Bukan Mesin


“Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.”
~ Seno Gumira Ajidarma ~

Mengerikan, bukan?

Apakah kehidupan memang hanya berisi hal-hal seperti itu?

Tentu tidak! Dan memang tak seharusnya seperti itu. Namun dalam “kesibukan” kita, kita sering lupa bahwa kehidupan terlalu berharga untuk diisi hanya dengan rutinitas yang membuat kita bergerak seperti mesin.

Aku berkeyakinan bahwa kita dikirim ke dunia ini dengan misi spesifik yang khas bagi masing-masing individu, dan kita dibekali dengan bekal-bekal khas untuk misi itu. Sebut bekal-bekal itu sebagai kepribadian, traits, talenta, passion, atau apapun yang membuat kita menjadi pribadi yang hidup, bergerak dan tergerak seirama dengan misi khas yang dikendaki Semesta untuk masing-masing kita. Misiku belum tentu sama dengan misimu, meskipun sekelompok orang boleh jadi bermisi sama.

Aku kira Semesta tak menghendaki kita mengambil alih misi yang semestinya bukan misi kita (dengan memaksakan diri atau dipaksa). Karena kalau itu terjadi, pastilah kita tak akan bahagia. Kita mengingkari misi yang telah diberikan oleh Semesta, kontrak yang telah kita téken saat kita direkrut dan setuju dikirim ke dunia ini.

Tentu kita bisa menjadi manajer — atau guru, atau insinyur, atau ulama — meskipun misi dan bekal asali yang diberikan Semesta kepada kita bukan untuk itu. Kita manusia, bukan malaikat (yang memiliki ruang gerak, latitude, yang terbatas). Kita diberi ruang gerak yang cukup untuk memilih menjadi dan berbuat apapun, karena meskipun kita diutus dan dibekali untuk menjadi seniman, tidak berarti kita tak punya bekal-bekal lain yang memungkinkan kita menjadi administratur, misalnya. Tapi bisakah kita merasa utuh dan bahagia ketika kita menyia-nyiakan bekal utama kita (yang telah diberikan dengan kadar yang melimpah) dan memilih menggunakan bekal-bekal recehan untuk menjalankan kehidupan kita? Kukira kita pasti akan merasa kekurangan dan terus-menerus merasa kekurangan.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s