Senggama Penulis


Tak ada ide. Titik.

Hasrat menulis bisa pupus cuma karena itu?

Tidak juga. Bahkan ketika ide itu pun ada, kita seringkali terseok-seok untuk mengembangkannya, agar ia mekar dalam kata-kata yang tak cuma ide. Dan ketika ia sudah mekar dan menjadikan kata-kata sebagai tubuhnya pun, kita juga masih dihadapkan pada persoalan merangkaikannya menjadi tubuh yang tak sekedar tubuh, tapi tubuh yang hidup, bernyawa, bergerak, berkata-kata dan bernyanyi dalam irama yang dapat menyentuh tubuh-tubuh hidup di sekitarnya. Karena menulis adalah proses menyentuh: menyentuh akal, menyentuh hati, menyentuh kehidupan; maka, menulis adalah proses memindahkan nyawa – dari si penulis kepada kata-kata dan dari kata-kata kepada pembacanya.

Menulis tak ubahnya seperti proses mengandung. Seorang perempuan tak mungkin mengandung tanpa suami yang menanamkan benih-benihnya di rahimnya. Seorang penulis pun tak mungkin mengandung tanpa benih-benih yang ditanamkan oleh semesta – segala pengalaman, pergaulan, bacaan, dan semua yang teramati oleh inderanya. Sentuhan semesta itu lalu masuk ke dalam rahimnya, bersenggama dengan benih-benih yang telah ada di dalam dirinya, lalu menimbulkan getar-getak orgasmik yang menumbuhkan janin kreasi dan kehidupan baru. Janin itulah ide. Dan dalam rahim penulis yang mengandungnya, dengan darah dan nafasnya, ia tumbuh dari sebuah titik menjadi tubuh yang bertangan, berkaki dan berkepala. Seperti janin yang dikandung oleh seorang perempuan, ketika saatnya tiba ia pun akan lahir menyapa dunia, hidup, tumbuh dan memiliki kehidupannya sendiri.

Tulisan adalah anak-anak penulisnya. Tapi seperti anak-anak kita, mereka akan tumbuh dan memiliki sifat dan kehidupan mereka sendiri. Sebagian akan menjadi anak yang tumbuh sehat, cerdas, berbudi dan berguna bagi sesamanya. Sebagian yang lain akan merana dan terhenti pertumbuhannya karena mereka tak tumbuh di lingkungan yang semestinya atau ditanam di tempat yang salah, terkontaminasi dan terpajan polusi, lalu sakit dan menimbulkan penyakit bagi masyarakatnya.

Seperti sakit seorang perempuan yang melahirkan bayinya, seorang penulis pun merasakan mulas-mulas, kontraksi, ketegangan dan rasa sakit yang menggigit saat melahirkan karyanya.

Begitulah penulis menulis. Begitulah bagaimana tulisan lahir, lalu memiliki kehidupannya sendiri.

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s