Dalam Sistem yang Tolol, Orang Pintar pun Menjadi Tolol


Saya tidak terlalu suka menggunakan kata tolol sebenarnya. Intensitas makna kata itu terlalu kuat. Terlalu menohok. Terlalu tajam. Tolol adalah bodoh yang bersangatan, bebal. Namun apa boleh buat, kadang-kadang kata berintensitas tinggi seperti itulah yang menyeruak ke permukaan saat intensitas emosional kita juga meninggi. Saya mohon maaf sebelumnya kalau ada yang merasa tertoreh rasanya. Ini luapan emosi saya.

Tadi siang saya melihat pemandangan ini di kampus:

20150929_124557

20150929_124612-2

Dari sinilah kata tolol itu menyeruak ke benak saya.

Ini bukan kali pertama saya melihat pemandangan seperti ini. Dan bukan di kampus ini saja. Orang memarkirkan kendaraannya di belakang kendaraan-kendaraan lain yang telah diparkir di tempat yang semestinya.

Jika saya melihat pemandangan ini di pasar atau di terminal, saya mungkin bisa lebih memafhuminya. Tapi ini kampus universitas! – tempat para cerdik cendekia berkumpul, tempat ilmu digali, ditimba, dan dikembangkan; tempat kearifan dan kehalusan budi ditempa dan ditanamkan. Saya sungguh tidak bisa menerima. Akal dan nurani saya memberontak.

Tempat parkir ini sangat luas dan masih banyak tempat yang luang. Kenapa sivitas akademika ini memilih memarkirkan kendaraan mereka di belakang kendaraan-kendaraan lain? Apakah tidak terpikir oleh mereka bahwa perbuatan mereka ini akan menghalangi kendaraan-kendaraan lain untuk keluar? Menyulitkan orang lain? Hanya agar mereka bisa parkir lebih dekat ke gedung yang mereka tuju?

Betapa egoisnya! Betapa tololnya! Betapa tidak berbudi dan kurang akal budi.

Perbuatan-perbuatan kurang akal dan anti sosial seperti ini tidak hanya terjadi dalam soal perparkiran. Membuang sampah sembarangan, berjalan di badan jalan padahal trotoar sudah disediakan, duduk bergerombol di tangga dan lorong dan menghalangi lalu-lalang orang, memacu kendaraan di atas kecepatan yang telah ditentukan di dalam kampus menjadi pemandangan sehari-hari teramati oleh mata yang jeli.

Universitas dan sekolah memang bukan menara gading. Ia tidak menjulang tinggi, berkilau, bersih dan suci dari kekotoran-kekotoran masyarakatnya. Dalam masyarakat yang tolol, orang pintar pun menjadi tolol. Dalam sistem yang tolol, orang pintar pun menjadi tolol.

Tapi bukankah pendidikan merupakan upaya kita untuk memperbaiki akal budi, mengangkat peradaban dari rendah menjadi tinggi? Pendidikan bukan hanya ilmu, tapi juga (dan terutama) perilaku: dari tak berbudi menjadi berbudi adalah cerminan dari tak tahu menjadi tahu, dari tak peduli menjadi peduli?

Pendidikan yang menambahkan ilmu tapi tak mengubah perilaku tidak pantas disebut pendidikan. Pendidikan yang berasal dari kata didik memiliki arti “memelihara dan memberi latihan (ajaran, tuntunan, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran” (KBBI). Ahlak (perilaku berbudi) menjadi tekanan, kecerdasan menjadi ikutan. Pendidikan memiliki tekanan yang berbeda ketimbang pengajaran, yang berasal dari kata ajar, yang tekanannya adalah pada memperoleh kepandaian. Apa guna kepandaian bila tak berbudi, tak peduli, berahlak kasar? Karena budilah kita dihargai, bermanfaat untuk sesama, diingat dan diikat ke dalam masyarakat. Bukan karena ilmu.

Bagaimana kita akan membangun masyarakat yang beradab jika ilmu tak mengubah perilaku? Pintar tapi savage apalah guna.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s