Wayan Mirna, Salim Kancil dan Praktik Jurnalisme


Seorang kawan mengeluhkan, kenapa kasus kopi maut yang merenggut nyawa Wayan Mirna Salihin memperoleh perhatian yang jauh lebih banyak dari media massa daripada kasus Salim Kancil.

Saya tidak tahu pasti seberapa benar keluhan kawan itu, karena saya tidak melakukan penghitungan jumlah berita yang diangkat oleh media massa untuk kedua kasus itu. Barangkali keluhannya benar karena akhir-akhir ini berita tentang kasus Mirna memang terasa mendominasi pemberitaan di media massa-media massa utama. Namun, bisa jadi juga keluhannya kurang tepat karena pada waktunya, kasus Salim Kancil juga diberitakan cukup gencar oleh media-media yang sama. Secara kronologis kasus Salim Kancil memang terjadi lebih dulu.

Mirna dan Salim, kita tahu, adalah sama-sama korban pembunuhan. Mirna terbunuh oleh kopi beracun. Siapa yang menaruh racun itu di dalam minumannya, masih menjadi misteri, meskipun – berdasarkan bukti-bukti sementara yang telah dikumpulkan – polisi telah menetapkan Jessica, temannya, sebagai tersangka. Berbeda dengan  Mirna, Salim Kancil adalah korban pembunuhan terang-benderang. Menurut laporan-laporan media yang saya cermati, dia dieksekusi (dikeroyok dan dibunuh secara mengenaskan) oleh Tim 12 karena dia memperjuangkan haknya yang telah secara zalim direnggut oleh oknum kepala desa yang berkongkalikong dengan perusahaan penambangan pasir yang mendapat sokongan dari oknum-oknum aparat keamanan. Enam petak sawah yang sebelumnya menjadi sumber penghidupan keluarganya rusak akibat ulah mereka sehingga dia tak lagi memiliki sumber penghidupan.

Meskipun sama-sama kasus pembunuhan, kedua kasus itu jelas berbeda. Dari segi motif dan kepentingan publik, kasus Salim Kancil jelas memiliki peringkat yang lebih urgen untuk diusut dan dituntaskan karena menyangkut hak azasi manusia seorang warga negara yang telah direnggut oleh oknum-oknum aparat negara yang seharusnya justru memberi pengayoman dan perlindungan terhadapnya. Karena alasan inilah barangkali teman saya merasa bahwa pemberitaan kasus Mirna secara disproporsional telah menenggelamkan perhatian terhadap kasus yang lebih penting itu.

Jika diteropong dari kacamata teori konspirasi, orang boleh jadi curiga bahwa kasus Mirna telah di-blow up sedemikian rupa agar perhatian publik teralihkan dari kasus Salim Kancil yang melibatkan kezaliman oknum-oknum aparat negara. Namun, jika diteropong dari praktik-praktik jurnalisme, hal itu boleh jadi hanya sebuah ‘kewajaran prosedural’.

Mengejar kekinian dan kebaruan adalah suatu kelaziman dalam praktik jurnalisme. Berita yang lebih baru akan dengan sendirinya menggeser berita yang lebih lama. Sebagai konsumen berita, belum pernah rasanya saya menjumpai sebuah lembaga pemberitaan yang terus berkutat dengan berita lama, betapapun pentingnya berita itu. Kalaupun ada lembaga pemberitaan seperti itu, saya rasa lembaga itu telah gulung tikar karena kehilangan konsumennya. Kata ‘news’ (berita) dalam bahasa Inggris mengisyaratkan hal itu. Berita haruslah mengandung kebaruan, perkembangan terbaru, terkini. Hal-hal lama dan kadaluarsa tidak lagi (bisa) dianggap sebagai berita.

Praktik ini tentu saja memengaruhi persepsi publik tentang apa yang penting dan tidak penting. Apa yang penting tapi kadaluarsa menjadi tidak penting karena tidak lagi dilaporkan oleh media massa. Apa yang kurang penting tapi baru dan dilaporkan oleh media massa menjadi (tampak) penting.

