Belajar Menjadi Tukang


Tangan saya tidak sebaik otak, hati, dan lisan saya. Saya lebih nyaman dengan pekerjaan-pekerjaan berpikir, mengonsep, merenungkan, berbicara dan menulis daripada pekerjaan tangan. Paling tidak, itulah yang selama ini saya rasakan.

Saya suka membaca, menulis, berbicara, dan menikmati karya-karya seni dalam segala bentuknya. Mencipta dengan tangan bukan sisi kuat saya. Namun, akhir-akhir ini ada sedikit perubahan yang saya rasakan. Saya mulai bisa menikmati pekerjaan tangan, menukang.

“Perubahan” itu dimulai secara tidak sengaja sebenarnya. Di rumah banyak sekali pekerjaan-pekerjaan kecil, maintenance, yang seharusnya sudah dilakukan namun tertunda-tunda karena sulitnya mencari tukang yang bisa dan mau mengerjakan pekerjaan-pekerjaan kecil seperti itu. Tukang-tukang untuk pekerjaan besar seperti renovasi dan membangun lebih mudah dicari. Banyak agen yang menawarkan jasa itu. Tidak demikian halnya dengan pekerjaan-pekerjaan kecil. Pekerjaan-pekerjaan kecil mungkin kurang menarik karena jangka waktunya pendek (paling lama sehari atau dua). Sementara pekerjaan renovasi atau membangun bisa memberi jaminan pekerjaan berminggu-minggu, bahkan bisa beberapa bulan. Jadi kalau ada pekerjaan lebih besar, kenapa mesti menerima pekerjaan yang lebih kecil?

Karena situasi seperti itulah saya mulai mencoba-coba mengerjakan sendiri pekerjaan-pekerjaan kecil yang sudah seharusnya dilakukan: mengganti keran dan sambungan pipa air, menambal tembok yang gompal dan retak, dan lain-lain. (Wah, keterlalulan ya?🙂 Bukankah pekerjaan-pekerjaan seperti itu mestinya bisa dilakukan oleh semua orang, apalagi laki-laki! Tapi yaah, begitulah. Saya lebih suka menyerahkan pekerjaan-pekerjaan seperti itu pada ahlinya.)

Merasa berhasil dengan pekerjaan-pekerjaan kecil itu, sekarang saya merasa jadi lebih pédé. Saya mulai melirik pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar seperti mengecat pintu, jendela, dan tembok, serta membuat furnitur sendiri (yang sederhana tentunya).

Minggu ini saya mulai merealisasikan keinginan-keinginan itu. Berbekal referensi dari Internet dan Youtube, saya mulai membeli bahan-bahan dan peralatan yang diperlukan dan mulai beraksi. Apa yang semula saya bayangkan rumit dan sulit, ternyata cukup sederhana dan mudah. Memang ada sedikit kekeliruan (bahan), ‘kekacauan’ (proses), dan trial and error. Tapi apa yang saya dapatkan jauh lebih banyak.

Papan-papan ini adalah bahan projek furnitur pertama saya: rak buku. Penghalusan dan pewarnaan papan ini saya lakukan sendiri.
Papan-papan ini adalah bahan projek furnitur pertama saya: rak buku. Penghalusan dan pewarnaan papan ini saya lakukan sendiri.

Pelajaran utama dan paling berharga menurut saya adalah bahwa pekerjaan tangan ternyata sangat relaxing. Pekerjaan tangan membuat saya lebih rileks, lebih memerhatikan detil (meskipun harus diakui ini sudah menjadi sifat saya dari dulu), dan belajar lebih sabar dan telaten. Selain itu, saya juga belajar ketrampilan-ketrampilan dan istilah-istilah baru yang berkaitan dengan pekerjaan yang saya lakukan. Dalam istilah cat-mengecat, misalnya, saya sekarang lebih tahu perbedaan, fungsi, dan cara pemakaian meni, dempul, bermacam-macam cat besi dan kayu serta pengencer cat (thinner), politur, vernis, dan lain-lain. Dan karena sumber belajar saya kebanyakan berbahasa Inggris, saya juga jadi tahu istilah-istilah seperti primer (meni), wood filler (dempul), wood stain, dan lain-lain.

Begitulah pengalaman saya belajar menjadi tukang.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s