Jakarta, padahal saya sudah mengantongi tiket Pelita Air Service. Alasan yang diberikan: karena pesawat penuh. Mungkin oleh petinggi dan pejabat, karena hanya mereka yang dapat membuat tiket yang dipegang oleh pegawai rendahan seperti saya menjadi tak berlaku. Naik pesawat angkut militer — yang tempat duduknya memanjang seperti angkot, posisi jendelanya lebih tinggi dari kepala, suara mesin yang bising di dalam kabin, dan AC-nya super dingin — tentu tidak senyaman naik persawat komersial, meskipun menjadi tetap menjadi pengalaman yang menarik dan tak terlupakan.

Pernah juga saya kecopetan di terminal bus, ditipu calo, berdesak-desakan hingga nyaris babak belur saat mencoba menaiki bus dan kereta api yang penuh sesak, jatuh dari sepeda motor di tikungan dan tertindih hingga tak dapat bergerak (untung saja waktu itu tidak ada kendaraan lain di belakang saya; kalau ada mobil, bus, atau truk mungkin saat ini saya sudah bergelar almarhum dan tidur abadi di pekuburan), terjebak macet hingga berjam-jam tanpa bisa berbuat apapun selain sabar dan membayangkan hal yang indah-indah agar tak marah atau pingsan …

Begitulah!

Saya rasa pengalaman saya tidak unik. Jutaan orang Indonesia mengalaminya dengan satu atau lain cara, pada tahun ini atau tahun-tahun lainnya.

Mudik adalah keribetan luar biasa yang menyusahkan namun sekaligus (juga bisa) mengasyikkan. Kalau mengingat keribetan dan kesusahannya saja, mungkin tradisi mudik Lebaran saat ini sudah luntur atau memudar. Kenyataannya tidak, malah semakin menjadi-jadi. Jadi pasti ada keasyikan, ada makna, yang jauh lebih besar, lebih dahsyat, yang membuat tradisi ini terus hidup.

Bertemu dengan sanak saudara, kaum kerabat, bernostalgia kuliner dan merasakan kembali suasana kampung halaman setelah setahun berada di rantau adalah kenikmatan yang rela kita tebus dengan segala jerih payah. Apapun taruhannya.

Namun bukan cuma itu rasanya. Karena kalau cuma itu alasannya, kapanpun kita bisa pulang kampung asal ada waktu luang dan cukup ongkos. Ada sesuatu yang lebih dari itu: Lebaran adalah ritual komunal massal. Pulang kampung memang bisa dilakukan kapan saja. Namun keasyikannya tentu tak sama. Kita masyarakat guyub. Segala sesuatu yang dilakukan sendiri-sendiri tentu tak terasa seasyik apapun yang dilakukan secara berjamaah, apalagi dalam skala yang masif seperti ritual mudik Lebaran.

Barangkali juga bukan cuma karena itu.

Mudik lebaran bukan cuma perkara ritual komunal massal masyarakat guyub. Ia juga adalah pengejawantahan nilai-nilai religi yang bersinggungan ketat dengan nilai-nilai budaya kita yang menghormati orangtua dan menjunjung tinggi harmoni. Sungkem yang muda pada yang lebih tua dan saling maaf memaafkan adalah adalah ritualnya, praktiknya.

Di luar itu, mudik lebaran adalah sarana pembuktian bahwa merantau, hijrah, adalah sarana menuju sukses. Perantau yang pulang kampung dengan bukti-bukti kesuksesan akan mengangkat muruah keluarga dan kerabatnya dan menjadi inspirasi bagi orang-orang lain di kampungnya untuk juga tak segan berhijrah di bumi Allah yang luas demi kehidupan yang lebih baik. Bukankah Rasul, atas perintah Allah, juga telah mencontohkannya?

2 pemikiran pada “Mudik

  1. Wah pernah ada pengalaman kecopetan pak? Waktu jaman SD dulu ayah saya jg pernah kecopetan dalam bus dan baru tahu saat beli makan.. Akhirnya biaya makan pakai uang thr saya. Memang kalo lebaran ada aja cerita tak terlupa pak. Hehe

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s