Praktik semacam itu juga menyebabkan kedangkalan pemahaman publik atas suatu peristiwa. Karena ada peristiwa-peristiwa baru yang dianggap lebih pantas untuk dilaporkan dan menempati halaman utama pemberitaan di media massa, perhatian terhadap peristiwa lama menjadi berkurang atau bahkan terhenti sama sekali. Diskontinuitas semacam ini pada gilirannya menciptakan pemahaman yang terfragmentasi atas peristiwa yang dilaporkan. Akibatnya, publik menjadi lupa ingatan bahkan menjadi tidak peduli pada hal-hal yang seharusnya penting untuk diperhatikan.

Hal lain yang dapat diamati sering dilakukan oleh media massa adalah penggelembungan dan sensasionalisasi pelaporan sebuah peristiwa karena hal itu dianggap menguntungkan dalam persaingan memperebutkan perhatian konsumen berita. Penggelembungan dan sensasionalisasi itu seringkali dilakukan lewat pemilihan judul berita, penggunaan bahasa, pemilihan gambar, pengulikan karakter secara subjektif serta penonjolan hal-hal yang bersifat emosional yang berkaitan dengan  peristiwa yang dilaporkan. Secara psikologis manusia memang lebih tertarik pada hal-hal yang menyentuh rasa (sensasional dan pengalaman subjektif) ketimbang hal-hal yang objektif dan membutuhkan pemikiran yang reflektif, analitis dan mendalam. Pengetahuan tentang hal ini dimanfaatkan oleh para penjaja berita agar jualan mereka laris, memperoleh rating yang tinggi, dan mendatangkan keuntungan finansial bagi pemilik dan pemodalnya.

Benar, profesi dan industri jurnalisme diatur oleh kode etik jurnalisme yang mengontrol kecenderungan-kecenderungan semacam itu. Namun pembaca yang kritis dapat melihat bahwa praktik-praktik semacam itu tidak hilang sama sekali karena keberadaan kode etik itu. Kecenderungan-kecenderungan semacam itu tetap ada. Hanya derajatnya saja yang berbeda-beda dari satu media ke media lain.

Saya senang bahwa masih ada teman saya yang mempersoalkan pemberitaan kasus Mirna versus kasus Salim Kancil. Saya mengangkat takzim untuk dia, yang nurani dan rasa keadilannya tidak mati terbungkam oleh deru mesin-mesin pemberitaan yang bergulir mengikuti iramanya sendiri.

 

2 pemikiran pada “Wayan Mirna, Salim Kancil dan Praktik Jurnalisme

  1. Bisa juga karena lokasi kejadian berbeda, Pak. Satu di Jakarta, satunya lagi di daerah. Mungkin pemberitaan tentang Salim Kancil masih dikabarkan di media lokal setempat.
    Seingat saya pemberitaan terakhir mengenai Salim Kancil sudah masuk ke tahap penetapan tersangka. Mungkin dari situ tidak banyak hal yang bisa digali untuk dijadikan berita lagi ketika sudah ada yang ditetapkan sebagai tersangka. Pemberitaan tentang Salim Kancil bisa diangkat kembali jika sudah masuk tahap pelimpahan berkas perkara ke kejaksaan (P21), sidang perdana terdakwa, sampai pada tahap sidang penjatuhan vonis kepada terdakwa.
    Sementara kasus kopi sianida di satu sisi memang menarik untuk diberitakan. Salah satunya karena motif tersangka Jessica membunuh temannya sendiri yang sampai hari ini belum terungkap. Berbeda dengan Salim Kancil yang sudah hampir dipastikan penyebabnya. Publik juga ada yang yakin dan meragukan kebenaran bahwa Jessica-lah yang tega menghabisi Mirna. Ada yang menyangka Jessica tidak mungkin tega. Ada yang menuding Jessica seorang psikopat, dll.

  2. saya suka mengamati media online indonesia sambil membanding-bandingkan dengan media barat, sekarang itu jadi lebih mudah bagi media untuk mengenali ciri-ciri topik yang bakal jadi trend (thanks to technology) bahkan hampir semua media online indonesia punya yang namanya artikel paling popular atau sejenisnya di homepage nya, agak lucu saja sih kadang yang muncul di list itu artikel-artikel dengan judul mr P/V dll (saya menulis komen ini sambil buka kompas.com dan dari 10 artikel terpopular di situ, Jessica menempati urutan 1,2,3,5,6,7)

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s