Galau


Pernah galau?

Rasanya itu pertanyaan retoris saja. Siapa sih yang tidak pernah galau?

Semua orang pernah galau. Bahkan yakin, tidak sekali dua. Kalau tidak, mana mungkin galau bisa menjadi kata yang begitu ngetrend di dunia maya, di dunia gaul, bahkan menjadi catchword di dunia hiburan?

Galau tidak cuma menjangkiti anak muda. Orang tua juga bisa. Jadi, kalau saya yang sudah berusia madya ini terjangkiti kegalauan, normal-normal saja, kan?

Pada anak muda maupun orang tua, gejala galau tampaknya sama saja: gelisah, gamang, sedih, dan segala perasaan tak keruan lainnya. Barangkali cuma penyebabnya saja yang sebagian berbeda (karena sebagian lagi bisa jadi sama).

Kata kamus besar Bahasa Indonesia, galau memang begitu artinya: kacau tidak keruan.

Penyebabnya?

Bermacam-macam lah. Tapi intinya, kegalauan (galau, bergalau) terjadi karena ada ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan; ketidakseimbangan antara nilai-nilai yang kita anut dengan apa yang kita lakukan/perbuat. Seputar itulah, saya kira.

Dengan introduction yang agak bertele-tele itu, sebenarnya saya sedang ingin curhat bahwa saya sedang galau. Saya sedang bermuhasabah (introspeksi), berdialong dengan diri sendiri, menganalisis kenapa saya galau.

Saya galau karena saya sedang dihadapkan pada masalah-masalah yang (cukup) besar dalam kehidupan saya. Kalau hidup saya diumpamakan sebagai sebuah perjalanan, saat ini saya telah tiba di sebuah persimpangan jalan. Saya sudah berjalan cukup jauh. Matahari sudah condong ke barat. Sebentar lagi senja akan segera tiba. Ada pilihan-pilihan yang harus segera saya ambil dan tentukan. Namun saya gamang. Saya sudah letih. Dan sisa perbekalan saya tak memungkinkan saya untuk melakukan kesalahan. Risikonya cukup besar: saya bisa kemalaman di daerah tak bertuan; saya bisa telantar dan mungkin tak menemukan pertolongan dan bantuan yang saya butuhkan.

Begitu kira-kira situasi yang sedang saya hadapi.

Saya sedang berdoa. Khusuk berdoa, memohon kiranya Tuhan semesta raya berkenan memberikan petunjuk tentang jalan mana yang harus kulalui agar aku bisa sampai ke tempat tujuanku dengan selamat sentausa. Agar aku bisa memenuhi janji-janji yang kubuat saat aku memulai perjalan ini, sebelum waktuku usai.

Bantu aku dengan doa, ya!

Aamiin …

Satu pemikiran pada “Galau

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s