Kebiasaan Dan Sikap Fotografer


Meskipun belum menjadikan fotografi sebagai sumber penghidupan, saya rasa saya cukup pantas menyebut diri saya sebagai fotografer. Saya sudah menekuni fotografi sejak masih SMP dan mempelajarinya dengan sungguh-sungguh — secara mandiri maupun dengan mengikuti pendidikan dan pelatihan, formal maupun non-formal, di dalam juga di luar negeri. Saya menjadi anggota beberapa komunitas fotografi dan secara umum mendapat pengakuan yang baik dari komunitas-komunitas itu; pernah berpameran solo dan menjuarai lomba; menjadi mentor pelatihan fotografi dan kurator pameran foto. Saya juga punya beberapa blog yang saya dedikasikan khusus untuk fotografi.

Sebagai fotografer, saya mempunyai beberapa kebiasaan dan sikap yang selama ini saya amati ada pada diri saya:

  • Pertama, saya lebih suka memotret daripada dipotret. Mungkin karena saya jarang merasa puas melihat diri saya sendiri di dalam foto  (yang tentu saja kebanyakan diambil oleh orang lain).
  • Kedua, saya selalu membawa kamera ke manapun saya pergi, setiap hari. Umumnya saya hanya membawa kamera saku yang kecil dan ringan. Kamera itu selalu ada di dalam tas saya. Kalau karena satu dan lain hal kamera itu tertinggal, saya merasa ada yang belum lengkap dalam perbekalan saya. Untungnya sekarang saya juga punya telepon cerdas dengan kamera yang cukup bagus. Jadi, kalau kamera itu tak terbawa, saya masih bisa mengandalkan kamera yang ada di telepon bila ada sesuatu yang menarik untuk difoto.
  • Ketiga, saya tidak terlalu peduli pada jenis kamera. Bagi saya, kamera hanya alat pewujud visi; kamera mainan pun bisa menghasilkan foto yang bagus, asal orang yang berada di belakangnya punya kepekaan visual dan visi yang baik. Saya tidak anti kamera bagus atau kamera mahal. Semakin bagus kamera, semakin banyak fasilitasnya, tentu semakin banyak yang bisa kita lakukan dengannya. Namun kamera “mainan” yang memiliki banyak keterbatasan terkadang justru  bisa menjadi tantangan tersendiri bagi kreativitas kita dalam berkarya, dan karena itu bisa menghasilkan karya-karya yang tak terduga. Saya pernah mempunyai dan  memakai bermacam-macam kamera, dari yang sederhana hingga yang kelas menengah. Dari semua kamera itu, saya bisa dan pernah menghasilkan karya-karya yang saya anggap cukup baik, bahkan sangat baik. Saya belum pernah memiliki kamera kelas tinggi karena memang saya belum mampu membelinya. Suatu ketika dulu saya pernah bermimpi punya kamera-kamera semacam itu. Tapi kini saya lebih realistis: kamera-kamera kelas atas tidak bisa saya tempatkan pada urutan atas prioritas saya. Mungkin impian itu masih ada, namun tempatnya  ada di belakang kepala.
  • Keempat, saya (terlatih untuk) sensitif pada cahaya, warna, pola, tekstur, garis, bentuk, geometri, komposisi, dan momen, dan seringkali tanpa sadar merasakan dan dihentikan oleh hal-hal itu. Saya tidak tahu pasti apakah kepekaan itu akibat dari praktik fotografi yang telah saya jalani bertahun-tahun, atau karena kecerdasan visual bawaan, atau campuran kedua-duanya. Sebagai fotografer barangkali saya melihat dan mengalami benda-benda, alam, dan fenomena di sekitar saya dengan cara yang berbeda — secara visual lebih intense dan fokus.
  • Kelima, karena hal di atas,  saat beraktivitas, berjalan-jalan, atau mengunjungi suatu tempat, saya bisa tiba-tiba berhenti untuk memotret atau sekedar mengamati hal-hal yang berpotensi menjadi gambar yang menarik. Ini membuat saya tampak lelet dan menjengkelkan orang-orang yang bersama saya. Istri saya dulu biasanya memilih duduk di kafe atau membiarkan saya berjalan-jalan sendiri kalau kami bepergian berdua dan saya sudah mengeluarkan kamera. Teman-teman saya tidak se-understanding itu dan sering kali tampak kesal karena ke-lelet-an saya.😀
  • Yang keenam sebenarnya rahasia fotografer: saya lebih suka membuang atau menyembunyikan foto-foto yang saya rasa kurang bagus atau yang saya tidak puas atasnya. Namun kadang-kadang saya mempertunjukkannya juga, dan di luar dugaan, kadang-kadang foto yang saya anggap biasa dan kurang memuaskan, justru dianggap bagus oleh orang lain. Teman-teman fotografer banyak yang melakukan hal ini juga, meskipun ada juga yang mengatakan bahwa mereka menyimpan foto-foto seperti itu untuk dilihat dan diamati lagi di lain waktu. Jeda waktu, kata mereka, bisa membuat foto yang sama bernilai berbeda. Masuk akal. Teman-teman penulis juga bilang begitu tentang tulisan mereka. Pengendapan atau penjarakan (istilah mereka) bisa membuat kita menilai karya kita secara lebih ‘objektif’. Konon begitu.

Mungkin masih ada hal-hal lain di luar itu yang menjadi sikap dan kebiasaan saya dalam berfotografi. Tapi untuk saat ini, hanya itulah yang sempat terpikirkan.

3 pemikiran pada “Kebiasaan Dan Sikap Fotografer

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s