Religiositasku


Agama ada untuk menghubungkan kita dengan Sang Pencipta; mengatur hubungan kita dengan sesama ciptaan (dengan sesama manusia, dengan hewan, dengan tetumbuhan, dengan bumi dan langit dan segala isinya); memberi petunjuk kepada kita tentang cara hidup yang dikehendaki oleh Sang Pencipta, agar cara hidup kita sesuai dengan desain semesta yang telah diciptakan-Nya; memberi pencerahan tentang siapa diri kita, identitas kita, posisi kita di alam semesta, asal-usul dan tujuan kita.

Dalam agama yang saya yakini, saya hanyalah seorang hamba dari Sang Pencipta yang mutlak Esa. Saya diciptakan untuk mengabdi kepada-Nya (karena saya hamba) dengan mengikuti petunjuk-petunjuk-Nya, menjalankan tugas-tugas yang diberikan-Nya untuk memakmurkan bumi tempat tinggalku dan membantu sesama dengan bekal-bekal yang telah diberikannya kepada saya (tubuh saya, pikiran saya, bakat-bakat saya, kesehatan saya, ilmu saya, harta saya dan semua yang diberikan atau dipinjamkan Tuhan kepada saya). Pangkat saya sebagai hamba adalah khalifatul fil ardh (God’s deputy on earth).

Sebagai hamba dan khalifah-Nya, tentu saya tidak bisa bertindak dengan sesuka hati dengan bekal-bekal yang telah diberikan-Nya. Saya tidak bisa menggunakan tubuh saya, pikiran saya, bakat-bakat saya, kesehatan saya, ilmu saya, harta saya, dan semua yang telah dipercayakan-Nya kepada saya untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan kehendak-Nya.

Saya tahu, saya daif, lemah. Saya sering khilaf, lupa. Saya suka lupa bahwa saya hamba yang mengemban tugas-tugas-Nya. Saya suka lupa bahwa apa yang ada pada diri saya hanyalah fasilitas, pinjaman. Kadang-kadang saya merasa memiliki apa yang ada pada diri saya dan menggunakannya untuk kesenangan saya sendiri. Untunglah Tuhanku Maha Pemaaf, Maha Pengampun. Dia memahami, memaafkan, dan mengampuni segala kedaifan dan kekhilafanku.

Apakah aku bahagia sebagai hamba?

Kadang-kadang aku berkeluh-kesah juga. Kenapa yang ada padaku ini, bukan itu? Kepana aku diberi peran ini, bukan itu? Kenapa aku diberi beban ini, dan tidak orang-orang itu? Kenapa orang-orang lain tampak lebih hebat dan lebih mulia daripada aku?

Ini membuatku sedih, berduka cita.

Tapi aku sadar, tentu Tuhan tak bisa memberi tugas yang sama, peran yang sama, bekal yang sama kepada setiap orang. Jika itu terjadi, maka tak ada seorang pun yang bisa melaksanakan tugas dan perannya. Semua dibeda-bedakan agar saling mengisi, saling menolong, saling membantu.

Lalu aku pun bahagia.

Aku mengharapkan petemuan dengan-Nya, kelak. Aku menantikan saat ketika Dia membagikan raporku, memberikan imbalan yang telah dijanjikan-Nya kepadaku. Aku berharap Dia mengampuni segala kekurangan dan kesalahanku, dan tak menghukumku.

Itulah religiositasku. Sikap dan pandangan hidup yang tumbuh dari agama yang aku peluk dan yakini.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s