Kesan yang Terbekukan


Apakah kesan ‘benda’ padat atau ‘benda’ cair?

Ini pertanyaan yang menarik. Dan, jawaban saya atas pertanyaan di atas adalah, bisa kedua-duanya. Kesan bisa cair dan mengalir tatkala si pemberi kesan dan si penerima kesan terus-menerus berinteraksi. Kesan pertama bisa jadi begitu mempesona. Namun, waktu dan interaksi bisa mengubahnya. Bisa jadi, apa yang tampak mempesona pada mulanya berubah menjadi tak menarik, bahkan memuakkan.

Kesan pertama memang penting. Seperti pohon, ia adalah akar yang menopang sebuah hubungan. Tapi evaluasi kita terhadap seseorang (atau sesuatu) terus berkembang. Semakin banyak ‘informasi’ yang kita dapatkan tentang seseorang, semakin besar dan lengkap pula gambar kita tentang orang itu. Penilaian kita atas garis, pola, warna pada gambar itulah yang kita namakan kesan.

Ada kalanya kita berinteraksi dengan seseorang sekali atau dalam suatu kurun waktu tertentu. Tentu ada kesan yang tercipta waktu itu. Ketika kita terpisah untuk sekian lama, kesan itulah yang tertinggal dan menetap. Orang yang mengenal kita dulu, lalu terpisah sekian lama, cenderung menganggap kita adalah kita yang dulu, yang ada dalam kesannya dulu. Inilah kesan yang terbekukan.

Tentu ini tidak salah dan semestinya dimaklumi, karena sampai suatu titik di masa lalu itulah informasi yang dimilikinya mengenai kita. Gambar yang dimilikinya tentang kita terhenti, terbekukan, karena ketiadaan interaksi.

Kesan yang terbekukan seringkali terungkap pada saat kita reuni dengan teman SD, SMP, atau SMA, bahkan dengan teman kuliah yang baru terpisah beberapa tahun. Itu tak terhindarkan. Kesan saya terhadap para (mantan) murid dan mahasiswa saya pun ternyata demikian. Saya cenderung masih ‘menatap’ mereka dengan mata saya sebagai seorang guru atau dosen ketika bertemu lagi (langsung maupun melalui media sosial) dengan mereka beberapa tahun kemudian. Padahal, dalam banyak hal mereka telah banyak berubah. Banyak di antara mereka yang telah menjadi orangtua dari anak-anak mereka, menjadi pejabat, bahkan menjadi ilmuwan atau profesional dengan ilmu, ketrampilan, dan pengalaman yang tak kalah, bahkan jauh lebih baik daripada saya. Baru setelah berinteraksi kembali, saya mulai menyesuaikan pandangan saya pada mereka. Saya melihat dan memperlakukan mereka sebagai sesama orangtua, sejawat, bahkan atasan atau orang yang perlu saya takzimi karena ilmu dan kedudukan mereka.

2 pemikiran pada “Kesan yang Terbekukan

  1. pak ekii, apa kabar?🙂 saya dulu salah satu mahasiswa bapak. baca tulisan ini jadi terharu dan kangen kampus pak. pengen main ke kampus lagi tapi susah cari waktunya. saya sama temen-temen masih sering ingat ide-ide bapak yang disampaikan di kelas. Inspiring banget sampai sekarang🙂

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s