Kentut dan Polusi Informasi


Selain makan, minum, dan bernafas, tampaknya ada satu lagi kegiatan yang sekarang sudah menjadi kebutuhan pokok kita: mencek gawai dan blusukan ke dunia maya – mencek FB, Twitter dan lain-lain media sosial, mengikuti tautan-tautan yang tersaji di dalamnya, lalu termehek-mehek (terus terang saya tidak tahu arti kata ini, karena saya tidak bisa menemukannya di dalam kamus), terpanas-panasi, berkomentar, lalu ikut pula mengabarkan kepada dunia apa yang ada di dalam kepala dan perut kita, agar dunia ikut tahu, bahwa kita masih ada. Kita menjadi sedemikian sibuk, sampai bérak dan bersepeda motor atau mengemudi mobil pun kita merasa masih perlu berinteraksi dengan gawai kita untuk mencek apa-apa yang terjadi di dunia maya.

Demi apa?

Apakah kita menjadi lebih produktif – menghasilkan sesuatu yang bermanfaat – dengan kegilaan seperti itu?

Saya tidak akan menjawabnya. Monggo, mangga, sila renungkan sendiri, jawab sendiri.

Untuk orang-orang (anak-anak) urban yang lahir setelah tahun 1990, pengalaman sehari-hari yang demikian barangkali hanyalah sebuah keniscayaan. Mereka tidak punya pembanding. Untuk kami, manusia-manusia tua dan setengah tua yang sebentar lagi akan keluar dari peredaran, keadaan ini sungguh sangat disorienting (membingungkan, mengacaukan). Kami perlu belajar banyak – to learn, unlearn, and re-learn at the same time – mengenai hal-hal yang dulu kami anggap sudah semestinya begitu.

Kami belajar untuk ikut bersilancar di gelombang dahsyat yang sedang melanda ini. Sebagian lebih berhasil daripada yang lain. Sebagian lagi, gagal. Namun, baik bagi yang berhasil maupun yang kurang berhasil, rasa-rasanya ada sesuatu yang tetap tak dapat kami mengerti, tak bisa kami integrasikan ke dalam sistem kami yang kuno dan ketinggalan zaman. Kami tak dapat menamai dengan pasti apa itu; kami hanya bisa merasakannya. Kami gelisah.

Barangkali ini ada hubungannya dengan polusi. Orang-orang yang terbiasa hidup di pedesaan yang permai, tenang, damai dengan udara yang bersih akan tiba-tiba menjadi mudah sakit tatkala mereka terpaksa hidup di perkotaan yang gersang, bising, dan dipenuhi oleh asap dan debu: ISPA, maag, jerawat, bisul, kanker, stres, linglung … dan lain-lain penyakit orang-orang perkotaan yang, konon, tak terlalu banyak ditemui di kalangan orang-orang desa yang hidup jauh dari polusi.

Polusi, “Keberadaan atau pemasukkan zat yang berbahaya atau memiliki efek racun ke dalam lingkungan” (Kamus Oxford), semula – dan umumnya – memang hanya kita asosiasikan dengan kekotoran tanah, udara, dan air (asal-usul kata ini, pollut, polluere, konon berhubungan dengan akar kata lutum, yang berarti lumpur). Namun, seiring dengan perkembangan teknologi, kita juga mengenal polusi suara dan polusi-polusi lain yang perlu kita namai karena ada. Salah satu polusi baru itu, yang lahir karena perkembangan teknologi, adalah polusi informasi.

Bagaimana mungkin informasi bisa menjadi polusi? Bukankah informasi adalah sesuatu yang bermanfaat? Bahkan, konon, orang-orang yang menguasai informasi adalah orang-orang yang berkeunggulan?

Bagaimana tidak?

Di era Internet ini, era digital ini, semua orang bisa memproduksi informasi dan mengedarkannya. Bukankah itu berarti informasi sudah menjadi seperti kentut (bisa diproduksi dan diedarkan oleh semua orang)?

Polusi kentut – kalau kentut dianggap sebagai polusi – mungkin tidak seberapa bahayanya dibandingkan dengan polusi informasi. Kentut hanya memengaruhi orang-orang yang kebetulan berada di dekat si pengentut. Itupun efeknya tidak terlalu berbahaya. Saya belum pernah mendengar orang pingsan atau masuk rumah sakit gara-gara membaui kentut, meskipun di dunia fiksi perwayangan konon kentut Semar bisa sedahsyat itu akibatnya. Tapi informasi?

Sungguh dahsyat akibatnya! Ia bisa membuat seluruh negeri kalang-kabut, kebakaran jenggot dan pantat, menjadikan orang berbantah-batahan, berpecah-belah, saling menghujat dan menghakimi. Mungkin pandangan saya agak pesimis dalam hal ini, karena informasi bisa juga berefek sebaliknya. Namun, justru itulah yang mungkin perlu kita renungkan.

