Cinta Sejati


Ada seorang kawan muda bertanya kepadaku, apakah cinta sejati itu?

Sejenak aku merenung, menelusuri kembali jalan-jalan yang pernah aku lalui puluhan tahun ini.

Lalu aku menjawab:

Cinta sejati, Kawan, bukan cinta yang menggebu-gebu. Bukan rasa yang membuatmu jungkir balik atau terjaga sepanjang malam. Bukan pula rasa yang membuatmu menjadi setengah gila – tersenyum-senyum sendiri, menangis sendiri; bukan juga yang mampu mengubahmu menjadi manusia super – yang tahan lapar, tahan haus, tahan dingin, tahan panas, dan tahan malu!

Cinta sejati juga tak seharusnya membuatmu buta.

Cinta itu cahaya, yang menerangi, menuntun, membuka mata. Hanya kegelapan yang membutakan mata. Dan pasti itu bukan cinta.

Kawanku mengangguk-angguk, menggeleng-geleng … Aku tak tahu, apakah itu tanda setuju atau tak setuju.

Kawan, kataku: Cinta sejati tak datang seperti angin puting beliung yang memporak-porandakan duniamu yang tentram damai sebelum kedatangannya. Ia justru datang seperti angin sepoi-sepoi, yang membelai dan mengusir gerahmu. Pelan dan pasti. Ia datang untuk kebagiaanmu, mengusir segala gundahmu, mendatangkan kedamaian untukmu.

Kawanku mengangguk-angguk sejenak. Lalu menggeleng-geleng. Aku tak tahu apa yang dia mau.

Cinta sejati tak datang sejenak, membakar segala rasa, lalu melenggang pergi. Cinta sejati ada dan datang untuk menetap bersamamu, mendampingimu – di saat suka, di saat duka – karena sesungguhnya ia telah menemani perjalananmu dari Keabadian. Kalian terpisah dan terlupa sejenak hanya karena amnesia waktu kalian masuk ke dunia manusia, seperti Adam dan Hawa, seperti meteor yang atmosfer bumi kita.

Dari Keabadian ia datang, ke Keabadian pula ia akan kembali – bersamamu! Karena ia bagian dari dirimu, ia akan menyertaimu ke manapun kau pergi: Dari Keabadian – di kefanaan – kembali ke Keabadian. Begitu!

Lalu aku pun terbangun dari keasyikanku dengan kata-kataku sendiri. Ku tengok dia telah terlelap, dalam duduknya.

Aah, kata-kata memang mengasyikkan. Mereka telah membuatku lupa pada siapa aku berkata-kata. Dan dia pun tertidur. Mungkin karena kata-kata memang mengasyikkan.

Eki Akhwan,
11 Oktober 2015

Satu pemikiran pada “Cinta Sejati

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s