kebenaran


Saya sengaja menulis judul di atas tanpa kapital (kebenaran, bukan Kebenaran) karena Kebenaran dengan K besar bukan ranah kita. Kita manusia, yang hidup dalam dunia yang fana, tak mungkin mencapai Kebenaran yang kapital, agung dan singular karena kita adalah manusia, dan karena kita hidup di dunia yang fana (maafkan saya atas penggunaan circular logic ini).

‘kebenaran’ (dengan k kecil) pada manusia dan semestanya yang fana bergantung pada banyak hal: jatidiri, pemahaman dan tafsir, lingkungan dan pengalaman,  kepentingan dan lain-lain hal yang melingkupi eksistensi kita.

Jika jatidiri kita adalah A, maka kita akan cenderung menganggap bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan A lebih benar dan lebih utama dibandingkan dengan yang bukan A. Persepsi sekelompok orang yang seusia, sesuku, seagama (atau sealiran), sebangsa, sependidikan, segolongan ekonomi, terhadap kelompok-kelompok yang berbeda dengan diri mereka sendiri, misalnya, cenderung bias. Secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi, selalu ada sikap “kami lebih benar, lebih utama dibandingkan kalian.” Barangkali kebenaran seperti ini bisa dianggap sebagai kebenaran ‘etnosentris’ atau kebenaran ‘sirkumferensial'(?)

‘kebenaran’ (dengan k kecil) juga sangat dipengaruhi oleh pengetahuan dan pemahaman kita atas sesuatu. Orang-orang yang memiliki cakrawala pengetahuan yang lebih luas, lebih luas pula pemahaman dan tafsirnya atas sesuatu hal. Sebaliknya, orang yang cakrawala pengetahuannya sempit, akan sempit pula pemahaman dan tafsirnya atas hal yang sama. Bagi orang yang bercakrawala luas, pandangan orang yang bercakrawala sempit adalah salah. Demikian juga sebaliknya, orang yang bercakrawala sempit akan menganggap pandangan orang bercakrawala lebih luas sebagai suatu kekeliruan karena dia tak mampu melihatnya. Persepsi tentang ‘kebenaran’ yang seperti ini tidak hanya dipengaruhi oleh luas-sempitnya cakrawala pengetahuan, namun juga oleh jenis-jenis pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang. Ahli di bidang A tentu tak melihat persoalan di bidang B dengan cara dan intensitas yang sama dengan cara dia memandang persoalan di bidangnya sendiri. Inilah kebenaran disipliner.

Selain pengetahuan, lingkungan dan pengalaman adalah hal lain yang memengaruhi persepsi kita tentang ‘kebenaran’. ‘Wadah’ kita dan segala sesuatu yang kita alami dalam kehidupan sehari-hari membentuk cara padang yang khas tentang dunia kita. Dan itulah kacamata yang kita pakai dalam mengategorisasikan dan dan memaknai segala sesuatu, termasuk apa yang dianggap baik dan tak baik, benar dan salah. Ini kebenaran kultural.

Kepentingan pun bisa menjadi medan perseteruan tersendiri tentang kebenaran. Apa yang  menguntungkan kepentingan kami, benar bagi kami. Apa yang tak menguntungkan kepentingan kami, salah dan perlu kami lawan. Ini kebenaran politis.

Selain hal-hal itu, tentu masih ada hal-hal lain yang memengaruhi persepsi kita tentang kebenaran. Salah satunya, dan yang menurut saya menjadi penghalang terbesar dan tak terlampaui dalam upaya kita memahami Kebenaran (yang kapital dan singular), adalah bahasa. Kita berpikir menggunakan bahasa, mempersepsi dan memahami segala sesuatu melalui bahasa. Segala sesuatu yang kita ketahui ada karena bahasa. Ia memberi kita alat untuk memahami, tapi membatasi apa yang dapat kita pahami karena sifatnya yang terbatas dan membatasi. Tanpa bahasa tak ada realitas dalam kehidupan kita. Namun realitas yang dihadirkan oleh bahasa adalah realitas yang terfragmentasi, parsial dan tak utuh karena sebagai suatu sistem, bahasa itu sendiri terdiri dari kotak-kotak yang  menciptakan kategori, sekat dan pembatas antarhal-hal yang ada di dalam dirinya sendiri maupun antara dirinya dengan hal-hal di luar dirinya. Bahasa mampu mendamaikan namun juga menciptakan pertentangan. Bahasa memiliki kontradiksi di dalam dirinya sendiri. Oleh karena itu, ia tak mungkin menghadirkan Kebenaran (dengan K besar), hanya kebenaran-kebenaran (dengan k kecil).

Lalu, apa itu kebenaran?

Di dalam kemanusiaan dan kefanaan kita, ‘kebenaran’ hanyalah apa yang kita yakini sebagai benar, dengan atau tanpa bukti. Selama kita masih berbahasa (dan mencoba memperdebatkan kebenaran itu melalui bahasa) dan selama kita masih berada dalam lingkaran-lingkaran kita masing-masing (golongan, pengetahuan, pengalaman, dan lain-lain) yang menjadi penanda bagi kefanaan kita, maka kita tak mungkin mencapai Kebenaran sejati.

 

Thank you for reading. I'd love to hear from you.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s