Karena efeknya, informasi adalah komoditas strategis. Siapa yang menguasainya bisa menguasai sesiapa pun yang dimauinya. Dulu, informasi dikuasai oleh negara (melalui propaganda, sensor, dlsb.) atau media massa (melalui kekuasaan editorialnya). Kontrol informasi oleh negara, kita tahu, bisa berakibat penyalahgunaan untuk melanggengkan kekuasaan kelompok-kelompok yang berkuasa. Kita setuju untuk membabatnya dan membelenggu tangan-tangan negara agar tidak menjamah dan turut campur dalam hal produksi dan sirkulasi informasi. Sejak itu, informasi menjadi komoditas bebas yang produksi dan sirkulasinya diserahkan sepenuhnya pada kemauan pasar. Namun permainan pasar bebas seperti ini, kita tahu, tak otomatis berpihak kepada rakyat kebanyakan. Pasar bebas adalah permainan modal. Siapa yang bermodal besar, dia akan lebih bisa menguasai pasar. Maka di lahan permainan yang seperti ini, para pemilik modal besarlah (melalui usaha-usaha mereka di bidang media massa) yang menguasai dan menyetir informasi, seringkali demi kepentingan mereka atau kelompok mereka sendiri.

Kekuasaan atas informasi oleh negara maupun pasar bebas terbukti tak menguntungkan rakyat kebanyakan. Dalam kedua-duanya terjadi penindasan: yang pertama oleh negara, yang kedua oleh kekuasaan kapital (kapitalisme). Lalu, bukankah era sekarang, di mana kekuasaan atas informasi telah terdemokratisasikan dan setiap orang dapat memproduksi dan mengedarkan informasi, semestinya adalah era yang terbaik?

Dibandingkan dengan dua pilihan sebelumnya, barangkali begitu. Namun, informasi tanpa kontrol saya kira juga buruk. Bagi saya, ini sama saja seperti sebuah masyarakat tanpa hakim dan pengadilan. Orang bisa memproduksi dan menyebarkan informasi apapaun, termasuk kebohongan, fitnah, disinformasi, agitasi (adu domba), main hakim sendiri, dan sebagainya. Informasi yang demikian bisa membuat orang-orang saling mencerca, saling membenci, saling bermusuhan, dan tak saling percaya – yang akibatnya membuat masyarakat menjadi terpecah, penuh kegelisahan dan kekerasan. Skenario seperti ini terutama berlaku di kalangan orang-orang yang tingkat literasinya masih rendah, karena mereka tidak mampu memilah informasi mana yang layak dipercaya dan informasi mana yang seharusnya dibuang saja ke tempat sampah. Inilah, saya kira, salah satu penyebab terjadinya peningkatan kekerasan, menjamurnya paham-paham radikal, intoleransi terhadap perbedaan dan tumbuh suburnya terorisme.

Semua itu dimungkinkan tumbuh karena informasi yang disebarkan oleh orang-orang atau kelompok-kelompok kultural dan atau ideologis tertentu bisa menjangkau orang-orang yang kurang literat di pelosok dunia manapun, dan menerobos masuk ke dunia gagasan mereka. Penetrasi ideologis/kultural semacam itu menjadi semakin cepat karena orang-orang yang kurang akal dan kurang pengetahuan ikut serta menyebarkan dan membumbui informasi itu dengan pendapat-pendapat pribadi mereka yang dangkal dan dipenuhi dengan emosi-emosi primordial yang membodoh-bodohi.

Dalam situasi seperti ini, maka informasi menjadi seperti zat polutan, yang jika dimasukkan ke dalam suatu lingkungan bisa membahayakan dan meracuni lingkungan tersebut. Cara menanggulanginya pun saya kira sama dengan zat-zat polutan lain. Jika polusi-polusi lain (seperti polusi udara, air, dan tanah) dapat diatasi dengan meregulasi sumbernya (seperti pabrik, kendaraan bermotor, dsb) dan memaksa mereka menaati hukum, maka demikian juga dengan polusi informasi. Kita bisa meregulasi produksi dan sirkulasi informasi agar tak menimbulkan polusi yang membahayakan dan meracuni masyarakat. Cara lain yang dapat dilakukan adalah dengan membekali masyarakat dengan filter yang dibutuhkan untuk mengamankan diri dan keluarga mereka dari intrusi polusi informasi. Jika kita bisa menyuruh para pekerja pabrik atau para pesepeda motor untuk mengenakan masker udara demi kesehatan mereka sendiri, kita semestinya juga bisa membekali para konsumen informasi dengan filter-filter literasi yang memungkinkan mereka untuk dapat berpikir jernih dan cerdas dalam menerima banjir bandang informasi yang terjadi di era Internet sekarang ini.

Eki Akhwan,
3 Juli 2015

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s