Cara dan Isi


Dalam berkomunikasi, manakah yang lebih penting: cara atau isi?

Kita tahu, dalam soal itu kita tidak bisa memilih. Kedua-duanya penting. Isi yang baik disampaikan dengan cara yang salah, bisa disalahartikan; cara yang baik tanpa isi hanyalah basa-basi yang tak berarti.

Hingga beberapa tahun yang lalu, saya masih lebih mementingkan isi daripada cara dalam berkomunikasi. Saya mengira, selama isinya benar, apapun cara yang saya pakai untuk menyampaikannya, pesannya akan tetap benar. Tentu saja saya salah. Banyak pesan baik yang saya coba sampaikan kandas, bahkan disalahartikan dan ditolak, hanya gara-gara cara yang saya pakai tidak mempertimbangkan sisi afektif si penerima pesan.

Cara berkomunikasi yang vulgar, menyerang, marah-marah, membentak-bentak, melecehkan, atau merendahkan inteligensi dan martabat si penerima pesan hanya menyebabkan resistensi dari si penerima pesan.

Orang Jawa mengenal tepo seliro; orang Inggris mengenal pepatah put yourself in somebody else’s shoes. Dalam khazanah kearifan suku-suku dan bangsa-bangsa lain, saya yakin petatah-petitih serupa juga tak asing. Intinya, kita disuruh untuk meletakkan diri di posisi yang bertimbalan. Jika kita tak nyaman menerima pesan-pesan yang vulgar, maka orang lain kemungkinan orang lain juga demikian. Jika kita tak suka dimarah-marahi, dibentak-bentak, dilecehkan dan direndahkan, maka orang lain juga demikian. Jika kita melawan ketika diserang, maka orang lain juga demikian.

Agresi, serangan, membuat yang diserang membangun benteng-benteng pertahanan dan menutup pintu rapat-rapat. Pesan-pesan baik yang disampaikan dengan cara agresif cenderung membuat sasaran penerima pesan menutup pintu dan membangun tembok-tembok pertahanan yang membuat pesan yang kita sampaikan menjadi terbentur dinding. Apalagi kalau pesan itu buruk.

Cara-cara berkomunikasi yang agresif barangkali identik dengan cara anak muda yang masih kurang kearifan – meskipun sebagian orang tua ada juga yang masih melakukannya. Ini soal jam terbang hidup, saya kira. Semakin banyak pengalaman dan pergaulan sosial seseorang, semakin banyak bacaan dan intensif perenungan yang dilakukannya, semakin arif pula dia dalam soal ini.

Beberapa mantan mahasiswa saya yang cerdas, memiliki idealisme yang terpuji dan peduli pada isu-isu sosial di lingkungannya tampak masih memiliki masalah ini dalam cara berkomunikasi mereka. Saya amati itu dari status-status mereka di media sosial dan tulisan-tulisan mereka di blog. Tidak apa. Mungkin memang masanya mereka begitu. Saya juga dulu begitu. Tapi alangkah dahsyat pengaruh dan sumbangan sosial mereka andaikan mereka bisa segera menemukan kearifan dalam cara berkomunikasi mereka.

Mereka, bagi saya, adalah calon-calon pemimpin dan agen perubahan bagi generasi dan zamannya. Dan salah satu ciri pemimpin yang baik adalah kemampuannya menggalang dukungan bagi gagasan-gagasan yang dimilikinya, dan menggerakkan masyarakatnya untuk merealisasikan gagasan-gagasan itu. Cara berkomunikasi yang arif menjadi bagian penting dari kemampuan itu. Saya harap mereka bisa segera mengembangkan cara berkomunikasi yang arif seperti itu. Tidak perlu menunggu usia menjadi bertambah tua, karena ketika usia sudah berangka banyak, ada banyak masalah pula yang harus dipikirkannya, sehingga idealisme seringkali menjadi berkurang.

Mudah-mudahan mereka membaca tulisan ini.

Satu pemikiran pada “Cara dan Isi

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s