Selir Itu Bernama Penghujan


Hari ini hujan cukup deras di kota ini. Aku kira ini berita penting. Setelah hari-hari kerontang yang cukup panjang, setelah kekeringan yang mencekam dan membuat kita ketar-ketir tentang cadangan air di sumur-sumur kita, kehadiran hujan selalu menjadi berita yang besar. Berita penting dan perlu dicatat. Dikabarkan. Menggembirakan.

Apakah ini menjadi pertanda bahwa musim kemarau telah berlalu, dan tempatnya kini telah digantikan oleh musim penghujan? Ataukah hujan ini hanya bertandang sesaat, bertamu dan melepas rindu, lalu pergi lagi ke tempat pertapaannya di balik cakrawala karena ia belum menuntaskan samadinya?

Aku tak tahu. Penghujan dan kemarau memang begitu. Akhir-akhir ini. Mereka tak lagi menaati jadwalnya. September semestinya penghujan kembali, dan kemarau pergi. Begitu seharusnya. Tapi bumi makin panas. Mereka mungkin perlu bersamadi lebih lama untuk memulihkan tenaga mereka sebelum kembali menjalankan tugas-tugas mereka.

Dari tanda-tandanya, tampaknya penghujan telah siap menduduki lagi singgasananya. Hujan tadi cukup deras dan meluas – seolah-olah berteriak lantang, “Aku telah kembali!” Angin pun turut bersorak-sorai menyambut kedatangannya. Bukankah itu tanda-tanda? Lagipula, bukankah ini sudah waktunya?

Tapi mungkin saja aku keliru. Menafsir tanda yang bisa jadi cuma godaan genit sang penghujan yang ingin mengisyaratkan betapa ia pun pantas dirindu. Lalu ia pun kan pergi lagi, membuat kita semakin rindu dan merenung betapa berarti kehadirannya ketika kita telah bosan pada kemarau.

Aku sering bertanya. Pada diri sendiri saja: Adakah hujan pertama, yang bisa ditandai pasti? Tanggal, hari dan jamnya? Ataukah itu hanya ilusi pikiranku saja? Karena hujan dan kemarau, basah dan kering, bisa datang dan pergi kapan saja, silih berganti, tak mengapa siapa yang sedang berkuasa?

Saat kemarau bertahta, kita merindu penghujan. Saat penghujan berkuasa, kita merindu kemarau – merindu matahari dan kehangatannya. Mereka berdua kekasih hati kita, selir-selir kita, yang satu menjadi pengobat jenuh dan bosan pada yang lain.

Bandung, 21 September 2015

3 pemikiran pada “Selir Itu Bernama Penghujan

  1. Itu bisa dijadikan peringatan pada manusia, Pak.. Biar segera membersihkan saluran air. Agar saat penghujan mulai membasahi kemarau, air mengalir lancar untuk sejenak memadu rindu kepada muara lautan yg menjadikannya uap.. Heuheuheuheu..

  2. Hujan pertama pada kemarau yg panjang memang bisa dijadikan pertanda. Kepada manusia sebelum musim benar2 berganti. Kotoran yg selama kemarau menumpuk di talang atah rumah agar segera dibersihkan. Tumpukan sampah dalam bentuk apapun yang berserakan di selokan untuk segera disingkirkan. Agar air hujan lebih bebas menuju muaranya untuk sejenak melepas rindu kepada laut yg menjadikannya uap. Heuheuheuheuheu..

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s