Mengendalikan Konsumsi Informasi


Informasi memang kebutuhan. Tapi seberapa banyak?

Seperti halnya makan dan minum, kebutuhan kita akan informasi sebenarnya dibatasi oleh kemampuan kita untuk mengkonsumsi dan mencernanya. Dalam keadaan kenyang, normalnya kita akan berhenti makan dan minum. Dalam keadaan tertentu – misalnya di sebuah perjamuan di mana makanan dan minuman yang disajikan begitu istimewa – bisa jadi kita akan terus makan dan minum. Namun itupun akhirnya akan sampai pada batasnya. Tubuh kita akan kekenyangan dan menolak, muntah, jika kita terus memaksanya untuk menerima tambahan makanan dan minuman, betapapun enaknya dirasakan oleh lidah.

Begitupun halnya informasi. Dalam keadaan normal, kehadiran informasi yang kita butuhkan adalah berkah. Kita merasakan manfaatnya. Namun, jika informasi itu datang bertubi-tubi, tak mengenal tempat dan waktu, lama-kelamaan kita pun akan sakit.

Kita perlu mengendalikan konsumsi informasi kita sama seperti kita mengendalikan syahwat makan dan minum kita – jumlah dan kualitasnya. Makan dan minum berlebihan membuat kita sakit. Mengkonsumsi informasi secara berlebihan pun bisa membuat kita sakit. Makanan dan minuman yang tidak sehat membuat tubuh kita menderita. Demikian juga informasi. Kebiasaan mengkonsumsi informasi-informasi sampah bisa membuat kesehatan jiwa kita terganggu.

Sudah lama saya tidak menonton televisi. Saya hanya menyalakan televisi hanya jika benar-benar dibutuhkan, ketika saya merasa televisi bisa memberikan sesuatu yang lebih baik daripada yang dapat diberikan oleh media lain. Internet pun demikian. Meskipun di rumah ada WiFi dan internet berkecepatan tinggi, saya hanya membuka situs-situs yang informasinya saya butuhkan atau bisa memberika nilai tambah untuk kehidupan saya.

Konsumsi media sosial pun semakin lama semakin saya kurangi. Dulu, saya cenderung tergoda melaporkan apapun yang saya rasakan dan alami di media sosial. Sekarang tidak. Dulu saya sering ingin mencek status teman-teman di media sosial. Sekarang tidak – karena saya tahu tidak semua status layak dikonsumsi. Status-status yang berisi kemarahan, sumpah-serapah, keluh-kesah, gosip, dan yang nyinyir, sensasional, membodoh-bodohi, dan menebarkan keresahan dan kebencian, tidak menarik untuk saya – sama tak menariknya seperti makanan dan minuman yang mengandung vetsin terlau banyak, karena meskipun sepintas terasa lezat, after taste-nya bisa menyiksa tubuh. Apalagi makanan atau minuman yang jelas-jelas mengandung zat pengawet atau pewarna yang berbahaya.

Ini soal prinsip. Kalau saya menjaga kesehatan tubuh saya dengan mengkonsumsi makanan dan minuman yang sehat, saya pun perlu menjaga kesehatan jiwa saya dengan hanya mengkonsumsi informasi yang sehat dan betul-betul saya butuhkan.

Satu pemikiran pada “Mengendalikan Konsumsi Informasi

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s