Waktu Kosong


Bukankah waktu kosong menakutkan? Waktu yang tak terbayangkan oleh kita yang sibuk, yang khawatir kehilangan kesempatan, yang takut kehilangan uang (karena kita telanjur percaya bahwa waktu adalah uang)?

Tidakkah kita telanjur percaya bahwa waktu adalah komoditi, sama dengan barang-barang lain yang bisa diperjualbelikan dan dihitung sebagai deretan angka-angka? Lalu kita peras angka-angka itu, seperti kita memeras diri hingga kurus kering, demi angka-angka yang lain yang bisa kita pertukarkan dengan barang-barang yang kita sangka dapat mendatangkan bahagia?

Kita kumpulkan semua, banyak dan semakin banyak lagi agar kita merasa semakin aman dan terlindung — dari rapuh dan fana, dari kekurangan dan hina, dari kerasnya semesta … Angka-angka kita bumbungkan, tinggi, bak pagar-pagar perkasa, yang lalu memutus kita, mengasingkan kita dari cakrawala dan semesta.

Waktu tak lagi menjadi sesuatu yang transenden yang mewadahi keberadaan kita, yang diciptakan oleh Sang Pencipta dan dipinjamkan-Nya kepada kita untuk tujuan-tujuan mulia — bukan sekedar mengumpulkan angka-angka, benda-benda, namun untuk mengenal diri, mengenal semesta-Nya, lalu mensyukuri, tunduk dan sujud pada keagungan-Nya.

Waktu yang telah menjadi hanya sekedar angka-angka yang dapat dipertukarkan dengan angka-angka dan benda-benda, telah mengasingkan kita dari diri sendiri, memutus tautan kita dengan semesta dan Penciptanya, lalu membuat kita menjadi amnesia dan kosong semata.

Dalam penuh kita telah terantuk pada kekosongan …

Lalu tidakkah kita — sesekali — ingin membaliknya? Lalu berkata, “Aku perlu waktu kosong untuk menengok diriku, dan kembali menemukanku”? Lalu mengisi kembali ruang-ruang kosong yang telah dicipta oleh angka-angka, benda-benda?

Barangkali dalam kosong — dan hening — dapat kita temukan kepenuhan yang membahagiakan. Barangkali dalam kosong kita dapat menemukan diri sendiri yang hilang. Barangkali dalam kosong kita dapat merajut kembali benang-benang yang telah terputus dengan semesta dan Sang Pencipta …

Barangkali …

Satu pemikiran pada “Waktu Kosong

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s