Tiga Jenis Teman


Kita mahluk sosial. Keberlangsungan hidup kita, identitas kita,  kebahagiaan kita ditentukan oleh hubungan-hubungan yang kita jalin dengan manusia-manusia lain. Tak seorang pun bisa sepenuhnya mandiri dan hidup sendiri. Berteman adalah salah satu realisasi hasrat insani kita sebagai mahluk sosial.

Siapapun bisa kita anggap sebagai teman: teman bermain di masa kecil, teman sekelas, teman sekerja, teman seprofesi, teman bisnis, teman di klub atau organisasi, teman sehobi, bahkan orang-orang yang kebetulan pernah bersama kita dalam suatu kegiatan (meskipun hanya sekali), semua bisa kita anggap sebagai teman. Dalam bahasa kita, teman memang cenderung memiliki konotasi yang sangat luas.

Begitu longgarnya pengertian kita tentang kata teman,  kadang-kadang kita lupa bahwa tidak semua teman sama. Biasanya kita baru sadar bahwa seseorang yang selama ini kita anggap sebagai teman ternyata bukan Teman ketika kita tak dapat lagi mengandalkannya sebagai Teman. Saat itulah kita merasa ditelantarkan, dikhianati, dan sakit hati.

Lalu siapakah teman sejati itu?

Menjawab pertanyaan ini, Aristoteles (384 – 322 SM) memerikan pertemanan menjadi tiga jenis: pertemanan berdasarkan manfaat, pertemanan berdasarkan kesenangan, dan pertemanan sejati.

Pertemanan berdasarkan manfaat terjadi ketika seseorang memperteman seseorang karena manfaat yang bisa diberikan oleh temannya itu. Seseorang yang berteman dengan seseorang yang lain karena orang itu kaya, punya jabatan atau memiliki ilmu atau keahlian yang memberi manfaat baginya, hampir bisa dipastikan bukanlah teman sejati. Orang seperti ini akan menjauh dan melupakan pertemanannya ketika ‘temannya’ itu tak lagi memiliki apa yang diinginkannya, atau dia telah mendapatkan apa yang diinginkannya.

Pertemanan berdasarkan kesenangan pun demikian. Ia terjadi ketika seseorang memperteman orang yang cantik atau tampan, berkepribadian menarik, atau menyenangkan. Pertemanan seperti ini juga tidak akan bertahan lama karena motivasinya adalah kesenangan diri sendiri. Jika temannya itu tak lagi memberinya kesenangan, maka menjadi longgar pula ikatan pertemanan mereka. Pacar atau teman hura-hura mungkin bisa menjadi contoh pertemanan jenis ini (catatan: Dalam tulisannya, Aristoteles menggunakan istilah philia yang juga bisa berarti perasaan suka atau bahkan cinta). Ketika seseorang berteman atau mencintai seseorang yang lain karena orang itu memberinya perasaan senang, sukacita, atau bahkan menumbuhkan rasa cinta, maka hampir bisa dipastikan bahwa hubungan pertemanan yang terjadi karenanya bukanlah pertemanan sejati.

Pertemanan sejati, menurut Aristoteles,  hanya bisa terjadi di antara dua orang yang memiliki kebaikan (goodness, virtue). Kebaikan yang dimaksudkannya di sini adalah “… keinginan/harapan akan hal-hal baik untuk temannya demi temannya itu sendiri …” (Bukan kebaikan temannya agar dia juga memperoleh manfaat atau kesenangan dari kebaikan itu.)

Demikian kira-kira pemikiran Aristoteles. Untuk lengkapnya, sila baca sendiri ulasan di artikel Stanford Encyclopedia of Philosophy yang tautannya saya berikan di atas.

 

 

 

 

2 pemikiran pada “Tiga Jenis Teman

  1. Assalamu’alaikum Kang…
    Teman jenis ketiga ini kayaknya sulit kita dapatkan di zaman ini ya kang, hehee.
    Tapi perlu sekali teman seperti itu karena bisa menjadi sahabat dunia dan akhirat juga.
    Salam dari Dompu.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s